Selasa, 09 November 2010

air lautan masing masing arus takna becampur stu sama yang lain

Lautan yang Tidak Bercampur Satu Sama Lain


Terdapat gelombang besar, arus kuat, dan gelombang pasang di Laut Tengah dan Samudra Atlantik. Air Laut Tengah memasuki Samudra Atlantik melalui selat Jibraltar. Namun suhu, kadar garam, dan kerapatan air laut di kedua tempat ini tidak berubah karena adanya penghalang yang memisahkan keduanya.

Salah satu di antara sekian sifat lautan yang baru-baru ini ditemukan adalah berkaitan dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut:

"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing." (Al Qur'an, 55:19-20)

Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan "tegangan permukaan", air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)

Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, hal ini dinyatakan dalam Al Qur’an.

al quran dan penemuan baru

Fenomena Alam

Al-Qur’an yang diturunkan 14 abad yang lalu, telah menyebutkan fakta-fakta ilmu pengetahuan yang baru belakangan ditemukan oleh para ahli ilmu pengetahuan terkemuka. Ini membuktikan tanpa keraguan bahwa Al-Qur’an merupakan kata-kata harfiah dari Allah, yang diwahyukan kepada Muhammad dan membuktikan pula bahwa Muhammad adalah Nabi dan utusan Allah. Tidak mungkin seseorang dari 14 abad yang lalu mengetahui fakta-fakta yang baru saja ditemukan oleh manusia dengan menggunakan peralatan modern serta metode-metode yang canggih.

Diantara sekian banyak fakta ilmu pengetahuan yang kini telah ditemukan oleh para ahli, salah satunya adalah tentang fenomena alam. Beberapa ilmuwan barat maupun timur belakangan telah meyakini bahwa segala fenomena yang telah terjadi di alam ini, dan setelah melalui berbagai macam penelitian mendalam dan menghabiskan waktu bertahun-tahun, ternyata telah dikemukakan jauh sebelumnya pada 14 abad yang lalu dalam Al-Qur’an melalui seseorang bernama Muhammad sang utusan Allah. “Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat dengan keaslian gaya , kebijakan dan kebenaran.” Tutur Rev. R. Bosworth-Smith, pengarang buku Mohammed and Mohammeddanism.

Lebih dari 14 abad yang lalu Al-Qur’an telah mengabarkan “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.” (QS. Al-Anbiya : 30). Prof. Alfred Kroner, sang Guru besar Geologi dan Kepala Departemen Geologi Universitas Johannes Guttenburg Jerman, mengatakan bahwa para ilmuwan baru menyimpulkan fenomena itu beberapa tahun terakhir dengan menggunakan metode tekhnologi maju dan canggih bahwa alam raya ini mula-mula berasal dari suatu kesatuan yang tunggal. Prof. Alfred Kroner pun mengemukakan kekagumannya akan apa yang telah digambarkan Al-Qur’an itu.

Prof. Siaveda, ahli geologi terbaik dari Jepang dalam penelitiannya mengatakan, pegunungan darat dan pegunungan laut keduanya memiliki akar yang terpancang di bumi dan akar itu berfungsi sebagai peyangga gunung-gunung. Prof. Siaveda juga menggambarkan bentuk semua gunung baik yang di darat maupun di laut, adalah berbentuk pasak. Hal ini telah dikemukakan dalam Al-Qur’an dalam surat Annaji’at : 32, “Dan gunung-gunung Ia pancangkan dengan kuat.”. begitu juga dengan “Dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS. An-Naba : 7). Prof. Siaveda, juga mengatakan tentang fungsi-fungsi gunung-gunung itu dan menyatakan bahwa mereka memainkan peranan penting dalam menstabilkan kulit bumi. Dan ini sama persis dengan apa yang digambarkan Al-Qur’an, “Dan Dia memancangkan gunung-gunung di atas bumi, supaya tidak menggoyangkan kamu.” (QS. An-Nahl : 15).

Berkenaan dengan laut dan samudra, Prof. William W Hay, Guru besar Geologi di Universitas Colorado Amerika Serikat, mengatakan bahwa tubuh air tidaklah merupakan laut yang homogen, akan tetapi mereka merupakan laut-laut yang berbeda, yang dibedakan dari derajat keasinan (salinitas/kadar garam), suhu serta kerapatannya, di mana masing-masing tidak bercampur satu dengan yang lain. Rupanya teori ini telah juga dikemukakan dalam Al-Qur’an 14 abad silam, saat belum ditemukan tekhnologi canggih untuk dapat melihat keheterogenannya air laut. Al-Qur’an mejelaskan, “Ia telah membiarkan bebas (maraja) kedua laut saling bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak saling melanggar. (QS. Ar-Rahman : 19-20). Prof. William W Hay mengatakan, ini sungguh keajaiban dari teks kuno yang bernama Al-Qur’an.

Prof. Yoshihide Kozai, Direktur National Astronomical Observatory Jepang, mengatakan bahwa dahulu seluruh cakrawala hanyalah berupa liputan asap. Dan beliau sangat terkesan ketika mengetahui di dalam Al-Qur’an ada satu ayat yang menjelaskan demikian, yaitu “Dan kemudian perencanan-Nya meliputi langit yang masih berupa asap. Ia mengatakan kepadanya dan kepada bumi : bergabunglah, suka atau tidak suka. Mereka berkata : kami bergabung dengan tunduk dan senang.” (QS. As-Sajadah : 11). Prof. Yoshihide Kozai begitu kagum dengan menemukan fakta astronomi yang sebenarnya dalam Al-Qur’an. Beliau juga percaya bahwa Al-Qur’an bukanah buatan manusia biasa, melainkan karya Yang Maha Khalik, sang Pencipta manusia dan seluruh jagad raya yaitu Allah SWT.

Al-Qur’an dengan keajaiabannya juga telah menguak tabir tentang bagaimana terjadinya hujan dan petir. Dalam satu ayat, “Tidaklah kau lihat bagaimana Allah membuat awan bergerak dengan tenang, kemudian menggabungkannya bersama, dan kemudian menumpukknya, dan kemudian kau lihat hujan turun daripadanya.” (QS. An-Nur : 43). Ahli meteorology telah mempelajari bagaimana awan cumulonimbus terbentuk dan bagaimana mereka menghasilkan hujan, hujan es dan kilat. Semua itu terjadi melalui tiga tahapan, yaitu : Awan terdorong oleh angin sehingga terbentuk awan cumulonimbus, penggabungan menjadi awan yang lebih besar, dan penumpukan. Ahli meteorology juga telah menemukan bahwa awan-awan cumulonimbus, yang bisa menimbulkan hujan es, dapat mencapai ketinggian 25.000 sampai 30.000 kaki (4,7 – 5,7 mil), seperti gunung-gunung, dan ini juga telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Dan Ia turunkan hujan es dari gunung-gunung (awan) di langit…” (QS. An-Nur : 43).

Mukjizat Abadi

Al-Qur’an adalah salah satu mukjizat Nabi Muhammad yang masih abadi hingga saat ini, bahkan hingga akhir zaman. Kemukjizatan Al-Qur’an diakui baik oleh orang Arab maupun orang Ajam (Non Arab), baik oleh orang yang beriman maupun orang yang kafir. Dari segi keindahannya, sejak dulu hingga sekarang bahkan hingga akhir zaman pun tidak ada satu kitab yang bisa menandingi keindahan gaya bahasa Al-Qur’an. Sudah banyak sastrawan yang menciptakan puisi-puisi untuk menandingi Al-Qur’an. Namun tidak satupun diantara mereka yang berhasil.

Selain memiliki gaya bahasa yang indah, Al-Qur’an juga terjaga sepanjang masa. Jaminan bahwa Al-Qur’an terjaga sepanjang masa ini sudah dijelaskan Allah dalam firmannya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr : 9).

Tidak ada satu huruf pun yang bisa ditambahkan di dalam A-Qur’an dan tidak ada satu huruf pun yang bisa dikurangi dari Al-Qur’an. Bahkan tidak ada satu titik pun yang boleh digeser dari satu huruf ke huruf lain. Apabila ada orang yang mencoba melakukan perubahan terhadap Al-Qur’an niscaya akan diketahui dengan mudah. Karena begitu banyak para penghafal Al-Qur’an dari masa ke masa. Dan tidak ada satu kitab pun yang ada di dunia ini yang abadi seperti abadinya Al-Qur’an.(disarikan dari berbagai sumber)

Ahmad Ushtuchri, SE