Imam Al Ghazali menulis sebuah buku
yang diberi judul Minhajul Abidin, yaitu tentang 7 tangga untuk sempurnakan
ibadah. Ke tujuh tangga tersebut adalah tangga ilmu dan makrifat, tangga tobat,
tangga godaan, tangga rintangan, tangga pendorong, tangga celaan, tangga puji
dan syukur. Apabila kita berhasil melampaui tujuan tangga tersebut, Insya Allah
ibadah kita akan sempurna.
Ternyata setelah penulis cermati, ke
tujuh tangga tersebut pas betul dengan prinsip SWOT ( strength, weakness,
opportunity dan threat ), yang dalam ilmu management dipakai untuk memperbaiki
kinerja sumber daya manusia, kegiatan maupun organisasi
Maka apabila ke tujuh tangga
tersebut di kemas ulang dalam formula SWOT hasilnya adalah sebagai berikut :
Strength / Kekuatan ,
Faktor-faktor yang menjadi kekuatan
dalam beribadah yaitu apa yang disebut dalam Minhajul Abidin, pertama ; ilmu
dan makrifat dan kedua pendorong.
Pertama , ilmu dan makrifat.
Sabda Rasulullah saw, “Ilmu
adalah imamnya amal dan amal adalah makmunnya, Allah memberikan ilmu kepada
orang-orang yang berbahagia, tidak kepada orang-orang celaka (H.R.
Abu Nuaim, Abu Thalib Al-Makki, Al-KHatib, dan Ibnu Qayyim). Mengapa harus
berilmu? Pertama agar berhasil dan benar dalam beribadah, kedua orang yang
berilmu tidak akan mudah tertipu. Dengan ilmu kita mengetahui mana yang benar
dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.
Sedangkan makrifat adalah ilmu untuk
mengenal 4 perkara , yaitu pertama mengenal dirinya, kedua mengenal Tuhannya,
ketiga mengenal dunia dan keempat mengenal akhirat.
Kedua, pendorong meliputi 2 hal yaitu takut (khauf) dan raja’ (harap).
Allah Ta’ala berfirman :” tetapi
takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman” ( QS, Ali
Imran:175 ). Berarti khauf merupakan syarat iman. Seseorang tidak dikatakan
beriman jika tidak takut kepada Allah Swt. Takut kepada Allah berarti takut
kepada nerakanya Allah dan takut kepada azabnya Allah. Dengan takut kepada
Allah akan memberikan kekuatan bagi kita untuk beribadah.
Sedangkan raja’ (mengharap) ialah
bersenang hati karena mengenal Allah, lapang pikirannya karena yakin akan
lapangnya rakhmat Allah. Lawan raja’ adalah putus asa dari rakhmat Allah dan
berhenti mengingat Allah. Dengan raja’ hati menjadi hidup. Harapan akan
memperoleh kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat juga akan memberikan
kekuatan dalam beribadah.
Weakness / Kelemahan,
Faktor-faktor yang menjadi kelemahan
kita dalam beribadah yaitu apa yang disebut dalam Minhajul Abidin sebagai
godaan dan celaan.
Dalam beribadah seseorang harus
dapat menahan diri dari segala macam godaan yang membuatnya bimbang dan wajib
membedakan mana yang lebih baik dan mana yang kurang baik, serta membuang
segala sesuatu yang sekiranya dapat merusak dan merugikan ibadah sehingga
menjadi tercela.
Ada 4 macam godaan, yaitu pertama
rezeki dan tuntutan hawa nafsu, kedua berbagai macam bahaya, ketiga takdir dan
keempat kesulitan dan musibah. Sedangkan celaan ada 2 macam, yaitu riya’ dan
ujub.
Pertama, rezeki dan tuntutan hawa
nafsu ;
Setiap muslim seharusnya
menggantungkan diri kepada Allah dalam urusan rezeki dan tuntutan. Orang yang
tidak menggantungkan diri kepada Allah tidak akan beribadah dengan baik, karena
pikirannya selalu terpusat pada rezeki, kebutuhan, dan urusan-urusan lain. Ia
selalu sibuk memburu rezeki, ia selalu memikirkan rezeki dengan perasaan
waswas. Pada akhirnya ia tidak peduli lagi apakah rezekinya itu diperoleh
dengan cara yang halal atau tidak. Cara mengatasinya tidak lain hanyalah dengan
bertawakal.
Allah berfirman :
“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha
Pemberi Rezeki “ (QS Adz Dzariyat : 58}“Dan tidak ada suatu binatang melatapun
di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya “ (QS Hud :6 )
Kedua, berbagai macam bahaya ;
Ada 2 bahaya yang mengharuskan kita
menyerahkan segala sesuatu kepada Allah.
Pertama , bahaya yang timbul dari sikap
ragu-ragu ketika menginginkan sesuatu. Sehingga dalam pelaksanaannya perlu
mengucapkan Insya Allah. Meskipun yang demikian tidak termasuk tafwid,
melainkan menyangkut niat dan amalan.
Kedua, bahaya merusak, yaitu suatu perbuatan
yang tidak diyakini adanya maslahat. Jadi perbuatan tersebut harus
ditinggalkan, karena kemungkinan perbuatan yang dilakukan mengandung dosa.
Untuk mengatasi kedua bahaya tersebut caranya hanyalah tidak lain berserah diri
kepada Allah.
Ketiga, takdir; sebagai hamba Allah kita harus ikhlas menerima takdir-Nya,
bagaimanapun keadaannya. Seseorang yang tidak ikhlas (rela) menerima takdir
Allah, hatinya selalu diliputi kesedihan. Sehingga ia selalu berkeluh kesah
dan mengeluh. Akibatnya ia tidak berkonsentrasi untuk beribadah kepada Allah
Swt. Ia tidak lagi sempat berzikir kepada Allah dan tidak ada waktu lagi
memikirkan akhirat. Orang yang ragu-ragu dan tidak ikhlas menerima takdir
Allah, mengadu kesana kemari, berarti mengadukan Tuhan Yang Maha Mulia.
Keempat, kesulitan dan musibah; dunia ini tempat ujian bagi manusia. Setiap manusia pasti
mengalami berbagai cobaan dan musibah. Dalam menghadapi semua cobaan itu kita
harus bersabar dan tahan uji. Orang yang tidak bersabar, tidak tahan uji,
tidak akan sampai ke tujuan. Sebab seseorang yang sudah berniat hendak
beribadah pasti akan menghadapi berbagai ujian dan kesukaran.
Kelima riya’ ; riya artinya setiap amalan yang kita kerjakan ingin
dilihat orang lain dengan harapan mendapatkan pujian. Riya’ termasuk syirik
kecil dan dapat merusak ibadah. Setiap amalan hendaknya dilandasi keikhlasan
dan semata-mata karena Lillahi Ta’ala.
Keenam ujub ; ujub artinya sombong. Sifat sombong dapat mengarah
kepada takabur. Ujub juga berarti mengagungkan diri, atau menganggap agung amal
yang telah dilakukan. Ujub menghalangi taufik dan takyid dari Allah. Sesorang
yang tidak mendapat taufik dan takyid dari Allah akan mudah celaka. Ujub juga
dapat merusak amal saleh dan menyebabkan hilangnya manfaat ibadah.
Opportunity / peluang,
Faktor-faktor yang menjadi peluang
kita dalam beribadah adalah pertama mendapat maghfirah (ampunan) dari Allah Swt
dan kedua limpahan rakhmat dan karunia Allah.
Pertama, ampunan Allah Swt :
Untuk mendapatkan ampunan dari Allah
Swt caranya adalah dengan bertobat. Mengapa harus bertobat ?
Pertama, agar kita taat. Kedua, agar ibadah kita diterima Allah Swt.
Rasulullah Saw bersabda : “ Yang
baik diantara kamu adalah yang sering tergoda tetapi selalu bertobat, selalu
kembali kepada Allah dengan perasaan menyesal atas dosanya dan dengan disertai
istighfar”.
Kedua, limpahan rakhmat dan karunia
Allah :
Untuk mendapatkan limpahan rakhmat
dan karunia Allah Swt caranya dengan selalu bersyukur kepada Allah
Swt. Mengapa harus bersyukur ? Pertama, agar kenikmatan yang sangat besar
yang diberikan Allah Swt tetap dikekalkan, sebab bila tidak disyukuri akan
hilang. Kedua agar nikmat yang telah kita dapatkan akan bertambah.
Allah Swt berfirman : “Sesungguhnya
jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi kalau
kalian kufur, ingatlah sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih “ .
(QS Ibrahim :7 ). Sesungguhnya syukur itu adalah mengagungkan Allah
Yang Memberi Nikmat, yakni mengukur nikmat-Nya agar kita tidak menjauhi diri
dan tidak bersifat kufur.
Threat / Ancaman/ Rintangan,
Faktor-faktor yang dapat menjadi
rintangan dalam beribadah ada empat, yaitu pertama dunia, kedua mahkluk, ketiga
syaitan dan keempat nafsu.
Pertama, dunia dan isinya ;
Yang dimaksud dunia di sini adalah
semua yang tidak punya manfaat di akhirat. Allah Swt berfirman : “ Dan
tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan
sesungguhnya negeri akhirat itulah sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui
“ ( QS Ankabut : 64 ). Kehidupan kita di dunia hanya sekerdipan mata
dibanding kehidupan akhirat. Tetapi banyak manusia lupa. Siang malam, seorang
sibuk mencari bekal dunia, dan hatinya tergoda oleh bermacam keinginan dan hawa
nafsu. Keduanya akan merintanginya untuk beribadah. Sebab perhatiannya hanya
satu, yakni dunia. Sekarang ini dunia memang nyata dan akhirat masih ghaib.
Nanti adalah sebaliknya, akhirat yang nyata dan dunia ghaib. Allah Swt juga
berfirman : “ Dunia ini ladangnya akhirat “. Apa saja yang kita usahakan
di dunia, hasilnya akan kita petik di akhirat. Sabda Rasulullah Saw : “ Barangsiapa
mencintai dunia, urusan akhiratnya akan tercecer. Dan barang siapa mencintai
akhirat, akan berkurang dunianya. Dan pilihlah yang kekal daripada yang cepat
binasa”. ( H.R. Bukhari dan Muslim ). Salman Al- Farisi r.a berkata,
‘Sesungguhnya jika hamba Allah berzuhud terhadap dunia, bersinarlah hatinya
dengan hikmah, dan anggota badannya saling menolong untuk beribadah’.
Kedua makhluk ;
Kebanyakan makhluk akan menghalangi
kita dari beribadah dengan memasukkan kebingungan-kebingungan dalam hati kita.
Bahkan terkadang menghalangi dan membawa kita kepada kejahatan dan
kebinasaan. Sebab kebanyakan dari mereka tidak mengetahui hak-hak kehambaan dan
hanya mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah. Untuk akhirat mereka
lalai dan tidak memikirkannya. Selain itu kebanyakan manusia dapat merusak
ibadah yang telah kita laksanakan. Dengan ajakannya yang menjurus kepada
perbuatan riya’ dan bermegah-megahan jika tidak ada perlindungan dari Allah.
Ketiga, setan :
Setan adalah nyata-nyata musuh yang
menyesatkan. Dirinya tidak dapat diharapkan adanya kebaikan dan perdamaian,
sebab mereka akan puas jika mampu membinasakan kita. Allah Swt berfirman :” Sesungguhnya
setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu… “ ( QS Al Fatir :
6 ). Sudah menjadi tabiat setan untuk selalu memusuhi anak cucu adam. Sedangkan
kita sering lalai akan hal itu.
Guna memerangi dan mengalahkan setan
menurut pendapat ulama ada tiga cara ;
Pertama , harus mengetahui tipu daya
setan, sehingga dia tidak akan berani mengganggu kita. Kedua, anggap remeh
ajakan setan, jangan memberi perhatian dan menghiraukan ajakannya. Setan ibarat
anjing menggonggong, jika dilayani ia akan terus menggonggong. Ketiga, berzikir
dengan lisan maupun hati. Sabda nabi Saw : ‘ Sesungguhnya zikrullah itu
menyakitkan setan. Seperti menderitanya anak Adam dengan penyakit yang
bersarang di lambungnya “
Keempat,hawa nafsu :
Kita harus berhati-hati terhadap
dorongan hawa nafsu yang akan menyeret kita berbuat kejahatan. Oleh karena itu
kita harus waspada karena hawa nafsu merupakan musuh dari dalam selain hawa
nafsu juga adalah musuh yang disukai. Nabi Yusuf As mengatakan : “ Dan aku
tidak akan membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu
selalu memerintahkan berbuat kejahatan, kecuali nafsu yang diberi Rakhmat oleh
Tuhan-ku. Sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ ( QS
Yusuf : 53 ). Kita harus mampu mengendalikan nafsu dengan niat yang kuat dan
menahan diri (wara’) dari perbuatan maksiat dan tidak berlebih-lebihan. Caranya
adalah dngan menjaga lima anggota tubuh ; yakni mata, telinga, lidah, hati dan
perut. Mata harus benar-benar dipelihara dan dikendalikan, karena seringkali
menjadi pangkal timbulnya fitnah dan penyakit sejenisnya. Allah Swt berfirman :
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan
pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci
bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”
(QS An Nur : 30 ). Telinga jangan sampai mendengar perkataan-perkataan kotor,
hina dan yang tidak bermanfaat. Mendengarkan sesuatu dapat menimbulkan dorongan
hati dan perasaan waswas. Mulut adalah anggota tubuh dan indera yang paling
usil dan paling banyak menimbulkan kerusakan. Untuk mempertahankan amal saleh
adalah dengan memelihara lisan. Sebab jika lisan tidak terkendali, ia akan
cenderung berbuat yang tidak karuan, mengumpat orang misalnya. Sebagian ulama
berpendapat :’ Barangsiapa banyak bicara, akan banyak pula lidahnya
tergelincir. Dan mengumpat ibarat halilintar yang menghapus taat’. Hati adalah
bagian tubuh manusia yang paling besar bahayanya, pengaruhnya paling kuat,
masalahnya paling pelik dan sukar. Paling halus dan sulit memperbaikinya. Hati
ibarat raja yang ditaati dan pemimpin yang disegani. Seluruh anggota badan
ibarat rakyatnya. Jika hatinya baik, baiklah seluruh anggota badan, sebagaimana
yang disabdakan Rasulullah Saw : “ Sesungguhnya dalam jasad manusia terdapat
segumpal darah yang apabila keadaannya baik, baik pula seluruh anggotanya. Dan
jika keadaanya rusak, akan rusak pula seluruh anggota badannya “. Perut,
wajib dijaga bagi orang yang hendak melaksanakan ibadah. Wajib bagi kita untuk
memelihara perut dari makanan yang diharamkan, selain menjaganya agar tidak
berlebih-lebihan.Orang yang makan makanan haram dan subhat tidak akan diberi
taufik dalam beribadah dan terhalang berbuat kebaikan. Sedangkan memakan
makanan halal berlebih-lebihan menyebabkan hati menjadi keras, akal dan pikiran
menjadi sempit dan malas beribadah.
Demikianlah SWOT untuk
menyempurnakan ibadah yang merupakan kemasan ulang Minhajul Abidin karya Imam
Al Ghazali dan mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita dan kita niat untuk
mengamalkannya