Tangis baginda rasul
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling rendah hati, meskipun dia memiliki segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang sekarang, dia seperti sebuah pohon yang berbuah. Menurut sebuah riwayat, beliau bersabda, “Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada semua manusia, untuk bersikap baik hati kepada mereka. Tidak ada Nabi yang sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku.”
Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya, ditanggalkan giginya, lututnya berdarah karena lemparan batu, tubuhnya dilumuri kotoran, rumahnya dilempari kotoran ternak. Beliau dihina, dan disiksa dengan keji. Saat beliau berdakwah di Tha’if, tak ada yang didapatkannya kecuali hinaan dan pengusiran yang keji. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyadari usaha dakwahnya itu tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Tha’if, tapi penduduk Tha’if tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang mengenai Nabi demikian hebat sehingga tubuh beliau berlumuran darah.
Dalam perjalanan pulang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. Di sana, beliau berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian, Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kata malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah Tuan. Jika Tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”
Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”
Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada orang-orang yang pernah menyiksanya, “Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan kulakukan terhadapmu?” Mereka menangis dan berkata, “Engkau adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia.” Nabi bersabda, “Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian.” (HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi’i).
Abu Sufyan bin Harits, sepupu beliau, lari dengan membawa semua anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Ali bin Abi Thalib radiallahu ‘anhu bertanya kepadanya, “Hai Abu Sufyan, hendak pergi ke manakah kamu?” Ia menjawab, “Aku akan keluar ke Padang Sahara. Biarlah aku dan anak-anakku mati karena lapar, haus, dan tidak berpakaian.”
Ali bertanya, “Mengapa kamu lakukan itu?” Ia menjawab, “Jika Muhammad menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi potongan-potongan kecil.”
Ali berkata, “Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” (QS. Yusuf [12]: 91).
Abu Sufyan pun kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdiri di dekat kepalanya, lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” (QS. Yusuf [12]: 91).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menengadahkan pandangannya, sedang air matanya membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan menyitir firman-Nya, “…Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf [12]: 92).
Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Bacakan al-Quran kepadaku.” Ibnu Mas’ud berkata, “Bagaimana aku membacakannya kepada engkau sementara al-Quran itu sendiri diturunkan kepada engkau?” “Aku ingin mendengarnya dari orang lain,” jawab beliau. Lalu Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisaa’ hingga firman-Nya, “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. an-Nisaa’ [4]: 41).”
Begitu bacaan tiba pada ayat ini, beliau bersabda, “Cukup.” Ibnu Mas’ud melihat ke arah beliau, dan terlihatlah olehnya bahwa beliau sedang menangis.
Dalam kisah ini kita memperoleh pelajaran berharga, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai umat manusia. Beliau sangat mengharapkan agar orang-orang kafir itu beriman. Karena balasan kekafiran adalah neraka yang menyala-nyala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah melihat neraka.
Beliau melihat sungguh mengerikan neraka itu. Hingga ketika menyadari hal itu, mengalirlah air matanya dengan deras. Abu Dzar radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mendirikan shalat malam, sambil menangis dengan membaca satu ayat yang diulang-ulangi, yaitu, “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau juga.” (QS. al-Maa’idah [5]: 118).
Dan diriwayatkan saat hari kiamat tiba, beliaulah orang yang pertama kali dibangkitkan. Yang diucapkannya pertama kali adalah, “Mana umatku? Mana umatku? Mana umatku?” Beliau ingin masuk surga bersama-sama umatnya. Beliau kucurkan syafaat kepada umatnya sebagai tanda kecintaan beliau terhadap mereka. Beliau juga sering berdoa, “Allahumma salimna ummati.” Ya Allah selamatkan umatku.
Keadaan diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam digambarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. at-Taubah [9]: 129).
Alangkah buruknya akhlak kita bila tak mencintai Rasul sebagaimana beliau mencintai kita, berkorban untuk kita, dan meneteskan air matanya untuk kita.
Di sini, apakah kita hanya berdiam diri saat Nabi dihina, seolah kita bukan lagi umatnya. Apakah kita rela Nabi berdakwah seorang diri dan kemudian dilempari batu hingga berdarah-darah, sementara umatnya yang begitu banyak hanya bisa berdiam diri?
Tangisan sang Nabi hendaknya menjadi pengingat kita, untuk lebih mencintainya, membelanya, bahkan berkorban nyawa untuknya, sebagaimana ia telah berkorban nyawa untuk kita agar kita selamat dari siksa neraka.
Ya Allah, berilah kami karunia untuk mencintai Nabi-Mu dan menapaki jalannya yang lurus, bukan sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan.
Ya Allah, curahkan shalawat untuk Muhammad selama siang masih berganti malam,
Ya Allah, curahkanlah shalawat untuk Muhammad selama ahli dzikir dan para shalihin melantunkan dzikirnya,
Ya Allah, kumpulkanlah kami dengan Nabi kami Muhammad di Surga Firdaus yang tinggi dan sejukkanlah pandangan dan mata hati kami dengan melihatnya dan berilah kami kesempatan untuk minum dari telaganya, hingga kami tidak akan haus dan dahaga selamanya.
Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad atas segenap keluarga dan sahabat beliau.
sumber:http://nisrinareligi.wordpress.com/2010/10/17/tangisan-rasulullah/
Kamis, 21 Oktober 2010
Rabu, 20 Oktober 2010
arti sebuah bekal
Arti sebuah bekal
Sering kita dengan nasehat bijak, menggambarkan perjalanan hidup ini bagai menempuh perjalan musafir kelanayang sedang mengarungi dan melintasi pada pasir nan jauh menuju tanah harapan,tentu dalam menempuh perjalalan panjangnya harus dapat menyediakan perbekalan yng cukup dan juga tidak akan memberati bawaannya,.bahkan lebih sederhanan lagi ibarat sebuah perjalanan biasa, seperti kita pergi ke satu tujuan sesederhanan apapun perjalan itu,tentu itu adalah sebuah perjalanan yang dalam memulai, biasanya kita mempersiapkan bekal secukupnya. Kita selalu ingin memastikan bahwa bekal yang kita bawa cukup untuk memenuhi semua kebutuhan selama dalam perjalanan itu. Kita tidak ingin kehabisan bekal sebelum benar-benar menyelesaikan perjalanan itu, bukan? Ada banyak perjalanan yang pernah kita lakukan. Dan ada lebih banyak lagi perjalanan lain yang kita rencanakan. Namun, semua perjalanan itu terintegrasi dalam perjalanan utama yang paling hakiki. Dan kita menyebutnya perjalanan hidup. Untuk sebuah perjalanan yang sederhana saja, kita menyiapkan bekal yang sangat banyak. Maka – sejatinya – untuk pejalanan hidup; lebih banyak lagi bekal yang harus kita persiapkan. Tetapi, pertanyaannya apakah kita benar-benar telah mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan panjang itu? Padahal, jika kita gagal mempersiapkan bekal yang memadai; bisa jadi kita akan gagal menyelesaikan perjalanan ini. Sebab, bekal itu, tidak jarang bagaikan bensin bagi kendaraan yang kita gunakan untuk menempuhnya. Jika kita mempunyai bensin yang cukup, maka kita memiliki peluang untuk menyelesaikannya. Dan jika tidak, maka kita hanya akan teronggok disebuah tempat yang boleh jadi; kita tidak ingin berada disana. Disinilah bekal itu menjdi penting dan sudahkah itu pernah menjadi sebuah pemikiran kita?. Mbah yayin
Sering kita dengan nasehat bijak, menggambarkan perjalanan hidup ini bagai menempuh perjalan musafir kelanayang sedang mengarungi dan melintasi pada pasir nan jauh menuju tanah harapan,tentu dalam menempuh perjalalan panjangnya harus dapat menyediakan perbekalan yng cukup dan juga tidak akan memberati bawaannya,.bahkan lebih sederhanan lagi ibarat sebuah perjalanan biasa, seperti kita pergi ke satu tujuan sesederhanan apapun perjalan itu,tentu itu adalah sebuah perjalanan yang dalam memulai, biasanya kita mempersiapkan bekal secukupnya. Kita selalu ingin memastikan bahwa bekal yang kita bawa cukup untuk memenuhi semua kebutuhan selama dalam perjalanan itu. Kita tidak ingin kehabisan bekal sebelum benar-benar menyelesaikan perjalanan itu, bukan? Ada banyak perjalanan yang pernah kita lakukan. Dan ada lebih banyak lagi perjalanan lain yang kita rencanakan. Namun, semua perjalanan itu terintegrasi dalam perjalanan utama yang paling hakiki. Dan kita menyebutnya perjalanan hidup. Untuk sebuah perjalanan yang sederhana saja, kita menyiapkan bekal yang sangat banyak. Maka – sejatinya – untuk pejalanan hidup; lebih banyak lagi bekal yang harus kita persiapkan. Tetapi, pertanyaannya apakah kita benar-benar telah mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan panjang itu? Padahal, jika kita gagal mempersiapkan bekal yang memadai; bisa jadi kita akan gagal menyelesaikan perjalanan ini. Sebab, bekal itu, tidak jarang bagaikan bensin bagi kendaraan yang kita gunakan untuk menempuhnya. Jika kita mempunyai bensin yang cukup, maka kita memiliki peluang untuk menyelesaikannya. Dan jika tidak, maka kita hanya akan teronggok disebuah tempat yang boleh jadi; kita tidak ingin berada disana. Disinilah bekal itu menjdi penting dan sudahkah itu pernah menjadi sebuah pemikiran kita?. Mbah yayin
Senin, 18 Oktober 2010
khutbah jumat kutamaan amalan di bulan dzulhijjah
Khutbah tentang keutamaa amalan di bulan dzul hijjah
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ للهِ القَوِيِّ المَتِينِ، سُبْحَانَهُ خَلَقَ الإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ، وَهَدَاهُ لِلْمَنْهَجِ القَوِيمِ، وَسَنَّ شَرَائِعَ فِيهَا القُوَّةُ وَالتَّمكِينُ، بِحِكْمَتِهِ نُؤْمِنُ، وَبِقُدْرَتِهِ نُوقِنُ، عَلَيْهِ نَتَوَكَّلُ، وَإِيَّاهُ نَستَعِينُ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى بِمَا هُوَ لَهُ أَهْلٌ مِنَ الْحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيَّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، لَمْ يَزَلْ مُتَوَكِّلاً عَلَى رَبِّهِ، وَاثِقًا بِوَعدِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَعَلَى كُلِّ مَنْ اقْتَفَى أَثَرَهُ وَتَرَسَّمَ خُطَاهُ إِلَى يَومِ الدِّينِ.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102] .
{ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا } [النساء: 1] .
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Segala puji hanyalah milik Allah. Maka tiada hal lain yang lebih pantas untuk kita ucapkan setalah menyadari nikmat-nikmatNya, kecuali memuji-Nya dengan segala pujian yang diajarkan-Nya kepada kita. Lalu hati kita juga khusyu’ mensyukuri nikmat-nikmat itu, seraya memimpin anggota bada kita untuk tunduk dan taat dalam menjalankan ibadah semata-mata kepada-Nya. Hanya dengan integrasi ketiga bentuk amal itulah syukur kita menemukan hakikatnya.
Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah,
Kita saat ini tengah berada di penghujung bulan Dzulqa’dah. Kurang dari sepekan kita akan memasuki bulan Dzulhijjah 1430 H. Dengan demikian kita telah 2 bulan keluar dari madrasah Ramadhan, dan kini bersiap dengan tarbiyah Allah SWT yang lain, yakni madrasah Dzulhijjah.
Mengapa disebut madrasah Dzulhijjah? Karena pada bulan ini ada tiga ibadah besar yang sarat dengan nilai-nilai tarbiyah; haji, shalat idul adha dan qurban. Di samping ada pula ibadah sunnah muakkad bagi yang tidak menunaikan haji yakni puasa arafah.
Ayyuhal muslimuun rahimakumullah,
Karenanya, melalui mimbar Jum’at ini khatib mengajak diri sendiri dan kita semua untuk mempersiapkan diri menyongsong bulan Dzulhijjah ini. Sehingga saat ia datang menjumpai kita, kita telah siap dengan amal-amal di bulan ini sekaligus mengambil nilai-nilai tarbiyah yang ada di dalamnya.
Haji
Saat ini sebagian saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji telah berada di tanah suci. Inilah rangkaian ibadah yang mengandung muatan tarbiyah historis yang luar biasa. Agar manusia mengambil pelajaran yang tak ternilai dari sana. Bukan hanya bagi mereka yang sudah dipanggil Allah dalam menunaikannya, tetapi juga bagi kita yang belum berkesempatan menjalankan rukun Islam yang kelima.
Diantara pelajaran yang begitu tampak dari ibadah haji adalah deklarasi persamaan derajat manusia di dalam Islam. Islam bukanlah agama yang mempertahankan atau mendukung diskriminasi atas dasar warna kulit dan suku bangsa. Allah tidak membedakan manusia dari segi hartanya, popularitas, maupun jabatan dan kekuasaannya. Karenanya berkumpullah jutaan orang di Masjidil Haram, 260 ribu diantaranya dari Indonesia; mereka setara! Semuanya berbaur menjadi satu sebagai hamba Allah; tak ada bedanya antara presiden dan rakyat biasa, tak ada bedanya antara direktur dan petani-petani desa. Bahkan saat ihram, sekaya dan setinggi apapun jabatan seseorang, mereka semua sama hanya berbalut kain ihram yang tidak berjahit.
Kita pun, yang tidak berada di Masjidil Haram, seharusnya sadar akan hakikat nilai manusia di hadapan Allah SWT. Mereka semua sama. Yang membedakan dan membuat seseorang lebih mulia daripada lainnya adalah ketaqwaannya.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ [الحجرات/13]
Sesungguhnya manusia yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. (QS. Al-Hujurat : 13)
Hakikat ini seharusnya tertanam kuat dalam jiwa kita dan menjadi pemicu bagi kita untuk terus meningkatkan ketaqwaannya. Sementara banyak orang yang mengumpulkan bekal untuk kehidupan dunianya, Allah menunjukkan pula kepada kita untuk mempersiapkan sebaik-baik bekal, yakni taqwa.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى [البقرة/197]
Dan berbekallah kalian. Sesungguhnya bekal yang terbaik adalah taqwa. (QS. Al-Baqarah : 197)
Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Selain nilai tarbiyah di atas, haji juga sarat dengan napak tilas sejarah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Ka’bah merupakan tempat ibadah yang dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim. Ia simbol ketauhidan, dan ke arahnya umat Islam berkiblat dalam shalat. Sai mengingatkan ikhtiar serius istri Nabi Ibrahim, Hajar, dalam upaya regenerasi ahli tauhid. Melontar jumrah juga merupakan simbol perlawanan kepada syaitan, yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim, dan hingga kiamat nanti statusnya memang tidak pernah berubah; syaitan adalah musuh yang nyata bagi orang yang beriman.
Lebih dari itu, semua ibadah haji merupakan kepatuhan dan ketundukan total kepada Allah sebagai pembuat syariat. Bagaimana petunjuk Allah dalam beribadah, begitulah kita harus mengerjakannya. Bagaimana perintah Allah kepada orang beriman, begitulah ia harus sami’na wa atha’na. Dengan demikian ibadah haji menjadi ibadah yang sangat berat. Selain menyediakan biaya yang sangat besar dan membutuhkan fisik yang prima, kondisi ruhiyah juga harus terjaga selama ibadah ini ditunaikan. Maka, sebanding dengan beratnya kombinasi dari ibadah qalbiyah, ibadah badaniyah, dan ibadah maliyah ini, Allah telah menyediakan balasan yang luar biasa pula:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
Haji yang mabrur, tidak ada balasannya kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim)
Lalu bagaimana dengan kita yang di bulan Dzulhijjah 1430 H ini belum mampu menunaikan haji? Masih ada banyak kesempatan amal untuk kita kerjakan.
Memperbanyak ibadah dan amal shalih di sepuluh hari pertama Dzulhijjah
Bagi kita yang tidak berhaji pun, kesempatan emas terbuka untuk meraih banyak keutamaan di bulan Dzulhijjah. Memperbanyak ibadah pada tanggal 1 Dzulhijjah sampai dengan 10 Dzulhijjah merupakan pilihan yang cerdas, sebab banyak hadits yang menjelaskan keutamaannya. Ibadah itu bisa berupa memperbanyak shadaqah, berdzikir, tilawah, dan amal shalih lainnya.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ فِيهِ أَفْضَلُ مِنْ عَشَرِ ذِي الْحِجَّةِ، قِيلَ: وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ :« وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih disukai oleh Allah Azza wa Jalla dari pada hari-hari ini, yakni hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah.” Para shahabat pun bertanya, “Ya Rasulullah, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Memang, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah, kecuali seorang yang pergi membawa nyawa dan hartanya, kemudian tidak satu pun diantara keduanya itu yang kembali (mati syahid).” (HR. Jamaah kecuali Muslim dan Nasai)
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمَ عِنْدَ اللَّهِ وَلاَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
Tidak ada hari-ahri yang dianggap lebih agung oleh Allah SWT dan lebih disukai untuk digunakan sebagai tempat beramal sebagaimana hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah ini. Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil, takbir, dan tahmid. (HR. Ahmad)
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِى الْحِجَّةِ يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Tidak ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk digunakan beribadah sebagaimana halnya hari-hari sepuluh Dzulhijjah. Berpuasa pada siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun dan shalat pada malam harinya sama nilainya dengan mengerjakan shalat pada malam lailatul qadar. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi)
Puasa Arafah
Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah,
Puasa ini disunnahkan bagi kita yang tidak sedang mengerjakan haji. Adapun bagi mereka para jamaah haji, mereka tidak diperbolehkan berpuasa. Saat itu mereka harus wukuf di Arafah. Dengan demikian, keutamaan hari Arafah bisa dinikmati oleh orang yang sedang berhaji maupun yang tidak sedang berhaji.
Keutamaan puasa Arafah ini diriwayatkan oleh Abu Qatadah r.a. :
سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ »
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)
Subhaanallah, luar biasa. Mendengar keutamaan puasa Arafah ini, pantaslah bila pada hari Arafah itu banyak orang yang dibebaskan Allah SWT dari siksa neraka.
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
Tidak ada satu hari yang pada hari itu Allah membebaskan para hamba dari api neraka yang lebih banyak dibandingkan hari Arafah. (HR. Muslim)
Shalat Idul Adha
Ikhwatal iman yahdikumullah,
Amal khusus di bulan Dzulhijjah berikutnya adalah Shalat Idul Adha. Jumhur ulama’ menjelaskan bahwa hukumnya sunnah muakkad, dan ada beberapa ulama’ yang berpendapat hukumnya wajib. Jika pada shalat idul fitri disunnahkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat, maka shalat idul adha adalah kebalikannya: disunnahkan makan setelah shalat id.
Berqurban
Ayyuhal muslimuun rahimakumullah,
Amal lainnya yang sangat istimewa dan khusus di bulan Dzulhijjah ini adalah qurban. Ibadah qurban ini juga sarat dengan nilai tarbiyah. Bahkan sejarah disyariatkannya qurban pada masa Nabi Ibrahim adalah sejarah pengorbanan, ketaatan, serta proses taurits di dalam keluarga muslim. Kita sekarang tidak diperintahkan untuk menyembelih Ismail-ismail kita, tetapi menyembelih kambing, domba, sapi, atau unta sebagai bentuk ketaatan dan pengorbanan kita kepada Allah SWT.
Keutamaan qurban sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:
مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada Hari Raya Kurban yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu, dan kuku kukunya. Sesungguhnya sebelum darah kurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berkurban. (HR. Tirmidzi)
Demikianlah amal-amal khusus selama bulan Dzulhijjah. Semoga Dzulhijjah 1430 ini semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT sehingga kita memperoleh ridha, rahmat, dan ampuan-Nya. Dengan demikian, kita bisa berharap bertemu Allah kelak di surga.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ للهِ القَوِيِّ المَتِينِ، سُبْحَانَهُ خَلَقَ الإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ، وَهَدَاهُ لِلْمَنْهَجِ القَوِيمِ، وَسَنَّ شَرَائِعَ فِيهَا القُوَّةُ وَالتَّمكِينُ، بِحِكْمَتِهِ نُؤْمِنُ، وَبِقُدْرَتِهِ نُوقِنُ، عَلَيْهِ نَتَوَكَّلُ، وَإِيَّاهُ نَستَعِينُ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى بِمَا هُوَ لَهُ أَهْلٌ مِنَ الْحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيَّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، لَمْ يَزَلْ مُتَوَكِّلاً عَلَى رَبِّهِ، وَاثِقًا بِوَعدِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَعَلَى كُلِّ مَنْ اقْتَفَى أَثَرَهُ وَتَرَسَّمَ خُطَاهُ إِلَى يَومِ الدِّينِ.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102] .
{ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا } [النساء: 1] .
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Segala puji hanyalah milik Allah. Maka tiada hal lain yang lebih pantas untuk kita ucapkan setalah menyadari nikmat-nikmatNya, kecuali memuji-Nya dengan segala pujian yang diajarkan-Nya kepada kita. Lalu hati kita juga khusyu’ mensyukuri nikmat-nikmat itu, seraya memimpin anggota bada kita untuk tunduk dan taat dalam menjalankan ibadah semata-mata kepada-Nya. Hanya dengan integrasi ketiga bentuk amal itulah syukur kita menemukan hakikatnya.
Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah,
Kita saat ini tengah berada di penghujung bulan Dzulqa’dah. Kurang dari sepekan kita akan memasuki bulan Dzulhijjah 1430 H. Dengan demikian kita telah 2 bulan keluar dari madrasah Ramadhan, dan kini bersiap dengan tarbiyah Allah SWT yang lain, yakni madrasah Dzulhijjah.
Mengapa disebut madrasah Dzulhijjah? Karena pada bulan ini ada tiga ibadah besar yang sarat dengan nilai-nilai tarbiyah; haji, shalat idul adha dan qurban. Di samping ada pula ibadah sunnah muakkad bagi yang tidak menunaikan haji yakni puasa arafah.
Ayyuhal muslimuun rahimakumullah,
Karenanya, melalui mimbar Jum’at ini khatib mengajak diri sendiri dan kita semua untuk mempersiapkan diri menyongsong bulan Dzulhijjah ini. Sehingga saat ia datang menjumpai kita, kita telah siap dengan amal-amal di bulan ini sekaligus mengambil nilai-nilai tarbiyah yang ada di dalamnya.
Haji
Saat ini sebagian saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji telah berada di tanah suci. Inilah rangkaian ibadah yang mengandung muatan tarbiyah historis yang luar biasa. Agar manusia mengambil pelajaran yang tak ternilai dari sana. Bukan hanya bagi mereka yang sudah dipanggil Allah dalam menunaikannya, tetapi juga bagi kita yang belum berkesempatan menjalankan rukun Islam yang kelima.
Diantara pelajaran yang begitu tampak dari ibadah haji adalah deklarasi persamaan derajat manusia di dalam Islam. Islam bukanlah agama yang mempertahankan atau mendukung diskriminasi atas dasar warna kulit dan suku bangsa. Allah tidak membedakan manusia dari segi hartanya, popularitas, maupun jabatan dan kekuasaannya. Karenanya berkumpullah jutaan orang di Masjidil Haram, 260 ribu diantaranya dari Indonesia; mereka setara! Semuanya berbaur menjadi satu sebagai hamba Allah; tak ada bedanya antara presiden dan rakyat biasa, tak ada bedanya antara direktur dan petani-petani desa. Bahkan saat ihram, sekaya dan setinggi apapun jabatan seseorang, mereka semua sama hanya berbalut kain ihram yang tidak berjahit.
Kita pun, yang tidak berada di Masjidil Haram, seharusnya sadar akan hakikat nilai manusia di hadapan Allah SWT. Mereka semua sama. Yang membedakan dan membuat seseorang lebih mulia daripada lainnya adalah ketaqwaannya.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ [الحجرات/13]
Sesungguhnya manusia yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. (QS. Al-Hujurat : 13)
Hakikat ini seharusnya tertanam kuat dalam jiwa kita dan menjadi pemicu bagi kita untuk terus meningkatkan ketaqwaannya. Sementara banyak orang yang mengumpulkan bekal untuk kehidupan dunianya, Allah menunjukkan pula kepada kita untuk mempersiapkan sebaik-baik bekal, yakni taqwa.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى [البقرة/197]
Dan berbekallah kalian. Sesungguhnya bekal yang terbaik adalah taqwa. (QS. Al-Baqarah : 197)
Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Selain nilai tarbiyah di atas, haji juga sarat dengan napak tilas sejarah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Ka’bah merupakan tempat ibadah yang dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim. Ia simbol ketauhidan, dan ke arahnya umat Islam berkiblat dalam shalat. Sai mengingatkan ikhtiar serius istri Nabi Ibrahim, Hajar, dalam upaya regenerasi ahli tauhid. Melontar jumrah juga merupakan simbol perlawanan kepada syaitan, yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim, dan hingga kiamat nanti statusnya memang tidak pernah berubah; syaitan adalah musuh yang nyata bagi orang yang beriman.
Lebih dari itu, semua ibadah haji merupakan kepatuhan dan ketundukan total kepada Allah sebagai pembuat syariat. Bagaimana petunjuk Allah dalam beribadah, begitulah kita harus mengerjakannya. Bagaimana perintah Allah kepada orang beriman, begitulah ia harus sami’na wa atha’na. Dengan demikian ibadah haji menjadi ibadah yang sangat berat. Selain menyediakan biaya yang sangat besar dan membutuhkan fisik yang prima, kondisi ruhiyah juga harus terjaga selama ibadah ini ditunaikan. Maka, sebanding dengan beratnya kombinasi dari ibadah qalbiyah, ibadah badaniyah, dan ibadah maliyah ini, Allah telah menyediakan balasan yang luar biasa pula:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
Haji yang mabrur, tidak ada balasannya kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim)
Lalu bagaimana dengan kita yang di bulan Dzulhijjah 1430 H ini belum mampu menunaikan haji? Masih ada banyak kesempatan amal untuk kita kerjakan.
Memperbanyak ibadah dan amal shalih di sepuluh hari pertama Dzulhijjah
Bagi kita yang tidak berhaji pun, kesempatan emas terbuka untuk meraih banyak keutamaan di bulan Dzulhijjah. Memperbanyak ibadah pada tanggal 1 Dzulhijjah sampai dengan 10 Dzulhijjah merupakan pilihan yang cerdas, sebab banyak hadits yang menjelaskan keutamaannya. Ibadah itu bisa berupa memperbanyak shadaqah, berdzikir, tilawah, dan amal shalih lainnya.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ فِيهِ أَفْضَلُ مِنْ عَشَرِ ذِي الْحِجَّةِ، قِيلَ: وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ :« وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih disukai oleh Allah Azza wa Jalla dari pada hari-hari ini, yakni hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah.” Para shahabat pun bertanya, “Ya Rasulullah, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Memang, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah, kecuali seorang yang pergi membawa nyawa dan hartanya, kemudian tidak satu pun diantara keduanya itu yang kembali (mati syahid).” (HR. Jamaah kecuali Muslim dan Nasai)
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمَ عِنْدَ اللَّهِ وَلاَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
Tidak ada hari-ahri yang dianggap lebih agung oleh Allah SWT dan lebih disukai untuk digunakan sebagai tempat beramal sebagaimana hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah ini. Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil, takbir, dan tahmid. (HR. Ahmad)
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِى الْحِجَّةِ يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Tidak ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk digunakan beribadah sebagaimana halnya hari-hari sepuluh Dzulhijjah. Berpuasa pada siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun dan shalat pada malam harinya sama nilainya dengan mengerjakan shalat pada malam lailatul qadar. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi)
Puasa Arafah
Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah,
Puasa ini disunnahkan bagi kita yang tidak sedang mengerjakan haji. Adapun bagi mereka para jamaah haji, mereka tidak diperbolehkan berpuasa. Saat itu mereka harus wukuf di Arafah. Dengan demikian, keutamaan hari Arafah bisa dinikmati oleh orang yang sedang berhaji maupun yang tidak sedang berhaji.
Keutamaan puasa Arafah ini diriwayatkan oleh Abu Qatadah r.a. :
سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ »
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)
Subhaanallah, luar biasa. Mendengar keutamaan puasa Arafah ini, pantaslah bila pada hari Arafah itu banyak orang yang dibebaskan Allah SWT dari siksa neraka.
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
Tidak ada satu hari yang pada hari itu Allah membebaskan para hamba dari api neraka yang lebih banyak dibandingkan hari Arafah. (HR. Muslim)
Shalat Idul Adha
Ikhwatal iman yahdikumullah,
Amal khusus di bulan Dzulhijjah berikutnya adalah Shalat Idul Adha. Jumhur ulama’ menjelaskan bahwa hukumnya sunnah muakkad, dan ada beberapa ulama’ yang berpendapat hukumnya wajib. Jika pada shalat idul fitri disunnahkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat, maka shalat idul adha adalah kebalikannya: disunnahkan makan setelah shalat id.
Berqurban
Ayyuhal muslimuun rahimakumullah,
Amal lainnya yang sangat istimewa dan khusus di bulan Dzulhijjah ini adalah qurban. Ibadah qurban ini juga sarat dengan nilai tarbiyah. Bahkan sejarah disyariatkannya qurban pada masa Nabi Ibrahim adalah sejarah pengorbanan, ketaatan, serta proses taurits di dalam keluarga muslim. Kita sekarang tidak diperintahkan untuk menyembelih Ismail-ismail kita, tetapi menyembelih kambing, domba, sapi, atau unta sebagai bentuk ketaatan dan pengorbanan kita kepada Allah SWT.
Keutamaan qurban sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:
مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada Hari Raya Kurban yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu, dan kuku kukunya. Sesungguhnya sebelum darah kurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berkurban. (HR. Tirmidzi)
Demikianlah amal-amal khusus selama bulan Dzulhijjah. Semoga Dzulhijjah 1430 ini semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT sehingga kita memperoleh ridha, rahmat, dan ampuan-Nya. Dengan demikian, kita bisa berharap bertemu Allah kelak di surga.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Senin, 11 Oktober 2010
jatuh cinta
Jatuh Cinta dan Ad-Diin: Sebuah Artikel Mengenai Sufisme
Oleh Herry Mardian
ANDA pernah jatuh cinta? Pernah melihat atau sekedar berkenalan pada seseorang, lalu anda mulai tertarik dengannya? Awalnya mungkin ada sebuah ‘rasa’ terhadapnya. Lalu anda mulai sering memikirkannya. Banyak hal yang dilakukannya membuat anda tertarik, walaupun mungkin tidak setiap saat kita berinteraksi dengannya. Ketika dia ramah dan tersenyum pada kita satu atau dua detik, atau sekedar berkata “Halo, apa kabar?” sambil tersenyum, pikiran kita mulai berpersepsi.
“Wah, ramah sekali. Kayaknya baik ya. Boljug nih, jadi pasangan… ” dan seterusnya.
Ketika anda sedang lelah, lalu teringat lagi padanya, kemudian muncul rasa ingin bertemu dengannya. Kita mulai berimajinasi. “Kayaknya enak kalau lagi capek begini ngobrol dengannya. Pasti kebaikannya bisa membuat saya terhibur. Kalau curhat pasti dia mau dengerin deh.”
Ketika kita melihat dia ramah pada anak-anak, maka pikiran kita berpersepsi lain lagi. “Wah, betapa dia seorang ibu/ayah yang ideal.”
Ketika kita sudah mulai berinteraksi satu-dua kali, ternyata tutur katanya ramah, santun, dan sebagainya. Pikiran kita mengambil indikator ini, “Ternyata orangnya baik. Enak diajak ngobrol. Pemikiran kita nyambung. Udah gitu humoris pula.” Ditambah lagi dengan data dari teman-teman kita, katanya dia orang baik, humoris, bertanggung jawab dan sebagainya.
Lalu dia mulai sering ada di pikiran kita. Sosok dia, dalam pikiran kita, kini sudah menjadi imajinasi satu kepribadian manusia yang utuh: orangnya baik, cantik/ganteng, ramah, cerdas, humoris, bertanggung jawab, dan seorang suami atau istri yang ideal. Sepotong senyum atau interaksi satu-dua kali, sudah cukup untuk membuat mekanisme kecerdasan kita membentuk satu sosok kepribadian yang utuh di dalam imajinasi kita. Dan sekarang, dengan adanya sosok yang utuh di dalam pikiran kita ini, kita mulai benar-benar jatuh cinta kepadanya. Ingat terus, kalau ditelepon atau ketemu merasa senang sekali, dan seterusnya, dan seterusnya.
Indikator-indikator kepribadian yang tadinya disimpan di kepala kita sebagai data, dengan kemampuan persepsi otak kita diolah menjadi suatu sosok yang utuh, dan akhirnya kita jatuh cinta dengan sosok ini. Indah sekali kan?
Pada tahap ini, kenapa kita bisa jatuh cinta hanya dengan satu senyum, atau satu-dua kali interaksi? Imajinasi. Itulah keunggulan mekanisme pikiran kita. Kita dibekali kemampuan berimajinasi tentang sesuatu, sehingga dari data yang sedikit bisa dipersepsikan, atau diimajinasikan, bagaimana sosok kepribadian orang itu dengan utuh.
Lalu semakin lama anda berinteraksi dengannya, mulai nampak pula hal-hal yang tidak terlalu kita sukai dari dirinya. Kita mulai menimbang-nimbang, berfikir positif atau negatif mengenai dirinya. Cinta kita sudah mulai memasuki tahap cinta rasional, bukan hanya cinta emosional. Rasa cinta tidak lagi demikian terasa dahsyat dan menggebu-gebu di dalam dada kita. Sekarang kita mulai ‘mendapatkan pengalaman’ (meng-experience) interaksi dengan dia yang sebenarnya.
Pada tahap ini, bisa jadi kita malah sebal, atau ternyata berkesimpulan tidak cocok dengannya. Atau jika kebetulan kita sampai di jenjang pernikahan, setelah sepuluh tahun menikah, misalnya, cinta kita tidak lagi terasa demikian emosional dan menyenangkan seperti ketika awal bertemu. Pada tahap ini, cinta kita sudah mulai menjadi cinta yang rasional dan dewasa. Diwarnai oleh tanggung jawab, peran sosial, kewajiban, pemakluman, dan lain sebagainya. Intinya, kini belum tentu ’semuanya indah sekali’ seperti dulu.
Lalu kenapa dulu rasa cinta itu bisa terasa demikian menyenangkan dan ‘dahsyat’ terasa di dalam dada? Sekali lagi, imajinasi. Dulu, sebenarnya kita jatuh cinta bukan pada dia, tapi jatuh cinta kepada ‘imajinasi kita tentang dia’. Kita jatuh cinta pada sosok dia yang ada di pikiran kita, bukan pada dia yang sebenarnya. Kini, setelah lama berinteraksi dengannya, kita mulai mengenal dia yang asli, bukan hanya imajinasinya. Dia yang asli, dengan ‘imajinasi kita tentang dia’ tentu berbeda.
Dia yang asli bisa kita kenali dengan interaksi dengannya, dan bukan melalui ‘imajinasi’ kita tentang dia.
Demikian juga dengan mengenal Tuhan. Sebenarnya, tidak cukup untuk mengenal Dia hanya dengan indikator sifat yang diperoleh ‘kata teman’, menurut buku, kata ustad, dan sebagainya. Kita selama ini hanya mendapatkan data tentang Dia dengan ‘katanya’. Kalau kita jujur pada diri kita sendiri, tanyakanlah: siapa Tuhan yang kita mengaku mencintai-Nya itu? Siapa yang kita sembah itu? Jawablah dengan jujur: kita benar-benar mencintai-Nya, atau baru mencintai imajinasi kita tentang diri-Nya, yang terbentuk di kepala kita?
Sudahkah kita mengenal Dia yang sebenarnya, dan bukan sosok Dia yang dalam imajinasi kita itu? Siapa yang kita sembah? Dia yang asli, atau Dia yang imajinasi kita? Padahal Tuhan tidak menerima penyembahan selain kepada Dia. Dia yang asli.
Seseorang yang memasuki disiplin sufi, sebenarnya adalah mereka yang ingin mengenal Dia secara real dan bukan imajinasi pikiran saja, bukan ‘kata orang’, justru karena tidak ingin jatuh pada kemusyrikan dengan terpeleset menyembah ‘Tuhan yang imajinasi’. Mereka ingin meng-experience pengenalan terhadap Tuhan yang sebenarnya (tentunya dengan sangat tidak mudah, karena Tuhan adalah sesuatu yang Maha Tinggi). Walaupun ini sangat sulit, tapi sebagian orang berusaha –berjihad– dengan segenap dirinya untuk menjalankan disiplin ini.
Dan karena pintu mengenal Tuhan adalah kesucian qalbu, maka mustahil pula orang yang mengaku menjalankan disiplin ini tanpa menjalankan syariat yang telah ditetapkan Qur’an dan Rasulullah saw. Kalau ada ’sufi’ (dalam tanda kutip) yang tidak shalat atau puasa, misalnya, sudah jelas dia hanya ‘mengaku-aku’ saja sedang menjalankan disiplin tasawuf. Mustahil qalbu bisa menjadi suci tanpa syari’at. Rasulullah adalah gerbang menuju Allah, maka setelah periode kenabian Muhammad s.a.w., tidak akan ada yang bisa mengenal Dia tanpa melalui Beliau dan apa yang Beliau bawa, termasuk syariat dan hakikatnya.
Maka sebagai panduan pertama kali (atau tepatnya: panduan mutlak sepanjang jalan), tentu melalui apa yang Beliau bawa: Al-Qur’an. Tapi, itu pun bukan makna Al-Qur’an yang ‘dipersepsikan’, melainkan makna Al-Qur’an yang sesungguhnya, yang ‘apa adanya’. Itulah sebabnya, di awal perjalanan untuk mengenal Allah kita terlebih dahulu harus mencari orang-orang yang sudah mampu menjangkau makna Al-Qur’an yang sesungguhnya, untuk mengajarkannya pada kita.
“Bagaimana jika sudah ma’rifat? Apakah syariat tidak lagi diperlukan? Maka shalat, puasa dan lain-lain tidak perlu lagi dong.. ” Nah, ini juga sebuah kesalahan umum yang sangat mendasar. Ma’rifat bukan akhir perjalanan. Ma’rifatullah (mengenal Allah) adalah proses akhir, bukan titik akhir. Perhatikan: proses, bukan titik. Dan semua orang yang benar-benar menjalankan disiplin tasawuf ini tahu, proses akhir ini adalah sebuah proses yang tidak akan pernah berakhir, karena Tuhan adalah Maha Tak Terbatas. Proses mengenal sesuatu yang tak terbatas akan berlangsung selama jangka waktu yang tak terbatas pula. Rasulullah, sebagai manusia yang paling mengenal Allah (paling ma’rifatullah) pun tidak pernah berhenti shalat.
Hanya bedanya dengan berinteraksi dengan manusia, kalau semakin mengenal manusia kita akan semakin mengenal kekurangannya pula, tapi jika dengan Tuhan, semakin berinteraksi dengan Tuhan, Karena Dia Maha Indah, maka semakin mengenal-Nya pun akan semakin jatuh cinta dan semakin jatuh cinta saja. Tapi bedanya, bukan cinta yang di-indoktrinasi ke kepala kita sendiri: “Saya mencintai Tuhan!! Alangkah indahnya Tuhan!!” dan semacamnya. Kecintaan pada tahap ini adalah sebuah ungkapan hati yang jujur. Sebuah cinta yang ‘dialami’, bukan cinta yang diindoktrinasikan ke kepala.
Mereka yang mengenal Allah, saking takjub dan terpesonanya dengan keindahan Dia, akan ‘mabuk’. Beberapa wali menjadi ‘romantis’, kemana-mana berpuisi tentang cinta dan rindu kepada-Nya dalam ke’mabuk’annya, seperti puisi-puisi Jalaluddin Rumi, Rabi’ah, dan lain-lain. Rumi sering mengumpamakan ke’mabuk’annya ini dengan anggur, atau ‘terbakar’ dalam cinta. Ia ‘hilang’ ditelan cinta kepada-Nya. As if they’re ‘mad’ for Allah, externally and internally.
Mengapa para Nabi, terutama Rasulullah saw., dalam hal ini lebih utama dari para wali? Karena meski cinta dan pengenalan Rasulullah terhadap Allah lebih tinggi daripada Nabi atau wali yang manapun, namun Beliau tetap sanggup menguasai dirinya, dan tidak ‘mabuk’. Beliau tetap bisa tampil seperti manusia biasa, dan tampak tidak tenggelam dalam mabuk cinta kepada-Nya. Externally sane while ‘madly in love’ internally, for Allah. Ini sebuah kualitas manusia yang ‘tidak manusiawi’, saking tingginya tingkat penguasaan dirinya.
Kembali ke persoalan.
Ma’rifat adalah proses akhir, dan justru menjadi awal beragama secara sejati. Inilah makna dari perkataan yang masyhur dari salah seorang sahabat Rasul Ali r.a.: “Awaluddiina Ma’rifatullah”. Awalnya Ad-Diin adalah mengenal Allah. Makrifat justru baru awalnya beragama, bukan tujuan. Karena dengan mengenal Dia yang sebenarnya, barulah seseorang berinteraksi dengan Ad-Diin yang sebenarnya pula. Jika seseorang hanya mengenal imajinasi dirinya sendiri tentang Allah, seharusnya perlu dipertanyakan apakah kita benar-benar berjalan di atas Diin (agama)? Atau kita hanya ‘berimajinasi’ tentang ad-Diin itu?
Demikian pula, seseorang belum bisa dikatakan sebagai seorang salik (pejalan, pencari Tuhan, pencari kebenaran hakiki/Al-Haqq) atau sedang menjalankan disiplin tasawuf, jika hanya membaca buku-buku tentang tasawuf dan sufi, atau menghadiri pertemuan dan ceramah tasawuf. Inti disiplin tasawuf dalam beragama adalah ‘mengalami’, experiencing, dan bukan ‘data tentang sufi’ atau persoalan agama. Dalam kacamata hakikat, seseorang belum berjalan di atas ad-diin jika semata-mata hanya ‘tahu banyak tentang ad-diin‘ dan dalil-dalinya tapi tidak menjalani, mengamalkan, atau meng-experience esensi maupun makna ad-diin.
Seberapa jauh bedanya? Sejauh beda antara ‘jatuh cinta’ dengan ‘membaca deskripsi tentang cinta’.
Oleh Herry Mardian
ANDA pernah jatuh cinta? Pernah melihat atau sekedar berkenalan pada seseorang, lalu anda mulai tertarik dengannya? Awalnya mungkin ada sebuah ‘rasa’ terhadapnya. Lalu anda mulai sering memikirkannya. Banyak hal yang dilakukannya membuat anda tertarik, walaupun mungkin tidak setiap saat kita berinteraksi dengannya. Ketika dia ramah dan tersenyum pada kita satu atau dua detik, atau sekedar berkata “Halo, apa kabar?” sambil tersenyum, pikiran kita mulai berpersepsi.
“Wah, ramah sekali. Kayaknya baik ya. Boljug nih, jadi pasangan… ” dan seterusnya.
Ketika anda sedang lelah, lalu teringat lagi padanya, kemudian muncul rasa ingin bertemu dengannya. Kita mulai berimajinasi. “Kayaknya enak kalau lagi capek begini ngobrol dengannya. Pasti kebaikannya bisa membuat saya terhibur. Kalau curhat pasti dia mau dengerin deh.”
Ketika kita melihat dia ramah pada anak-anak, maka pikiran kita berpersepsi lain lagi. “Wah, betapa dia seorang ibu/ayah yang ideal.”
Ketika kita sudah mulai berinteraksi satu-dua kali, ternyata tutur katanya ramah, santun, dan sebagainya. Pikiran kita mengambil indikator ini, “Ternyata orangnya baik. Enak diajak ngobrol. Pemikiran kita nyambung. Udah gitu humoris pula.” Ditambah lagi dengan data dari teman-teman kita, katanya dia orang baik, humoris, bertanggung jawab dan sebagainya.
Lalu dia mulai sering ada di pikiran kita. Sosok dia, dalam pikiran kita, kini sudah menjadi imajinasi satu kepribadian manusia yang utuh: orangnya baik, cantik/ganteng, ramah, cerdas, humoris, bertanggung jawab, dan seorang suami atau istri yang ideal. Sepotong senyum atau interaksi satu-dua kali, sudah cukup untuk membuat mekanisme kecerdasan kita membentuk satu sosok kepribadian yang utuh di dalam imajinasi kita. Dan sekarang, dengan adanya sosok yang utuh di dalam pikiran kita ini, kita mulai benar-benar jatuh cinta kepadanya. Ingat terus, kalau ditelepon atau ketemu merasa senang sekali, dan seterusnya, dan seterusnya.
Indikator-indikator kepribadian yang tadinya disimpan di kepala kita sebagai data, dengan kemampuan persepsi otak kita diolah menjadi suatu sosok yang utuh, dan akhirnya kita jatuh cinta dengan sosok ini. Indah sekali kan?
Pada tahap ini, kenapa kita bisa jatuh cinta hanya dengan satu senyum, atau satu-dua kali interaksi? Imajinasi. Itulah keunggulan mekanisme pikiran kita. Kita dibekali kemampuan berimajinasi tentang sesuatu, sehingga dari data yang sedikit bisa dipersepsikan, atau diimajinasikan, bagaimana sosok kepribadian orang itu dengan utuh.
Lalu semakin lama anda berinteraksi dengannya, mulai nampak pula hal-hal yang tidak terlalu kita sukai dari dirinya. Kita mulai menimbang-nimbang, berfikir positif atau negatif mengenai dirinya. Cinta kita sudah mulai memasuki tahap cinta rasional, bukan hanya cinta emosional. Rasa cinta tidak lagi demikian terasa dahsyat dan menggebu-gebu di dalam dada kita. Sekarang kita mulai ‘mendapatkan pengalaman’ (meng-experience) interaksi dengan dia yang sebenarnya.
Pada tahap ini, bisa jadi kita malah sebal, atau ternyata berkesimpulan tidak cocok dengannya. Atau jika kebetulan kita sampai di jenjang pernikahan, setelah sepuluh tahun menikah, misalnya, cinta kita tidak lagi terasa demikian emosional dan menyenangkan seperti ketika awal bertemu. Pada tahap ini, cinta kita sudah mulai menjadi cinta yang rasional dan dewasa. Diwarnai oleh tanggung jawab, peran sosial, kewajiban, pemakluman, dan lain sebagainya. Intinya, kini belum tentu ’semuanya indah sekali’ seperti dulu.
Lalu kenapa dulu rasa cinta itu bisa terasa demikian menyenangkan dan ‘dahsyat’ terasa di dalam dada? Sekali lagi, imajinasi. Dulu, sebenarnya kita jatuh cinta bukan pada dia, tapi jatuh cinta kepada ‘imajinasi kita tentang dia’. Kita jatuh cinta pada sosok dia yang ada di pikiran kita, bukan pada dia yang sebenarnya. Kini, setelah lama berinteraksi dengannya, kita mulai mengenal dia yang asli, bukan hanya imajinasinya. Dia yang asli, dengan ‘imajinasi kita tentang dia’ tentu berbeda.
Dia yang asli bisa kita kenali dengan interaksi dengannya, dan bukan melalui ‘imajinasi’ kita tentang dia.
Demikian juga dengan mengenal Tuhan. Sebenarnya, tidak cukup untuk mengenal Dia hanya dengan indikator sifat yang diperoleh ‘kata teman’, menurut buku, kata ustad, dan sebagainya. Kita selama ini hanya mendapatkan data tentang Dia dengan ‘katanya’. Kalau kita jujur pada diri kita sendiri, tanyakanlah: siapa Tuhan yang kita mengaku mencintai-Nya itu? Siapa yang kita sembah itu? Jawablah dengan jujur: kita benar-benar mencintai-Nya, atau baru mencintai imajinasi kita tentang diri-Nya, yang terbentuk di kepala kita?
Sudahkah kita mengenal Dia yang sebenarnya, dan bukan sosok Dia yang dalam imajinasi kita itu? Siapa yang kita sembah? Dia yang asli, atau Dia yang imajinasi kita? Padahal Tuhan tidak menerima penyembahan selain kepada Dia. Dia yang asli.
Seseorang yang memasuki disiplin sufi, sebenarnya adalah mereka yang ingin mengenal Dia secara real dan bukan imajinasi pikiran saja, bukan ‘kata orang’, justru karena tidak ingin jatuh pada kemusyrikan dengan terpeleset menyembah ‘Tuhan yang imajinasi’. Mereka ingin meng-experience pengenalan terhadap Tuhan yang sebenarnya (tentunya dengan sangat tidak mudah, karena Tuhan adalah sesuatu yang Maha Tinggi). Walaupun ini sangat sulit, tapi sebagian orang berusaha –berjihad– dengan segenap dirinya untuk menjalankan disiplin ini.
Dan karena pintu mengenal Tuhan adalah kesucian qalbu, maka mustahil pula orang yang mengaku menjalankan disiplin ini tanpa menjalankan syariat yang telah ditetapkan Qur’an dan Rasulullah saw. Kalau ada ’sufi’ (dalam tanda kutip) yang tidak shalat atau puasa, misalnya, sudah jelas dia hanya ‘mengaku-aku’ saja sedang menjalankan disiplin tasawuf. Mustahil qalbu bisa menjadi suci tanpa syari’at. Rasulullah adalah gerbang menuju Allah, maka setelah periode kenabian Muhammad s.a.w., tidak akan ada yang bisa mengenal Dia tanpa melalui Beliau dan apa yang Beliau bawa, termasuk syariat dan hakikatnya.
Maka sebagai panduan pertama kali (atau tepatnya: panduan mutlak sepanjang jalan), tentu melalui apa yang Beliau bawa: Al-Qur’an. Tapi, itu pun bukan makna Al-Qur’an yang ‘dipersepsikan’, melainkan makna Al-Qur’an yang sesungguhnya, yang ‘apa adanya’. Itulah sebabnya, di awal perjalanan untuk mengenal Allah kita terlebih dahulu harus mencari orang-orang yang sudah mampu menjangkau makna Al-Qur’an yang sesungguhnya, untuk mengajarkannya pada kita.
“Bagaimana jika sudah ma’rifat? Apakah syariat tidak lagi diperlukan? Maka shalat, puasa dan lain-lain tidak perlu lagi dong.. ” Nah, ini juga sebuah kesalahan umum yang sangat mendasar. Ma’rifat bukan akhir perjalanan. Ma’rifatullah (mengenal Allah) adalah proses akhir, bukan titik akhir. Perhatikan: proses, bukan titik. Dan semua orang yang benar-benar menjalankan disiplin tasawuf ini tahu, proses akhir ini adalah sebuah proses yang tidak akan pernah berakhir, karena Tuhan adalah Maha Tak Terbatas. Proses mengenal sesuatu yang tak terbatas akan berlangsung selama jangka waktu yang tak terbatas pula. Rasulullah, sebagai manusia yang paling mengenal Allah (paling ma’rifatullah) pun tidak pernah berhenti shalat.
Hanya bedanya dengan berinteraksi dengan manusia, kalau semakin mengenal manusia kita akan semakin mengenal kekurangannya pula, tapi jika dengan Tuhan, semakin berinteraksi dengan Tuhan, Karena Dia Maha Indah, maka semakin mengenal-Nya pun akan semakin jatuh cinta dan semakin jatuh cinta saja. Tapi bedanya, bukan cinta yang di-indoktrinasi ke kepala kita sendiri: “Saya mencintai Tuhan!! Alangkah indahnya Tuhan!!” dan semacamnya. Kecintaan pada tahap ini adalah sebuah ungkapan hati yang jujur. Sebuah cinta yang ‘dialami’, bukan cinta yang diindoktrinasikan ke kepala.
Mereka yang mengenal Allah, saking takjub dan terpesonanya dengan keindahan Dia, akan ‘mabuk’. Beberapa wali menjadi ‘romantis’, kemana-mana berpuisi tentang cinta dan rindu kepada-Nya dalam ke’mabuk’annya, seperti puisi-puisi Jalaluddin Rumi, Rabi’ah, dan lain-lain. Rumi sering mengumpamakan ke’mabuk’annya ini dengan anggur, atau ‘terbakar’ dalam cinta. Ia ‘hilang’ ditelan cinta kepada-Nya. As if they’re ‘mad’ for Allah, externally and internally.
Mengapa para Nabi, terutama Rasulullah saw., dalam hal ini lebih utama dari para wali? Karena meski cinta dan pengenalan Rasulullah terhadap Allah lebih tinggi daripada Nabi atau wali yang manapun, namun Beliau tetap sanggup menguasai dirinya, dan tidak ‘mabuk’. Beliau tetap bisa tampil seperti manusia biasa, dan tampak tidak tenggelam dalam mabuk cinta kepada-Nya. Externally sane while ‘madly in love’ internally, for Allah. Ini sebuah kualitas manusia yang ‘tidak manusiawi’, saking tingginya tingkat penguasaan dirinya.
Kembali ke persoalan.
Ma’rifat adalah proses akhir, dan justru menjadi awal beragama secara sejati. Inilah makna dari perkataan yang masyhur dari salah seorang sahabat Rasul Ali r.a.: “Awaluddiina Ma’rifatullah”. Awalnya Ad-Diin adalah mengenal Allah. Makrifat justru baru awalnya beragama, bukan tujuan. Karena dengan mengenal Dia yang sebenarnya, barulah seseorang berinteraksi dengan Ad-Diin yang sebenarnya pula. Jika seseorang hanya mengenal imajinasi dirinya sendiri tentang Allah, seharusnya perlu dipertanyakan apakah kita benar-benar berjalan di atas Diin (agama)? Atau kita hanya ‘berimajinasi’ tentang ad-Diin itu?
Demikian pula, seseorang belum bisa dikatakan sebagai seorang salik (pejalan, pencari Tuhan, pencari kebenaran hakiki/Al-Haqq) atau sedang menjalankan disiplin tasawuf, jika hanya membaca buku-buku tentang tasawuf dan sufi, atau menghadiri pertemuan dan ceramah tasawuf. Inti disiplin tasawuf dalam beragama adalah ‘mengalami’, experiencing, dan bukan ‘data tentang sufi’ atau persoalan agama. Dalam kacamata hakikat, seseorang belum berjalan di atas ad-diin jika semata-mata hanya ‘tahu banyak tentang ad-diin‘ dan dalil-dalinya tapi tidak menjalani, mengamalkan, atau meng-experience esensi maupun makna ad-diin.
Seberapa jauh bedanya? Sejauh beda antara ‘jatuh cinta’ dengan ‘membaca deskripsi tentang cinta’.
Sabtu, 02 Oktober 2010
tanda tanda tidak dapat kontrol marah
tanda anda tidak bisa kontrol amarah
Ada perbedaan antara seseorang yang marah dengan yang bermasalah dalam mengontrol emosi. Dr. Redford Williams, profesor psikologi di Duke University Medical Center, Amerika Serikat dan penulis buku 'In Control' mengungkap lima perbedaannya.
Jika tanda-tanda berikut dialami oleh Anda sebaiknya berkonsultasilah dengan psikiater atau psikolog.
1. Marah besar karena masalah kecil
Marah bisa memiliki efek positif. "Seringkali amarah memberitahu kita untuk melakukan sebuah tindakan," kata Dr. Williams, seperti dikutip dari cbsnews.com. Tetapi, jika rasa marah muncul dan meledak-ledak hanya karena persoalan kecil, bisa jadi pertanda bahwa seseorang mengalami kesulitan dalam mengontrol emosinya.
2. Interupsi
Seseorang yang marah akan cenderung menjadi orang yang tidak sabar. Apalagi jika tidak bisa mengontrol amarahnya. Orang tersebut akan bermasalah untuk menunggu orang lain mengemukakan pendapatnya. Hal yang dilakukannya kemudian adalah selalu menginterupsi. Meskipun dia diam saja dan membiarkan orang lain bicara, sebenarnya ia tidak mendengarkan.
3. Selalu protes
Menurut Dr. Williams, orang yang menghabiskan waktu untuk mengeluh tentang pelanggaran dan kekurangan orang lain mungkin memiliki masalah dengan amarahnya. Beberapa orang marah dengan kata-kata kasar bicara soal politik, olahraga atau hal lain. Semua racun itu datang dari sumber yang sama yaitu amarah.
4. Sulit memaafkan
Hubungan personal bisa menjadi mimpi buruk ketika seseorang mengalami kesulitan memaafkan orang yang telah menyakitinya di masa lalu. Orang-orang dengan masalah amarah seringkali mengalami kesulitan dalam memaafkan orang lain. Sebaliknya, mereka terus frustrasi untuk kembali pada pengalaman menyakitkan dan kebencian setiap kali mengingat kesalahan tersebut.
5. Wajah memerah
Saat emosi meninggi, wajah bisa terlihat merah. Ketika wajah merah, jika diukur dengan termometer suhu tubuh dalam keadaan tinggi. Kemarahan adalah efek yang jelas dari tubuh dan pikiran. Bahkan, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang sering marah cenderung memiliki tekanan darah tinggi dan mengalami stroke atau serangan jantung.
Ada perbedaan antara seseorang yang marah dengan yang bermasalah dalam mengontrol emosi. Dr. Redford Williams, profesor psikologi di Duke University Medical Center, Amerika Serikat dan penulis buku 'In Control' mengungkap lima perbedaannya.
Jika tanda-tanda berikut dialami oleh Anda sebaiknya berkonsultasilah dengan psikiater atau psikolog.
1. Marah besar karena masalah kecil
Marah bisa memiliki efek positif. "Seringkali amarah memberitahu kita untuk melakukan sebuah tindakan," kata Dr. Williams, seperti dikutip dari cbsnews.com. Tetapi, jika rasa marah muncul dan meledak-ledak hanya karena persoalan kecil, bisa jadi pertanda bahwa seseorang mengalami kesulitan dalam mengontrol emosinya.
2. Interupsi
Seseorang yang marah akan cenderung menjadi orang yang tidak sabar. Apalagi jika tidak bisa mengontrol amarahnya. Orang tersebut akan bermasalah untuk menunggu orang lain mengemukakan pendapatnya. Hal yang dilakukannya kemudian adalah selalu menginterupsi. Meskipun dia diam saja dan membiarkan orang lain bicara, sebenarnya ia tidak mendengarkan.
3. Selalu protes
Menurut Dr. Williams, orang yang menghabiskan waktu untuk mengeluh tentang pelanggaran dan kekurangan orang lain mungkin memiliki masalah dengan amarahnya. Beberapa orang marah dengan kata-kata kasar bicara soal politik, olahraga atau hal lain. Semua racun itu datang dari sumber yang sama yaitu amarah.
4. Sulit memaafkan
Hubungan personal bisa menjadi mimpi buruk ketika seseorang mengalami kesulitan memaafkan orang yang telah menyakitinya di masa lalu. Orang-orang dengan masalah amarah seringkali mengalami kesulitan dalam memaafkan orang lain. Sebaliknya, mereka terus frustrasi untuk kembali pada pengalaman menyakitkan dan kebencian setiap kali mengingat kesalahan tersebut.
5. Wajah memerah
Saat emosi meninggi, wajah bisa terlihat merah. Ketika wajah merah, jika diukur dengan termometer suhu tubuh dalam keadaan tinggi. Kemarahan adalah efek yang jelas dari tubuh dan pikiran. Bahkan, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang sering marah cenderung memiliki tekanan darah tinggi dan mengalami stroke atau serangan jantung.
bekal
Arti sebuah bekal
Sering kita dengar nasehat bijak, menggambarkan perjalanan hidup ini bagai menempuh perjalan musafir kelana.bahkan lebih sederhanan lagi ibarat sebuah perjalanan biasa, seperti kita pergi ke satu tujuan ,sesederhana apapun tentu itu adalah sebuah perjalanan yang dalam memulai sebuah perjalanan, biasanya kita harus sudah mempersiapkan bekal secukupnya. Kita selalu ingin memastikan bahwa bekal yang kita bawa cukup untuk memenuhi semua kebutuhan selama dalam perjalanan itu. Kita tidak ingin kehabisan bekal sebelum benar-benar menyelesaikan perjalanan itu, bukan? Ada banyak perjalanan yang pernah kita lakukan. Dan ada lebih banyak lagi perjalanan lain yang kita rencanakan. Namun, semua perjalanan itu terintegrasi dalam perjalanan utama yang paling hakiki. Dan kita menyebutnya perjalanan hidup. Untuk sebuah perjalanan yang sederhana saja, kita menyiapkan bekal yang sangat banyak. Maka seharusnya untuk pejalanan hidup; lebih banyak lagi bekal yang harus kita persiapkan. Tetapi, pertanyaannya apakah kita benar-benar telah mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan panjang itu? Padahal, jika kita gagal mempersiapkan bekal yang memadai; bisa jadi kita akan gagal menyelesaikan perjalanan ini. Sebab, bekal itu, tidak jarang bagaikan bensin bagi kendaraan yang kita gunakan untuk menempuhnya. Jika kita mempunyai bensin yang cukup, maka kita memiliki peluang untuk menyelesaikannya. Dan jika tidak, maka kita hanya akan teronggok disebuah tempat yang boleh jadi; kita tidak ingin berada disana. Disinilah bekal itu menjadi penting dan sudahkan itu pernah menjadi sebuah pemikiran kita?. Mbah yayin
Sering kita dengar nasehat bijak, menggambarkan perjalanan hidup ini bagai menempuh perjalan musafir kelana.bahkan lebih sederhanan lagi ibarat sebuah perjalanan biasa, seperti kita pergi ke satu tujuan ,sesederhana apapun tentu itu adalah sebuah perjalanan yang dalam memulai sebuah perjalanan, biasanya kita harus sudah mempersiapkan bekal secukupnya. Kita selalu ingin memastikan bahwa bekal yang kita bawa cukup untuk memenuhi semua kebutuhan selama dalam perjalanan itu. Kita tidak ingin kehabisan bekal sebelum benar-benar menyelesaikan perjalanan itu, bukan? Ada banyak perjalanan yang pernah kita lakukan. Dan ada lebih banyak lagi perjalanan lain yang kita rencanakan. Namun, semua perjalanan itu terintegrasi dalam perjalanan utama yang paling hakiki. Dan kita menyebutnya perjalanan hidup. Untuk sebuah perjalanan yang sederhana saja, kita menyiapkan bekal yang sangat banyak. Maka seharusnya untuk pejalanan hidup; lebih banyak lagi bekal yang harus kita persiapkan. Tetapi, pertanyaannya apakah kita benar-benar telah mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan panjang itu? Padahal, jika kita gagal mempersiapkan bekal yang memadai; bisa jadi kita akan gagal menyelesaikan perjalanan ini. Sebab, bekal itu, tidak jarang bagaikan bensin bagi kendaraan yang kita gunakan untuk menempuhnya. Jika kita mempunyai bensin yang cukup, maka kita memiliki peluang untuk menyelesaikannya. Dan jika tidak, maka kita hanya akan teronggok disebuah tempat yang boleh jadi; kita tidak ingin berada disana. Disinilah bekal itu menjadi penting dan sudahkan itu pernah menjadi sebuah pemikiran kita?. Mbah yayin
Langganan:
Postingan (Atom)