Rabu, 09 November 2016

Raktek Sabar dan Ikhlas (sebuah pendekatan )



 
Kadang sering kita dihadapkan pada perlakuan yang tidak adil, baik itu oleh orang tua sendiri, oleh atasan atau juga teman dalam sebuah komunitas. Bahkan ketidakadilan dari penguasa yang berwenang akan lebih terasa. Tentunya disinilah dibutuhkan sikap dan kearifan dalam menerimanya. Maka nya dibutuhkan berbagai pendekatan bagai mana kita bisa berlaku sabar dan ikhlas. Memanaj perilaku kita  untuk Sabar dan Ikhlas dalam hidup ini sangat dibutuhkan kearifan dalam menerima semua keadaan, dan itu memang tidaklah mudah, kearifan dalam berpikir dan bertindak datangnya dari kebersihan jiwa yang bersumber dari hati. Untuk itu lakukannla4 poin dibawah ini :
1.      Berpikir positif adalah salah satu cara untuk berlapang dada dalam menerima keadaan tersebut, sebaliknya keluh kesah malah akan membuat kita semakin terpuruk dalam perasaan.
2.      Bersikap optimis agar keadaan tersebut cepat terkendali, adalah juga merupakan cara untuk menjauhkan diri dari keputus asaan dan rasa frustasi. Sebagai mahluk sosial yang berintegrasi dan berinteraksi antar sesama dalam sebuah komunitas masyarakat yang majemuk, sering kita terjebak pada ego pribadi, sehingga kita lebih ingin orang lain memahami diri kita ketimbang kita memahami orang lain, kadang juga asyik dengan diri sendiri sehingga tidak peduli dengan keadaan disekitar kita. Hal-hal seperti inilah yang sering menyebabkan kita pada akhirnya bersinggungan antara satu dengan yang lainnya.
3.       Bangun Kearifan diri, Membangun kearifan adalah upaya untuk menumbuhkan sikap bijak dan berjiwa besar, melatih diri dalam kesabaran, juga melatih diri untuk senantiasa bersifat ikhlas dalam menerima keadaan. Tapi semua ini tentunya dibarengi dengan ketaatan dan keyakinan pada Sang Maha Penguasa dan Maha berkehendak.
4.      Penyerahan diri dengan ketaqwaan. Memang penyerahan diri dengan ketaqwaan bukanlah sekedar kepasrahan. Jiwa yang senantiasa ikhlas adalah jiwa yang penuh kekuatan dan tidak mudah rapuh karena keadaan, adalah jiwa yang penuh kearifan dan ketaqwaan. Sangat sadar akan kelemahan dan kekuatannya, selalu melihat kedalam diri dan bercermin pada kebenaran yang di digariskan-Nya.
Namun perlu diingat instrospeksi diri merupakan upaya,selalu melihat terhadap segala kelemahan dan kekuarangan diri masalalu adalah langkah awal agar kita lebih dapat berhasil untuk melakukan perobahan.  Semoga\mbah yayin



Tidak ada komentar:

Posting Komentar