Selasa, 08 November 2016

SULUK SERAT KALA DUSTA




 Kejujuran di zaman  ini sulit kita temukan disekitar kita, tengok diri kita, komunitas santri kita banyak orang yang secara lahiriah sudah bisa shalat, tapi mereka belum bisa jujur dalam solatnya sehingga shalatnya belum mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar.
 Ketika kita berdiri shalat, kemudian kita mengangkat tangan sambil mengucap ‘Allahu Akbar’, sebagai pengakuan lisan kita atas ke Maha Besaran Allah, tapi ternyata tidak semua kita berlaku sama dengan pengakuan lisan kita tersebut, kita masih sering lebih mementingkan hal lain selain Allah, kita lebih mementingkan atasan, kita lebih mementingkan pekerjaan, dan bahkan kita lebih mementingkan panggilan handphone dari pada panggilan Allah lewat kumandang adzan…, kita sering lihat bagaimana seorang pengendara sepeda motor berhenti seketika manakala handphonenya berdering, tapilebih sering lagi melihat para pengendara motor tetap melajukan kendaraannya meski kumandang adzan mengiang dari masjid yang tepat berada disisinya, ini sebuah indikasi ketidak jujuran kita terhadap apa yang kita ucapka. Kemudian, setiap kali kita membaca do’a iftitah, kita berikrar ‘inna shalati wa nusuki wama yahya wamamati lillahi rabbil’alamin”. tapi ternyata masih banyak diantara kita yang shalatnya hanya sekedar pamer dan riya, masih banyak diantara kita yang hidupnya diabdikan untuk kepentingan nafsu dan dunianya, masih banyak diantara kita yang rela mati bukan untuk Allah, ini juga sebuah indikasi kita belum bisa jujur, ini adalah sebuah dusta. Selanjutnya, kita membaca Iyyakana’ budu wa iyya kanatsta’in”. tapi ternyata masih banyak diantara kita yang kemudian menyembah dan meminta pertolongan pada orang pintar, pada dukun, pada paranormal, bahkan ada yang terang-terangan bersekutu dengan jin dan setan demi kepentingan nafsunya, ini adalah indikasi ketidak jujuran, ini adalah sebuah dusta.
‘Dan ketika kepada Allah saja kita berani tidak jujur, ketika shalat saja tidak jujur, ketika pada diri kita saja sudah tidak jujur, bagaimana kita bisa berharap kita ini untuk bisa jujur dalam pekerjaan, bagaimana kita bisa berharap pada diri ini untuk jujur dalam mengelola jabatan, bagaimana kita bisa berharap pada diri ini untuk bisa mengemban amanah dan tidak korup.
 Mungkin sekarang ini telah terjadi krisis kejujuran. Inilah zaman yang tertelan dalam ketidak jujuran, dari fenomena yang terpampang didepan mata kita,  rasanya kita harus legowo untuk mengakui bahwa memang adanya sebuah krisis pada sebagian kita untuk mengamalkan sikap jujur, dan kemerosotan sikap jujur inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab menjamurnya berbagai persoalan yang sedang mendra kita saat ini Lihat saja banyak kantor yang harus memasang kamera CCTV disetiap ruangannya, karena disinyalir ada karyawan yang tidak jujur, baik itu dalam pekerjaan atau tidak amanah dalam mengelola asset perusahaan. Bahkan ada banyak istri yang tidak percaya lagi argument suaminya, karena mungkin sudah sering kali suaminya tidak jujur, sebaliknya sang suami menjadi orang yang mudah curiga terhadap istrinya, semuanya diakibatkan oleh adanya ketidak jujuran, baik itu secara langsung atau tidak
banyak sekali fenomena seperti itu, bahkan dalam keseharian, ada banyak orang yang tidak mampu bersikap jujur pada dirinya sendiri, seperti misalnya memaksakan diri untuk ikut trend dan mode, padahal kemampuannya tidak menunjang untuk itu, ada juga orang yang memaksakan harus bawa handphone bermerk, kendaraan bagus, meski untuk itu ia harus menipu dirinya sendiri, denga berhutang, dengan pinjam kiri kanan, bahkan ada yang rela menggadaikan kehormatan dan harga dirinya hanya untuk dapat tampil oke dimata orang lain
 Dan bahaya terbesar dari dusta ini adalah akan lahirnya dusta-dusta susulan, misalnya sekali waktu kita berkata tidak jujur pada istri, kita cenderung akan melakukan dusta berikutnya untuk menutupi dusta kita yang dulu, begitu seterusnya, dusta selamanya akan mengantar seseorang pada jurang kehancuran, sebaliknay kejujuran akan menhantar manusia kepada kemulyaan Olehkarena itu pelihara kejujuran kita senantiasa, karena dengan kejujuran itulah seorang Abu Bakar demikian istimewa dimata para sahabat, bahkan Baginda Rasul pun dikenal karena perilakunya yang jujur lagi terpercaya, sehingga beliau mendapat gelar Al Amin, jauh sebelum beliau diangkat jadi rasul
Jadi salah satu keteladanan dari rasul adalah sikap jujur dan terpercaya ., sifat utama Rasul adalah Shidiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah, maka barang siapa mengaku umatnya, dan mengaku ahli sunnahnya, maka bersikap Jujur adalah sesuatu yang mutlak harus ada pada dirinya, bohong besar orang mengaku ahli sunnah tapi masih gemar berdusta, bohong besar orang yang mengaku ahli hadits, tapi mengingkari sifat utama rasul, yaitu jujur, terpercaya, terbuka dan cendekia. Semoga\mbah yayin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar