Rabu, 30 November 2016

PENDEKATAN SWOT DALAM MINHAJ AL ABIDIN IMAM GHOZALI




Imam Al Ghazali menulis sebuah buku yang diberi judul Minhajul Abidin, yaitu tentang 7 tangga untuk sempurnakan ibadah. Ke tujuh tangga tersebut adalah tangga ilmu dan makrifat, tangga tobat, tangga godaan, tangga rintangan, tangga pendorong, tangga celaan, tangga puji dan syukur. Apabila kita berhasil melampaui tujuan tangga tersebut, Insya Allah ibadah kita akan sempurna.
Ternyata setelah penulis cermati, ke tujuh tangga tersebut pas betul dengan prinsip SWOT ( strength, weakness, opportunity dan threat ), yang dalam ilmu management dipakai untuk memperbaiki kinerja sumber daya manusia, kegiatan maupun organisasi
Maka apabila ke tujuh tangga tersebut di kemas ulang dalam formula SWOT hasilnya adalah sebagai berikut :
 Strength / Kekuatan ,
Faktor-faktor yang menjadi kekuatan dalam beribadah yaitu apa yang disebut dalam Minhajul Abidin, pertama ; ilmu dan makrifat dan kedua pendorong.
Pertama , ilmu dan makrifat.
Sabda Rasulullah saw, “Ilmu adalah imamnya amal dan amal adalah makmunnya, Allah memberikan ilmu kepada orang-orang yang berbahagia, tidak kepada orang-orang celaka  (H.R. Abu Nuaim, Abu Thalib Al-Makki, Al-KHatib, dan Ibnu Qayyim). Mengapa harus berilmu? Pertama agar berhasil dan benar dalam beribadah, kedua orang yang berilmu tidak akan mudah tertipu. Dengan ilmu kita mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.
Sedangkan makrifat adalah ilmu untuk mengenal 4 perkara , yaitu pertama mengenal dirinya, kedua mengenal Tuhannya, ketiga mengenal dunia dan keempat mengenal akhirat.
Kedua, pendorong meliputi 2 hal yaitu takut (khauf) dan raja’ (harap).
Allah Ta’ala berfirman :” tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman” ( QS, Ali Imran:175 ). Berarti khauf merupakan syarat iman. Seseorang tidak dikatakan beriman jika tidak takut kepada Allah Swt. Takut kepada Allah berarti takut kepada nerakanya Allah dan takut kepada azabnya Allah. Dengan takut kepada Allah akan memberikan kekuatan bagi kita untuk beribadah.
Sedangkan raja’ (mengharap) ialah bersenang hati karena mengenal Allah, lapang pikirannya karena yakin akan lapangnya rakhmat Allah. Lawan raja’ adalah putus asa dari rakhmat Allah dan berhenti mengingat Allah. Dengan raja’ hati menjadi hidup. Harapan akan memperoleh kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat juga akan memberikan kekuatan dalam beribadah.
 Weakness / Kelemahan,
Faktor-faktor yang menjadi kelemahan kita dalam beribadah yaitu apa yang disebut dalam Minhajul Abidin sebagai godaan dan celaan.
Dalam beribadah seseorang harus dapat menahan diri dari segala macam godaan yang membuatnya bimbang dan wajib membedakan mana yang lebih baik dan mana yang kurang baik,  serta membuang segala sesuatu yang sekiranya dapat merusak dan  merugikan ibadah sehingga menjadi tercela.
Ada 4 macam godaan, yaitu pertama rezeki dan tuntutan hawa nafsu, kedua berbagai macam bahaya, ketiga takdir dan keempat kesulitan dan musibah. Sedangkan celaan ada 2 macam, yaitu riya’ dan ujub.
Pertama, rezeki dan tuntutan hawa nafsu ;
Setiap muslim seharusnya menggantungkan diri kepada Allah dalam urusan rezeki dan tuntutan. Orang yang tidak menggantungkan diri kepada Allah tidak akan beribadah dengan baik, karena pikirannya selalu terpusat pada rezeki, kebutuhan, dan urusan-urusan lain. Ia selalu sibuk memburu rezeki, ia selalu memikirkan rezeki dengan perasaan waswas. Pada akhirnya ia tidak peduli lagi apakah rezekinya itu diperoleh dengan cara yang halal atau tidak. Cara mengatasinya tidak lain hanyalah dengan bertawakal.
Allah berfirman :
“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki “ (QS Adz Dzariyat : 58}“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya “ (QS Hud :6 )
Kedua, berbagai macam bahaya ;
Ada 2 bahaya yang mengharuskan kita menyerahkan segala sesuatu kepada Allah.
Pertama , bahaya yang timbul dari sikap ragu-ragu ketika menginginkan sesuatu. Sehingga dalam pelaksanaannya perlu mengucapkan Insya Allah. Meskipun yang demikian tidak termasuk tafwid, melainkan menyangkut niat dan amalan.
Kedua, bahaya merusak, yaitu suatu perbuatan yang tidak diyakini adanya maslahat. Jadi perbuatan tersebut harus ditinggalkan, karena kemungkinan perbuatan yang dilakukan mengandung dosa. Untuk mengatasi kedua bahaya tersebut caranya hanyalah tidak lain berserah diri kepada Allah.
Ketiga, takdir; sebagai hamba Allah kita harus ikhlas menerima takdir-Nya, bagaimanapun keadaannya. Seseorang yang tidak ikhlas (rela) menerima takdir Allah, hatinya selalu diliputi kesedihan. Sehingga ia selalu berkeluh kesah dan mengeluh. Akibatnya ia tidak berkonsentrasi untuk beribadah kepada Allah Swt. Ia tidak lagi sempat berzikir kepada Allah dan tidak ada waktu lagi memikirkan akhirat. Orang yang ragu-ragu dan tidak ikhlas menerima takdir Allah, mengadu kesana kemari, berarti mengadukan Tuhan Yang Maha Mulia.
Keempat, kesulitan dan musibah; dunia ini tempat ujian bagi manusia. Setiap manusia pasti mengalami berbagai cobaan dan musibah. Dalam menghadapi semua cobaan itu kita harus bersabar dan tahan uji. Orang yang tidak bersabar, tidak tahan uji, tidak akan sampai ke tujuan. Sebab seseorang yang sudah berniat hendak beribadah pasti akan menghadapi berbagai ujian dan kesukaran.
Kelima riya’ ; riya artinya setiap amalan yang kita kerjakan ingin dilihat orang lain dengan harapan mendapatkan pujian. Riya’ termasuk syirik kecil dan dapat merusak ibadah. Setiap amalan hendaknya dilandasi keikhlasan dan semata-mata karena Lillahi Ta’ala.
Keenam ujub ; ujub artinya sombong. Sifat sombong dapat mengarah kepada takabur. Ujub juga berarti mengagungkan diri, atau menganggap agung amal yang telah dilakukan. Ujub menghalangi taufik dan takyid dari Allah. Sesorang yang tidak mendapat taufik dan takyid dari Allah akan mudah celaka. Ujub juga dapat merusak amal saleh dan menyebabkan hilangnya manfaat ibadah.
  Opportunity / peluang,
Faktor-faktor yang menjadi peluang kita dalam beribadah adalah pertama mendapat maghfirah (ampunan) dari Allah Swt dan kedua limpahan rakhmat dan karunia Allah.
Pertama, ampunan Allah Swt :
Untuk mendapatkan ampunan dari Allah Swt caranya adalah dengan bertobat.  Mengapa harus bertobat ? Pertama, agar kita taat. Kedua, agar ibadah kita diterima Allah Swt.
Rasulullah Saw bersabda : “ Yang baik diantara kamu adalah yang sering tergoda tetapi selalu bertobat, selalu kembali kepada Allah dengan perasaan menyesal atas dosanya dan dengan disertai istighfar”.
Kedua, limpahan rakhmat dan karunia Allah :
Untuk mendapatkan limpahan rakhmat dan karunia Allah Swt caranya dengan selalu bersyukur kepada Allah Swt. Mengapa harus bersyukur ? Pertama, agar kenikmatan yang sangat besar yang diberikan Allah Swt tetap dikekalkan, sebab bila tidak disyukuri akan hilang. Kedua agar nikmat yang telah kita dapatkan akan bertambah.
Allah Swt berfirman : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi kalau kalian kufur, ingatlah sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih “ . (QS   Ibrahim :7 ). Sesungguhnya syukur itu adalah mengagungkan Allah Yang Memberi Nikmat, yakni mengukur nikmat-Nya agar kita tidak menjauhi diri dan tidak bersifat kufur.
 Threat / Ancaman/ Rintangan,
Faktor-faktor yang dapat menjadi rintangan dalam beribadah ada empat, yaitu pertama dunia, kedua mahkluk, ketiga syaitan dan keempat nafsu.
Pertama, dunia dan isinya ;
Yang dimaksud dunia di sini adalah semua yang tidak punya manfaat di akhirat. Allah Swt berfirman : “ Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui “ ( QS Ankabut : 64 ). Kehidupan kita di dunia hanya sekerdipan mata dibanding kehidupan akhirat. Tetapi banyak manusia lupa. Siang malam, seorang sibuk mencari bekal dunia, dan hatinya tergoda oleh bermacam keinginan dan hawa nafsu. Keduanya akan merintanginya untuk beribadah. Sebab perhatiannya hanya satu, yakni dunia. Sekarang ini dunia memang nyata dan akhirat masih ghaib. Nanti adalah sebaliknya, akhirat yang nyata dan dunia ghaib. Allah Swt juga berfirman : “ Dunia ini ladangnya akhirat “. Apa saja yang kita usahakan di dunia, hasilnya akan kita petik di akhirat. Sabda Rasulullah Saw : “ Barangsiapa mencintai dunia, urusan akhiratnya akan tercecer. Dan barang siapa mencintai akhirat, akan berkurang dunianya. Dan pilihlah yang kekal daripada yang cepat binasa”. ( H.R. Bukhari dan Muslim ). Salman Al- Farisi r.a berkata, ‘Sesungguhnya jika hamba Allah berzuhud terhadap dunia, bersinarlah hatinya dengan hikmah, dan anggota badannya saling menolong untuk beribadah’.
Kedua makhluk ;
Kebanyakan makhluk akan menghalangi kita dari beribadah dengan memasukkan kebingungan-kebingungan dalam hati kita. Bahkan terkadang menghalangi dan membawa kita  kepada kejahatan dan kebinasaan. Sebab kebanyakan dari mereka tidak mengetahui hak-hak kehambaan dan hanya mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah.  Untuk akhirat mereka lalai dan tidak memikirkannya. Selain itu kebanyakan manusia dapat merusak ibadah yang telah kita laksanakan. Dengan ajakannya yang menjurus kepada perbuatan riya’ dan bermegah-megahan jika tidak ada perlindungan dari Allah.
Ketiga, setan :
Setan adalah nyata-nyata musuh yang menyesatkan. Dirinya tidak dapat diharapkan adanya kebaikan dan perdamaian, sebab mereka akan puas jika mampu membinasakan kita. Allah Swt berfirman :” Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu… “ ( QS Al Fatir : 6 ). Sudah menjadi tabiat setan untuk selalu memusuhi anak cucu adam. Sedangkan kita sering lalai akan hal itu.
Guna memerangi dan mengalahkan setan menurut pendapat ulama ada tiga cara ;
Pertama , harus mengetahui tipu daya setan, sehingga dia tidak akan berani mengganggu kita. Kedua, anggap remeh ajakan setan, jangan memberi perhatian dan menghiraukan ajakannya. Setan ibarat anjing menggonggong, jika dilayani ia akan terus menggonggong. Ketiga, berzikir dengan lisan maupun hati. Sabda nabi Saw : ‘ Sesungguhnya zikrullah itu menyakitkan setan. Seperti menderitanya anak Adam dengan penyakit yang bersarang di lambungnya “
Keempat,hawa nafsu :
Kita harus berhati-hati terhadap dorongan hawa nafsu yang akan menyeret kita berbuat kejahatan. Oleh karena itu kita harus waspada karena hawa nafsu merupakan musuh dari dalam selain hawa nafsu juga adalah musuh yang disukai. Nabi Yusuf As mengatakan : “ Dan aku tidak akan membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu memerintahkan berbuat kejahatan, kecuali nafsu yang diberi Rakhmat oleh Tuhan-ku. Sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ ( QS Yusuf : 53 ). Kita harus mampu mengendalikan nafsu dengan niat yang kuat dan menahan diri (wara’) dari perbuatan maksiat dan tidak berlebih-lebihan. Caranya adalah dngan menjaga lima anggota tubuh ; yakni mata, telinga, lidah, hati dan perut. Mata harus benar-benar dipelihara dan dikendalikan, karena seringkali menjadi pangkal timbulnya fitnah dan penyakit sejenisnya. Allah Swt berfirman : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS An Nur : 30 ). Telinga jangan sampai mendengar perkataan-perkataan kotor, hina dan yang tidak bermanfaat. Mendengarkan sesuatu dapat menimbulkan dorongan hati dan perasaan waswas. Mulut adalah anggota tubuh dan indera yang paling usil dan paling banyak menimbulkan kerusakan. Untuk mempertahankan amal saleh adalah dengan memelihara lisan. Sebab jika lisan tidak terkendali, ia akan cenderung berbuat yang tidak karuan, mengumpat orang misalnya. Sebagian ulama berpendapat :’ Barangsiapa banyak bicara, akan banyak pula lidahnya tergelincir. Dan mengumpat ibarat halilintar yang menghapus taat’. Hati adalah bagian tubuh manusia yang paling besar bahayanya, pengaruhnya paling kuat, masalahnya paling pelik dan sukar. Paling halus dan sulit memperbaikinya. Hati ibarat raja yang ditaati dan pemimpin yang disegani. Seluruh anggota badan ibarat rakyatnya. Jika hatinya baik, baiklah seluruh anggota badan, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw : “ Sesungguhnya dalam jasad manusia terdapat segumpal darah yang apabila keadaannya baik, baik pula seluruh anggotanya. Dan jika keadaanya rusak, akan rusak pula seluruh anggota badannya “. Perut, wajib dijaga bagi orang yang hendak melaksanakan ibadah. Wajib bagi kita untuk memelihara perut dari makanan yang diharamkan, selain menjaganya agar tidak berlebih-lebihan.Orang yang makan makanan haram dan subhat tidak akan diberi taufik dalam beribadah dan terhalang berbuat kebaikan. Sedangkan memakan makanan halal berlebih-lebihan menyebabkan hati menjadi keras, akal dan pikiran menjadi sempit dan malas beribadah.
Demikianlah SWOT untuk menyempurnakan ibadah yang merupakan kemasan ulang Minhajul Abidin karya Imam Al Ghazali dan mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita dan kita niat untuk mengamalkannya

sekitar minhajul abidin

Selasa, 29 November 2016

SECUIL MAKRIFAT NAMUN BUAHNYA ABADI........



Titik sebuah konversi
Yang tertanam dalam benak kita pengamalan pejalan spiritual itu seharusnya melalui proses linier dan berjenjang dari level syariat, menuju tarekat, lalu menuju hakikat, dan akhirnya mencapai kesadaran makrifat. Namun kenyataanya pada kebanyakan babak perjuangan pencapaian, ternyata mereka yang getol pada syariat tidak juga naik naik tingkat ke level spiritual yang lebih tinggi, malahan semakin menjadi-jadi membuat diskriminasi komunal dan tak henti-henti membelenggu kebebasan berpikir dan keragaman. Seharusnya perjalanan spiritual itu meneladani Rasulullah, melangkah bukan dari level syariat dulu, tapi dari makrifat dulu. Heh,…dan itu pula yang dialami oleh para nabi dan orang-orang suci. Mereka mendapat pencerahan spiritual terlebih dahulu barulah mereka dapat menjalani kehidupan-kehidupannya yang lebih riil dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kesadaran makrifat adalah kesadaran sejati yang membuat seseorang menyadari dirinya sebagai manusia seutuh-utuhnya... Dan begitu pula yang dialami oleh para nabi dan orang-orang suci. Mereka mendapat pencerahan spiritual terlebih dahulu barulah mereka dapat menjalani kehidupan-kehidupannya yang lebih riil dan menjadi inspirasi bagi banyak orang... Dalam bahasa keagamaan kesadaran makrifat ini biasanya disebut wahyu, dalam bahasa spiritual biasanya disebut dengan pencerahan atau divine conciousness, sedangkan orang sekuler mungkin menyebutnya inspirasi atau vision. Tidak mudah untuk mencapai kesadaran makrifat, tetapi juga tidak susah, sebab kita tidak perlu menjadi sempurna dulu untuk mendapatkan secuil kesadaran makrifat. Ya, secuil kesadaran makrifat kalau direspons sungguh-sungguh akan mampu memantik tindakan besar, mengubah pola pikir, sikap dan perilaku seseorang konversi. Jadi kesadaran makrifat itu ada di mana-mana, kita tinggal mengasah kepekaan untuk menangkap kesadaran makrifat itu. Yudhistira telah menemukan kesadaran makrifatnya ketika bertemu bangau Yaksa, ibnu Abdullah menemukan kesadaran makrifatnya dengan Iqra’ setelah bertemu dengan jibril di Gua Hiro’, Sidharta Gautama telah menemukan kesadaran makrifatnya di bawah pohon bodhi,. Aristoteles menemukan kesadaran makrifatnya dari telur-telur ikan di dalam lumpur, Jesus menemukan kesadaran makrifatnya saat berpuasa di padang gurun, , Newton menemukan kesadaran makrifatnya dari apel yang jatuh, dan masih banyak lagi orang-orang besar yang lahir dari secuil kesadaran makrifat mereka. Bagai mana dengan kita. Mau yang regular.luama tak tercapai apa berani nekat trabas libas./mbah yayin

Kamis, 24 November 2016

AGAR YANG BAIK TUMBUH DAN BERBUAH BAIK




Imam an-Nawawi mengemukakan, perkara baik tidak akan tetap baik kecuali bila ditunjang dengan perkara baik lainnya. Kita tengok lihal lima perihal kebaikan ini yaitu : akal (kecerdasan), kemenangan/kesuksesan, kekuasaan, kekayaan, dan kemiskinan.

Lima perkara tersebut berdasar pada sabda Rasulullah SAW semuanya baik. Namun, kelima perkara tersebut tidak akan baik tanpa dilengkapi perkara baik lainnya. Maka, siapa pun yang memiliki lima perkara tersebut dianjurkan untuk melengkapinya dengan memiliki perkara baik lainnya.

Pertama, akal (kecerdasan). Tidak diragukan lagi orang yang memiliki kecerdasan adalah orang yang beruntung. Lebih-lebih bila kecerdasan yang dimilikinya itu digunakan untuk mendalami al-Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Kecerdasan itu adalah cahaya di dalam hati/kalbu yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah.”

Tetapi, memiliki kecerdasan itu bisa juga membuat pemiliknya salah kaprah. Oleh sebab itu, yang bersangkutan sangat dianjurkan untuk melengkapinya dengan sifat wara’. Dengan sifat inilah yang bersangkutan dinilai aman dari kemungkinan salah kaprah dalam mengaplikasikan kecerdasan yang dimiliknya.

Kedua, kemenangan/kesuksesan. Orang yang meraih kemenangan/kesuksesan dapat dikatakan orang yang mujur. Tetapi, kemenangan/kesuksesan yang tidak diikuti syukur dan takut kepada Allah justru akan menjerumuskannya ke neraka.

Maka, orang yang meraih kemenangan/kesuksesan dianjurkan untuk syukur dan takut kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis lantaran takut kepada Allah.”

Ketiga, kekuasaan atau jabatan. Kekuasaan atau jabatan adalah amanah yang wajib ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Bila tidak demikian, kekuasaan atau jabatan itu justru akan mendatangkan murka Allah SWT. Dengan begitu, orang yang memiliki kekuasaan atau jabatan wajib mengembannya dengan tanggung jawab.

Rasulullah SAW bersabda, “Manusia yang paling dicintai Allah dan yang paling dekat dari-Nya pada hari kiamat nanti adalah pemimpin yang adil. Manusia yang paling dibenci Allah dan yang paling jauh dari-Nya pada hari kiamat nanti adalah pemimpin yang zalim.”

Keempat, kekayaan. Memiliki kekayaan adalah baik. Tetapi, kekayaan tidak akan manfaat jika tidak didermakan di jalan Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. (Sebaliknya) orang yang kikir itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka.”

Kelima, kemiskinan. Sejatinya kemiskinan itu baik. Abdullah bin Mubarak berkata, “Merasa kaya saat berada dalam kemiskinan lebih baik dari kemiskinan itu sendiri.” Tetapi, kemiskinan itu dapat berubah menjadi kemudaratan bagi yang bersangkutan.
Misalnya, ketika yang bersangkutan tidak menyikapinya secara qana’ah.Rasulullah SAW bersabda, “Jadilah kamu orang yang qana’ah niscaya kamu akan menjadi orang yang paling bersyukur.” Semoga, mbah yayin


Rabu, 23 November 2016

Mencoba meraba mengurai gerak rasa dan memformulakan latihannya mau?.





 Intinya gerak rasa Sadar Allah bagi kebugaran muncul dari inti interaksi motorik af’al ragawi (mau diri) dan afa’al ilahyah atau kita kenal dengan afa’al spiritual Sadar Allah (Pasrah). Kalo saya boleh gambarkan bagaimana seorang yang memghidupkan gerak rasa sadar Allahinya mampu mengakomodir dua kekuatan itu . Seperti pengenalan konsep Menurut pak Setyo Purwanto Padepokan Patrap Nusantara Gumppang Solo, pada tampilan yuotube yang beliau unggah tentang gerak rasa beliau, bertumpu pada dua inti kekuata yakni :
1. Bagaimana kita mengendalikan gerak yaqin kita Kesadara diri kita secara ragawi,  ini kalo boleh saya gambarkan yaqin ini sebagai kekuatan minus pada decode elektrik, dan
2. gerak sadar Allah kita lurus dari Allah ini yakni kesadaran kita yang total pasrah dan lurus ke Allah semata. Yang mempunya sifat konstan dan diam, disini dapat saya gambarkan sebagai kekuatan ples pada decode elektrik.
Maka ketika ter jadi titik persinggungan antar dua kekuatan itu akan menghasilkan percikan kekuatan gerak, lompatan lompatan percikan kekuatan itu akan sangat bergunabagi tubuh kita untuk memantik energy dan stamina tubuh agar mampu lebih berdaya guna dengan bertambahnya keimanan dan pasrah kita kepada Allah yang tiba gilirannya akan sangat berguna membangkitkan kebahagiaan sejati gak bikin bikin sekaligus mengembalikan kebugaran tubuh dan juga kesembuhan dari sakit yang kita sandang. Ada ( Pepatah cina “Bergerak adalah obat untuk membuat perubahan terhadap fisik, emosi dan mental seseorang.”)
Faedah gerak rasa Dapat kita analogkan ngecas ( Ngisi )aki kembali.maka gambaran skematisnya akan kita dapiti ketika kita mampu memusatkan kekuatan negatev (masa pada ujung kaki yang tertumpu ke bumi (berpijak) yang terasa berat nggandoli dan ujung tangan sebagi pusat kekuatan ples yang maunya terbang melayang menuju ke Allah semata, maka kita upayakan gerak yang kontradikti akan terasa berat mengendalikannya kalo kita dekatkan akan saling menarik itulah muncunya kekuatan yang kita kenal dengan gerak rasa.
Upaya penyembuhan penyakit seperti dea bĂȘtes, jantung, hiper tensi, asam urat , kolestrol dan menurunkan berat badan telah saya praktekan dapat menyembuhkan sakit jantung.
Disini perlunya sistematika untuk mempermudah mengamalkan pendekatan ini dengan  tujuan yang di harapkan maka perlu di susun pembakuan gerak agar mudah dilaksanakan dan ditirukan  Dengan tahapan tahapan latihan

1. Pendahuluan waktunya bisa 7 menit atau lebih
a. Doa
b.Peregangan
2. Gerak rasa waktunya boleh 20 menit atau lebih
 a. Jinjit- jinjit
b. Songgo lngit rangkai singa jari dua telapak taga acungkan kelangit dengan berbalik arinya telapak yang puti itu keatas seakan akan nyonggo langit
c. Gerak lingkar jagad arahkan kemana telapak tangan kita
 mau pergi meiuk liuk seputar tuh bebaskan ia mau ning tahan kuat kuat agar menghasilkan energy yang kita butuhkan

 a- Bentangkan lengan samping kanan kiri pu satkan tenaga di telapak tangan dengan tegak tahan kendur berulang ulang 15 kali
b- Satukan telapak tangan kanan-kiri denga siku lurus diamkan sampai hitungan lima belas kali c- Luruskan dua lengan dengan telapak pangan menyatu julurkan kedepan ke depan dan lepas
arah berlawanan ikuti gerak tangan kemana ia mauikuti maunya gerak ini dari Allah. dan jangan di lepas namun kendalikan dengan daya yang berlawanan dengan tempo kalem smpai hitungan 60 kali sepr empat menit
d- Lakukan gerak keseimbangan biarkan kaki berdiri di satu kaki dan tetap seperti diatas bergantian hitungan 15 kali e- berdirdiri tegak dan…….
3 Penyadaran kembali waktunya 4 menit
a-      lakukan relaksasi dengan hitungan 25 kali
b-      b- berdoa Alhamdulilah selesai.
Mudah mudahan

Catatan : sebelum masuk latihan inti gerak rasa
1.       rasakan potensi gerak rasa yang telah dapat kitabangun, caranya
a-      Berdiri rilex boleh duduk
b-      Pertemukan dua telapak tangan sejajar siku di depan dada  gaya semadi neng jangan mepet agak jauhkan kedepan
c-       Renggangkan menjauh 30 cm pelan pelan
d-      Upayakan kembalikan  jangan sampai beradu dengan kuat kuat dan tahan kuatkuat lakukan dengan cepat  dan kuat kuat berkali-kali bertenaga full! rasakan hasilnya ? ada daya tarik menarik yang terasa dan itulah daya gerak rasa……..asyiiiik ada rasa sensasi yang asyiiiik……terus pelihara itu dan pelankan sampai jadi gerakan halus mkasud ku sudak gak ada gerak kocok kocoknya,,, upayakan daya itu disimpan di telapak tangan ikuti kemana gerak kedua telapak tangan itu..uikuti geranya dengan juga anggota badan sampai ke pori pori seakan akan. Kalo dirasa sudah cukup sudahi latihan semoga ber manfaat ya .
Atau mau latihan sama bah yayin? Oke lakukan setiap saat dengan semangat sembuh dan bugar Allah bersama hambaNya yang bersunggug sungguh. Semoga/mbah yayin