Titik sebuah konversi
Yang tertanam dalam benak kita pengamalan pejalan spiritual itu seharusnya melalui proses linier dan berjenjang dari level syariat, menuju tarekat, lalu menuju hakikat, dan akhirnya mencapai kesadaran makrifat. Namun kenyataanya pada kebanyakan babak perjuangan pencapaian, ternyata mereka yang getol pada syariat tidak juga naik naik tingkat ke level spiritual yang lebih tinggi, malahan semakin menjadi-jadi membuat diskriminasi komunal dan tak henti-henti membelenggu kebebasan berpikir dan keragaman. Seharusnya perjalanan spiritual itu meneladani Rasulullah, melangkah bukan dari level syariat dulu, tapi dari makrifat dulu. Heh,…dan itu pula yang dialami oleh para nabi dan orang-orang suci. Mereka mendapat pencerahan spiritual terlebih dahulu barulah mereka dapat menjalani kehidupan-kehidupannya yang lebih riil dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kesadaran makrifat adalah kesadaran sejati yang membuat seseorang menyadari dirinya sebagai manusia seutuh-utuhnya... Dan begitu pula yang dialami oleh para nabi dan orang-orang suci. Mereka mendapat pencerahan spiritual terlebih dahulu barulah mereka dapat menjalani kehidupan-kehidupannya yang lebih riil dan menjadi inspirasi bagi banyak orang... Dalam bahasa keagamaan kesadaran makrifat ini biasanya disebut wahyu, dalam bahasa spiritual biasanya disebut dengan pencerahan atau divine conciousness, sedangkan orang sekuler mungkin menyebutnya inspirasi atau vision. Tidak mudah untuk mencapai kesadaran makrifat, tetapi juga tidak susah, sebab kita tidak perlu menjadi sempurna dulu untuk mendapatkan secuil kesadaran makrifat. Ya, secuil kesadaran makrifat kalau direspons sungguh-sungguh akan mampu memantik tindakan besar, mengubah pola pikir, sikap dan perilaku seseorang konversi. Jadi kesadaran makrifat itu ada di mana-mana, kita tinggal mengasah kepekaan untuk menangkap kesadaran makrifat itu. Yudhistira telah menemukan kesadaran makrifatnya ketika bertemu bangau Yaksa, ibnu Abdullah menemukan kesadaran makrifatnya dengan Iqra’ setelah bertemu dengan jibril di Gua Hiro’, Sidharta Gautama telah menemukan kesadaran makrifatnya di bawah pohon bodhi,. Aristoteles menemukan kesadaran makrifatnya dari telur-telur ikan di dalam lumpur, Jesus menemukan kesadaran makrifatnya saat berpuasa di padang gurun, , Newton menemukan kesadaran makrifatnya dari apel yang jatuh, dan masih banyak lagi orang-orang besar yang lahir dari secuil kesadaran makrifat mereka. Bagai mana dengan kita. Mau yang regular.luama tak tercapai apa berani nekat trabas libas./mbah yayin
Yang tertanam dalam benak kita pengamalan pejalan spiritual itu seharusnya melalui proses linier dan berjenjang dari level syariat, menuju tarekat, lalu menuju hakikat, dan akhirnya mencapai kesadaran makrifat. Namun kenyataanya pada kebanyakan babak perjuangan pencapaian, ternyata mereka yang getol pada syariat tidak juga naik naik tingkat ke level spiritual yang lebih tinggi, malahan semakin menjadi-jadi membuat diskriminasi komunal dan tak henti-henti membelenggu kebebasan berpikir dan keragaman. Seharusnya perjalanan spiritual itu meneladani Rasulullah, melangkah bukan dari level syariat dulu, tapi dari makrifat dulu. Heh,…dan itu pula yang dialami oleh para nabi dan orang-orang suci. Mereka mendapat pencerahan spiritual terlebih dahulu barulah mereka dapat menjalani kehidupan-kehidupannya yang lebih riil dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Kesadaran makrifat adalah kesadaran sejati yang membuat seseorang menyadari dirinya sebagai manusia seutuh-utuhnya... Dan begitu pula yang dialami oleh para nabi dan orang-orang suci. Mereka mendapat pencerahan spiritual terlebih dahulu barulah mereka dapat menjalani kehidupan-kehidupannya yang lebih riil dan menjadi inspirasi bagi banyak orang... Dalam bahasa keagamaan kesadaran makrifat ini biasanya disebut wahyu, dalam bahasa spiritual biasanya disebut dengan pencerahan atau divine conciousness, sedangkan orang sekuler mungkin menyebutnya inspirasi atau vision. Tidak mudah untuk mencapai kesadaran makrifat, tetapi juga tidak susah, sebab kita tidak perlu menjadi sempurna dulu untuk mendapatkan secuil kesadaran makrifat. Ya, secuil kesadaran makrifat kalau direspons sungguh-sungguh akan mampu memantik tindakan besar, mengubah pola pikir, sikap dan perilaku seseorang konversi. Jadi kesadaran makrifat itu ada di mana-mana, kita tinggal mengasah kepekaan untuk menangkap kesadaran makrifat itu. Yudhistira telah menemukan kesadaran makrifatnya ketika bertemu bangau Yaksa, ibnu Abdullah menemukan kesadaran makrifatnya dengan Iqra’ setelah bertemu dengan jibril di Gua Hiro’, Sidharta Gautama telah menemukan kesadaran makrifatnya di bawah pohon bodhi,. Aristoteles menemukan kesadaran makrifatnya dari telur-telur ikan di dalam lumpur, Jesus menemukan kesadaran makrifatnya saat berpuasa di padang gurun, , Newton menemukan kesadaran makrifatnya dari apel yang jatuh, dan masih banyak lagi orang-orang besar yang lahir dari secuil kesadaran makrifat mereka. Bagai mana dengan kita. Mau yang regular.luama tak tercapai apa berani nekat trabas libas./mbah yayin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar