ABDULLAH
A Beautiful Mind
10 Okt 2010
SEJARAH MITONI
sejarah mitoni
Upacara Tingkeban adalah satu dari bermacam-macam tradisi upacara masyarakat Jawa, khususnya masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Upacara yang diadakan untuk memperingati tujuh bulan usia kandungan ini – hanya - dilakukan bagi wanita yang baru pertama kali mengalami kehamilan.
Dalam tradisi masyarakat Yogyakarta - baik dari golongan rakyat biasa maupun golongan bangsawan (priyayi) yang hidup di lingkungan kraton - upacara ini merupakan upacara terpenting diantara upacara-upacara tradisional yang lain. Jika upacara ini diabaikan, masyarakat Jawa - khususnya masyarakat di Yogyakarta - percaya bahwa hal tersebut akan mengakibatkan gangguan terhadap keselamatan ibu dan bayi yang dikandungnya. Disamping itu, banyak orang beranggapan bahwa melahirkan anak tanpa – sebelumnya - mengadakan upacara Tingkeban ini disebut ngebokake anak: menyamakan anak tersebut dengan seekor kerbau. Hal ini telah banyak dilukiskan oleh Clifford Geertz dalam bukunya yang berjudul The Religion of Java (20, 45). Oleh karena itu, masyarakat diharuskan mengadakan upacara Tingkeban walaupun dengan acara sederhana.
Sejarah atau asal usul terjadinya upacara Tingkeban di dalam masyarakat Jawa - khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta - akan diuraikan sebagai berikut:
Pada jaman kerajaan Kediri diperintah oleh Raja Jayabaya, ada seorang wanita yang bernama Niken Satingkeb. Ia menikah dengan seorang punggawa kerajaan yang bernama Sadiyo. Dari perkawinan ini, lahirlah sembilan orang anak. Akan tetapi, nasib malang menimpa mereka, karena dari kesembilan anak tersebut tak ada seorangpun yang berumur panjang.
Sadiyo dan Niken satingkeb tidak putus asa dalam berusaha dan selalu berdoa agar mempunyai anak lagi yang kelak tidak bernasib malang seperti anak-anak mereka sebelumnya. Segala petuah dan petunjuk dari siapa saja selalu mereka perhatikan, tetapi tidak ada juga tanda-tanda bahwa istrinya mengandung. Maka, pergilah suami istri tersebut menghadap raja untuk mengadukan kepedihan hatinya dan mohon petunjuk sarana apakah yang harus mereka lakukan agar dianugerahi seorang anak lagi yang tidak mengalami nasib seperti anak-anaknya terdahulu.
Sang raja yang arif bijaksana itu terharu mendengar pengaduan Nyai Niken Satingkeb dan suaminya. Maka, beliau memberikan petunjuk agar Nyai satingkeb - pada setiap hari Tumbak (Rabu) dan Budha (Sabtu) - harus mandi dengan air suci dengan gayung berupa tempurung kepala yang disebut bathok disertai dengan membaca doa seperti berikut:
"Hong Hyang Hanging Amarta, Martini Sarwa Huma, humaningsun ia wasesaningsun, ingsun pudyo sampurno dadyo manungso."
Setelah mandi, ia memakai pakaian yang serba bersih. Kemudian dijatuhkan dua butir kelapa gading melalui jarak antara perut dan pakaian. Kelapa gading tersebut digambari Sang Hyang Wisnu dan Dewi Sri atau Arjuna dan Sumbadara. Maksudnya adalah agar jika kelak anaknya lahir, ia mempunyai paras elok atau cantik seperti yang dimaksud dalam gambar itu. Selanjutnya, wanita yang hamil itu harus melilitkan daun tebu wulung pada perutnya yang kemudian dipotong dengan keris.
Segala petuah dan anjuran sang raja itu dijalankannya dengan cermat, dan ternyata segala yang mereka minta dikabulkan. Semenjak itu, upacara ini diwariskan turun-temurun dan menjadi tradisi wajib bagi masyarakat Jawa.
Mitos
Simbolisasi Keyakinan Yang Tidak Berdasar
Ada harapan besar dari setiap hal yang dilakukan oleh orang tua demi menyambut kelahiran buah hatinya. Namun seringkali hal itu justru mengarah pada kesesatan-kesesatan yang jelas-jelas dibenci oleh Allah Ta'ala. Diperlukan ketelitian dalam memilah dan memilih mana yang tepat untuk dilakukan dengan bersandar pada Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Anak adalah anugrah yang diberikan Allah, sebagai satu amanah yang harus dijalankan dengan baik. Kehadiran anak bagi orang tua, terlebih anak pertama mampu membawa kenambah keharmonisan hubungan dalam keluarga. Untuk itu, orang tua seringkali melakukan berbagai upaya agar anak yang dilahirkan memperoleh kemudahan baik dari proses kelahiran hingga pada kulitas fisik ataupun mental sang anak. Tidak jarang, upaya yang dilakukan oleh terkesan "asal manut" pada orang-orang yang dianggap lebih tua atau lebih pandai, tanpa memahami lebih dalam makna dan tujuan upaya tersebut.
Kehadiran anak yang masih dalam kandungan (bayi) menjadi perhatian khusus bagi calon orang tua. Dari segi kesehatan, calon ibu senantiasa dengan sabar memeriksakan kandungannya ke dokter secara periodik agar kesehatan bayi terjaga. Tidak cukup disitu, berbagai rangkaian upara pada bulan-bulan tertentu pun disiapkan demi keyakinan membawa pengaruh positif bagi sang bayi yang masih dalam kandungan itu.
Di jawa, proses kehamilan mendapat perhatian tersendiri bagi masyarakat setempat. Harapan-harapan muncul terhadap bayi dalam kandungan, agar mampu menjadi generasi yang handal dikemudian hari. Untuk itu, dilaksanakan beberapa tradisi yang dirasa mampu mewujudkan keinginan mereka terhadap anak tersebut. Diantara tradisi tersebut adalah upacara mitoni. Mitoni sendiri berasal dari kata pitu yang artinya tujuh. Ini dimaksudkan bahwa mitoni adalah ritual yang dilaksanakan pada saat bayi menginjak usia tujuh bulan dalam kandungan. Ada keyakinan bahwa upacara ini berpengaruh terhadap keselamatan bagi sang ibu dan anak yang ada dalam kandungan. Secara umum, tradisi mitoni ini terdiri atas beberapa tahapan, diantaranya upacara siraman. Tahap ini dimaksudkan sebagai simbol pembersihan atas segala kejahatan dari bapak dan ibu bayi. Setelah siraman, ritual kemudian dilanjutkan dengan memasukkan telor ayam kampung ke dalam kain calon ibu oleh sang suami. Masyarakat setempat meyakini bahwa hal itu merupakan perwujudan harapan agar proses kelahiran sang bayi dapat berjalan dengan lancar tanpa halangan apapun. Acara kemudian dilanjutkan dengan memasukkan kelapa gading muda dari perut atas sang ibu hingga kebawah dengan maksud untuk menghindari rintangan saat kelahiran sang bayi nantinya. Selain itu, dalam proses ritual mitoni ini terdapat pula proses ganti baju. Sang ibu akan berganti pakaian dalam tujuh motif, kemudian para tamu diminta untuk memilih salah satu dari tujuh kain tersebut yang cocok untuk sang ibu. Lalu, prosesi berlanjut ke pemutusan lawe/ lilitan benang atau janur oleh sang ayah. Tujuannya juga sama, agar proses kelahiran nanti berjalan lancar. Dalam upacara mitoni inipun terdapat acara pemecahan gayung atau periuk, dengan maksud ketika nanti sang ibu mengandung kembali tidak menemukan kendala yang berarti. Setelah itu, sang ibu diminta untuk meminum jamu sebagai sorongan/ dorongan dengan maksud agar bayi mampu keluar dengan cepat dan lancar seperti didorong dari dalam. Setelah semua prosesi tersebut berjalan, acara mitoni kemudian ditutup dengan proses mencuri telor. Seorang bapak berharap proses kelahiran sang anak mampu berjalan cepat sebagaimana kecepatan pencuri ketika beraksi.
Mitoni tidak bisa dilakukan pada hari-hari biasa. Dibutuhkan tanggal dan hari yang bagus menurut perhitungan jawa agar tak ada halangan yang menimpa nantinya. Tidak hanya itu, prosesi ini juga membutuhkan tempat khusus dalam melaksanakannya. Umumya, acara mitoni dilakukan pada siang atau sore hari di pasren atau tempat bagi para petani memuja dewi Sri. Namun karena saat ini sulit menemukan tempat tersebut, maka pelaksanaan mitoni dapat dilakukan di ruang tengah atau ruang keluarga yang cukup untuk menampung kehadiran tamu.
Harapan berbuah dosa
Malihat prosesi dan keyakinan diatas, para ulama memberi perhatian serius terhadap masalah ini. Bila mitoni itu diyakini dan atau dikaitkan dengan agama, sehingga menyebabkan ketakutan jika tidak melaksanakannya, maka hal ini jelas menyimpang dari syariat islam. Karena Allah tidak mensyariatkan hal tersebut sehingga akan mengarah pada upaya muhdatsatul umur atau menambahi agama dan tergolong bid'ah yang sesat.
Akan tetapi, jika acara ini tidak diyakini sebagai bagian dari ibadah maka para ulama mempunyai pendapat yang berbeda. Sebagian ulama melarang jenis ritual seperti ini, karena tidak ada syariat yang mendasarinya. Tujuannya tak lain untuk membendung rusaknya agama dari munculnya bid'ah yang jelas-jelas dilarang agama. Karena bagaimanapun, Islam telah disempurnakan bagi umat manusia sebagai jalan yang lurus menuju ridho Allah Ta'ala. Dari situ dapat diambil kesimpulan, bahwa harapan yang terkandung dalam prosesi mitoni mampu dicapai dengan ibadah yang telah ditetapkan dalam syariat. Jika dilihat lebih dalam, pelaksanaan mitoni ini syarat dengan keyakinan-keyakinan yang mengarah pada terbentuknya penyandaran diri selain kepada Allah. Ini dapat dilihat dari penentuan hari dalam pelaksanaannya, proses siraman untuk menghilangkan kejahatan hingga simbol mencuri telor demi cepatnya proses kelahiran. Keyakinan-keyakinan ini jelas tidak berdasar, sehingga mampu menyeret pelakunya pada lembah syirik yang jelas-jelas dibenci oleh Allah.
Meski begitu, terdapat pula beberapa ulama yang memandang bahwa tidak semua bentuk aktivitas budaya masyarakat itu harus ditinggalkan, selama tidak mengandung unsur syirik, dosa, mudharat dan bertentangan dengan agama. Sehingga, jika pelaksanaan mitoni ini mampu menghindari unsur-unsur diatas, maka hal itu tidak dilarang.
Islam Hadir Dengan Kesempurnaan Bagi UmatSemua kembali kepada dasar yang ada untuk menentukan hukum tentang masalah mitoni ini. Alasan yang melandasi sebagian ulama dalam melarang ritual ini sangat jelas, terlebih jika terjadi benturan-benturan terhadap aturan syariat dalam prosesinya. Namun begitu, juga terdapat ulama yang memperbolehkan pelaksanaan ritual mitoni, dengan catatan menghindari unsur-unsur yang dilarang agama. Hanya saja, jika meninjau pelaksanaan mitoni yang telah berlaku, maka sangat jelas unsur-unsur yang mengarah pada kesyirikan di dalamnya.
Apakah 3bulanan, Tingkepan dalam masa kehamilan adalah ajaran Islam?
Seorang mantan Pandita Hindu ditanya;
[Sebelum masuk Islam beliau bernama Pandita Budi Winarno, setelah masuk Islam bernama Abdul Aziz]
Pertanyaan : Apakah Telonan, Mitoni dan Tingkepan dari ajaran Islam ?
[Telonan : Upacara 3 bulan masa kehamilan, Mitoni dan Tingkepan : Upacara 7 Bulan masa kehamilan; biasanya dengan mandi-mandi]
Jawab : Telonan, Mitoni dan Tingkepan yang sering kita jumpai di tengah-tengah masyarkat adalah teradisi masyarakat Hindu. Upacara ini dilakukan dalam rangka memohon keselamatan anak yang ada di dalam rahim (kandungan). Upacara ini biasa disebut Garba Wedana [garba : perut, Wedana : sedang mengandung]. Selama bayi dalam kandungan dibuatkan tumpeng selamatan Telonan, Mitoni, Tingkepan [terdapat dalam Kitab Upadesa hal. 46]
Intisari dari sesajinya adalah :
1. Pengambean, yaitu upacara pemanggilan atman (urip).
2. Sambutan, yaitu upacara penyambutan atau peneguhan letak atman (urip) si jabang bayi.
3. Janganan, yaitu upacara suguhan terhadap "Empat Saudara" [sedulur papat] yang menyertai kelahiran sang bayi, yaitu : darah, air, barah, dan ari-ari. [orang Jawa menyebut : kakang kawah adi ari-ari]
Hal ini dilakukan untuk panggilan kepada semua kekuatan-kekuatan alam yang tidak kelihatan tapi mempunyai hubungan langsung pada kehidupan sang bayi dan juga pada panggilan kepada Empat Saudara yang bersama-sama ketika sang bayi dilahirkan, untuk bersama-sama diupacarai, diberi pensucian dan suguhan agar sang bayi mendapat keselamatan dan selalu dijaga oleh unsur kekuatan alam.
Sedangkan upacara terhadap ari-ari, ialah setelah ari-ari terlepas dari si bayi lalu dibersihkan dengan air yang kemudian dimasukkan ke dalam tempurung kelapa selanjutnya dimasukkan ke dalam kendil atau guci. Ke dalamnya dimasukkah tulisan "AUM" agar sang Hyang Widhi melindungi. Selain itu dimasukkan juga berbagai benda lain sebagai persembahan kepada Hyang Widhi. Kendil kemudian ditanam di pekarangan, di kanan pintu apabila bayinya laki-laki, di kiri pintu apabila bayinya perempuan.
Kendil yang berisi ari-ari ditimbun dengan baik, dan pada malam harinya diberi lampu, selama tiga bulan. Apa yang diperbuat kepada si bayi maka diberlakukan juga kepada Empat Saudara tersebut. Kalau si bayi setelah dimandikan, maka airnya juga disiramkan kepada kendil tersebut. (Kitab Upadesa, tentang ajaran-ajaran Agama Hindu, oleh : Tjok Rai Sudharta, MA. dan Drs. Ida Bagus Oka Punia Atmaja, cetakan kedua 2007)
Dikutip dari buku : Santri Bertanya Mantan Pendeta (Hindu) Menjawab
_________________________________________________________________
KETERANGAN TAMBAHAN ;
*1. KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA (NU) KE-5 Di Pekalongan, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1349 H / 7 September 1930 M. Lihat halaman : 58.
Pertanyaan :
Bagaimana hukumnya melempar kendi yang penuh air hingga pecah pada waktu orang-orang yang menghadiri UPACARA PERINGATAN BULAN KE TUJUH dari umur kandungan pulang dengan membaca shalawat bersama-sama, dan dengan harapan supaya mudah kelahiran anak kelak. Apakah hal tersebut hukumnya haram karena termasuk membuang-buang uang (tabzir) ?
Jawab :
Ya, perbuatan tersebut hukumnya H A R A M karena termasuk tabdzir.
*2. KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA (NU) KE-7 Di Bandung, pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1351 H / 9 Agustus 1932 M. Lihat halaman : 71.
Menanam ari-ari (masyimah/tembuni) hukumnya sunnah. Adapun menyalakan lilin (lampu) dan menaburkan bunga-bunga di atasnya itu hukumnya H A R A M, karena membuang-buang harta (tabzir) yang tidak ada manfa'atnya.
______________________
*Dikutip dari buku : "Masalah Keagamaan" hasil Muktamar/Munas Ulama NU ke I s/d XXX (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang, Kata Pengantar Menteri Agama Maftuh Basuni.
Wallahu 'alam.
Sabtu, 18 Desember 2010
Jumat, 17 Desember 2010
sejarah tahun hijriah
Sejarah Tahun Hijriyah
Sesungguhnya Allah menjadikan matahari sebagai titik tolak dalam mengetahui pergantian musim dalam setiap tahun, dan bulan sebagai perhitungan hari, bulan dan tahun. Di mana Allah jadikan dalam setiap tahun 12 bulan. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)
Dua belas bulan yang diterangkan dalam ayat ini adalah bulan-bulan yang sudah diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin. Yaitu Muharam, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqadah dan Dzulhijjah.
Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” [1]
Lalu Apa Saja Empat Bulan Suci Tersebut?
Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” [2]
Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.
Lalu Kenapa Bulan-bulan Tersebut Dinamakan Bulan Haram?
Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” [3]
Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram.
Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”
Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” [4]
Sandaran yang Benar untuk Menghitung Pergantian Bulan
Salah satu kemudahan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, Dia jadikan perhitungan hari, bulan dan tahun berdasarkan munculnya hilal (bulan sabit), yang muncul dari arah barat di saat matahari tenggelam. Hal ini bisa diketahui oleh semua pihak baik individu maupun masyarakat umum. Bila telah terlihat hilal, maka masuklah malam itu sebagai bulan baru dan berakhirlah bulan yang lalu. Dari sini diketahui, bahwa perhitungan waktu sehari-hari dihitung sejak tenggelamnya matahari, bukan dari terbitnya, karena awal bulan dihitung dengan tenggelamnya matahari.
Salah satu bukti terhadap hal ini adalah adanya perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya untuk melihat hilal dalam menentukan bulan Ramadhan dan Syawwal. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Apabila kalian melihatnya (hilal) maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya maka berbukalah. Namun bila mendung menghalangi kalian, perkirakanlah.” (Muttafaqun ‘alaih)
Darimana Perhitungan Tahun Islam Dimulai?
Pada zaman Khalifah Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, beliau mengumpulkan manusia untuk membicarakan darimana dimulainya tahun Islam. Dan ini terjadi kurang lebih pada tahun 16 H atau 17 H. Kemudian muncullah berbagai pendapat, di antaranya:
Pertama: Dihitung dari kelahiran Rasulullah
Kedua: Dihitung dari kematian beliau
Ketiga: Dihitung dari hijrahnya beliau
Keempat: Dihitung sejak beliau menjadi rasul.
Kemudian diputuskan oleh Umar bin Khaththab, bahwa dimulainya perhitungan tahun Islam adalah dari hijrahnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena sejak disyariatkannya hijrah, Allah Ta’ala telah memisahkan antara yang haq dan yang batil. Pada waktu itu pula awal pendirian negara Islam.
Bulan Apakah sebagai Permulaan Tahun Baru Islam?
Setelah ditentukannya awal perhitungan tahun Islam, terjadi silang pendapat untuk menentukan bulan apa yang dipakai sebagai sebagai permulaan tahun baru. Ada yang berpendapat Rabi’ul Awwal, karena di waktu itu dimulai perintah hijrah dari Makkah ke Madinah. Pendapat lain mengatakan bulan Ramadhan, karena di bulan itu diturunkannya Al-Qur’an. Namun silang pendapat ini tidak berjalan lama, setelah sebagian besar dari kalangan sahabat seperti Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum ajma’in sepakat, bahwa tahun baru Islam dimulai dari bulan Muharram. Di mana di bulan itu banyak hal-hal atau aktifitas yang diharamkan. Di antaranya tidak boleh mengadakan peperangan, kecuali dalam keadaan diserang maka diperbolehkan melawannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah), dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. Dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 191)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishash. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu maka seranglah ia seimbang dengan seranganya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 194)
Dari sinilah dikatakannya Muharram sebagai bulan haram.
Adakah Sebutan Lain bagi Bulan Muharram?
Jika kita lihat dari beberapa kalender yang menyebar di zaman kita, di sana tertulis pengganti Muharram ini dengan istilah Syura. Kata ini pun sering kita dengar di masyarakat awam. Wallahu a’lam, mungkin persepsi ini muncul dari suatu hadits Rasulullah yang menerangkan keutamaan puasa di hari Asyura. Para ulama bersilang pendapat, apakah kata Asyura merupakan bahasa Arab atau bukan. Pendapat yang benar adalah kata ini didengar dari bangsa Arab sehingga ia dikategorikan sebagai bahasa Arab. Kata Asyura menurut sebagian berasal dari kata Asyir yang artinya kesepuluh (hari kesepuluh di bulan Muharram).
Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa di hari Asyura (kesepuluh) dan beliau memerintahkan untuk berpuasa padanya.” (HR. Bukhari 4/214, Muslim 1130, dan Abu Dawud 2444)
b>Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)
Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” [5]
Bulan Muharram betul-betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya. [6]
Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qodir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan, ”Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ’Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ’Baitullah’ (rumah Allah) atau ’Alullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram inilah yang menggunakan nama Islami. Nama bulan ini sebelumnya adalah Shofar Al Awwal. Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah, sedangkan bulan inilah yang memakai nama islami dan disebut Muharram. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan Ramadhan. Adapun melakukan puasa tathowwu’ (puasa sunnah) pada sebagian bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Dzulhijah. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.” [7]
Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?” Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram). [8]
Dengan melihat penjelasan Az Zamakhsyari dan Abul Fadhl Al ’Iroqiy di atas, jelaslah bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sangat utama dan istimewa.
Sesungguhnya Allah menjadikan matahari sebagai titik tolak dalam mengetahui pergantian musim dalam setiap tahun, dan bulan sebagai perhitungan hari, bulan dan tahun. Di mana Allah jadikan dalam setiap tahun 12 bulan. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)
Dua belas bulan yang diterangkan dalam ayat ini adalah bulan-bulan yang sudah diketahui oleh kebanyakan kaum muslimin. Yaitu Muharam, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqadah dan Dzulhijjah.
Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” [1]
Lalu Apa Saja Empat Bulan Suci Tersebut?
Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” [2]
Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.
Lalu Kenapa Bulan-bulan Tersebut Dinamakan Bulan Haram?
Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” [3]
Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram.
Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”
Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” [4]
Sandaran yang Benar untuk Menghitung Pergantian Bulan
Salah satu kemudahan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, Dia jadikan perhitungan hari, bulan dan tahun berdasarkan munculnya hilal (bulan sabit), yang muncul dari arah barat di saat matahari tenggelam. Hal ini bisa diketahui oleh semua pihak baik individu maupun masyarakat umum. Bila telah terlihat hilal, maka masuklah malam itu sebagai bulan baru dan berakhirlah bulan yang lalu. Dari sini diketahui, bahwa perhitungan waktu sehari-hari dihitung sejak tenggelamnya matahari, bukan dari terbitnya, karena awal bulan dihitung dengan tenggelamnya matahari.
Salah satu bukti terhadap hal ini adalah adanya perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya untuk melihat hilal dalam menentukan bulan Ramadhan dan Syawwal. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Apabila kalian melihatnya (hilal) maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya maka berbukalah. Namun bila mendung menghalangi kalian, perkirakanlah.” (Muttafaqun ‘alaih)
Darimana Perhitungan Tahun Islam Dimulai?
Pada zaman Khalifah Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, beliau mengumpulkan manusia untuk membicarakan darimana dimulainya tahun Islam. Dan ini terjadi kurang lebih pada tahun 16 H atau 17 H. Kemudian muncullah berbagai pendapat, di antaranya:
Pertama: Dihitung dari kelahiran Rasulullah
Kedua: Dihitung dari kematian beliau
Ketiga: Dihitung dari hijrahnya beliau
Keempat: Dihitung sejak beliau menjadi rasul.
Kemudian diputuskan oleh Umar bin Khaththab, bahwa dimulainya perhitungan tahun Islam adalah dari hijrahnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena sejak disyariatkannya hijrah, Allah Ta’ala telah memisahkan antara yang haq dan yang batil. Pada waktu itu pula awal pendirian negara Islam.
Bulan Apakah sebagai Permulaan Tahun Baru Islam?
Setelah ditentukannya awal perhitungan tahun Islam, terjadi silang pendapat untuk menentukan bulan apa yang dipakai sebagai sebagai permulaan tahun baru. Ada yang berpendapat Rabi’ul Awwal, karena di waktu itu dimulai perintah hijrah dari Makkah ke Madinah. Pendapat lain mengatakan bulan Ramadhan, karena di bulan itu diturunkannya Al-Qur’an. Namun silang pendapat ini tidak berjalan lama, setelah sebagian besar dari kalangan sahabat seperti Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum ajma’in sepakat, bahwa tahun baru Islam dimulai dari bulan Muharram. Di mana di bulan itu banyak hal-hal atau aktifitas yang diharamkan. Di antaranya tidak boleh mengadakan peperangan, kecuali dalam keadaan diserang maka diperbolehkan melawannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah), dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. Dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 191)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishash. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu maka seranglah ia seimbang dengan seranganya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 194)
Dari sinilah dikatakannya Muharram sebagai bulan haram.
Adakah Sebutan Lain bagi Bulan Muharram?
Jika kita lihat dari beberapa kalender yang menyebar di zaman kita, di sana tertulis pengganti Muharram ini dengan istilah Syura. Kata ini pun sering kita dengar di masyarakat awam. Wallahu a’lam, mungkin persepsi ini muncul dari suatu hadits Rasulullah yang menerangkan keutamaan puasa di hari Asyura. Para ulama bersilang pendapat, apakah kata Asyura merupakan bahasa Arab atau bukan. Pendapat yang benar adalah kata ini didengar dari bangsa Arab sehingga ia dikategorikan sebagai bahasa Arab. Kata Asyura menurut sebagian berasal dari kata Asyir yang artinya kesepuluh (hari kesepuluh di bulan Muharram).
Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa di hari Asyura (kesepuluh) dan beliau memerintahkan untuk berpuasa padanya.” (HR. Bukhari 4/214, Muslim 1130, dan Abu Dawud 2444)
b>Bulan Muharram adalah Syahrullah (Bulan Allah)
Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” [5]
Bulan Muharram betul-betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya. [6]
Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qodir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan, ”Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ’Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ’Baitullah’ (rumah Allah) atau ’Alullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut. Bulan Muharram inilah yang menggunakan nama Islami. Nama bulan ini sebelumnya adalah Shofar Al Awwal. Bulan lainnya masih menggunakan nama Jahiliyah, sedangkan bulan inilah yang memakai nama islami dan disebut Muharram. Bulan ini adalah seutama-utamanya bulan untuk berpuasa penuh setelah bulan Ramadhan. Adapun melakukan puasa tathowwu’ (puasa sunnah) pada sebagian bulan, maka itu masih lebih utama daripada melakukan puasa sunnah pada sebagian hari seperti pada hari Arofah dan 10 Dzulhijah. Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rojab. Bulan Muharram memiliki keistimewaan demikian karena bulan ini adalah bulan pertama dalam setahun dan pembuka tahun.” [7]
Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?” Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram). [8]
Dengan melihat penjelasan Az Zamakhsyari dan Abul Fadhl Al ’Iroqiy di atas, jelaslah bahwa bulan Muharram adalah bulan yang sangat utama dan istimewa.
Selasa, 09 November 2010
air lautan masing masing arus takna becampur stu sama yang lain
Lautan yang Tidak Bercampur Satu Sama Lain
Terdapat gelombang besar, arus kuat, dan gelombang pasang di Laut Tengah dan Samudra Atlantik. Air Laut Tengah memasuki Samudra Atlantik melalui selat Jibraltar. Namun suhu, kadar garam, dan kerapatan air laut di kedua tempat ini tidak berubah karena adanya penghalang yang memisahkan keduanya.
Salah satu di antara sekian sifat lautan yang baru-baru ini ditemukan adalah berkaitan dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut:
"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing." (Al Qur'an, 55:19-20)
Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan "tegangan permukaan", air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)
Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, hal ini dinyatakan dalam Al Qur’an.
Terdapat gelombang besar, arus kuat, dan gelombang pasang di Laut Tengah dan Samudra Atlantik. Air Laut Tengah memasuki Samudra Atlantik melalui selat Jibraltar. Namun suhu, kadar garam, dan kerapatan air laut di kedua tempat ini tidak berubah karena adanya penghalang yang memisahkan keduanya.
Salah satu di antara sekian sifat lautan yang baru-baru ini ditemukan adalah berkaitan dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut:
"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing." (Al Qur'an, 55:19-20)
Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan "tegangan permukaan", air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)
Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, hal ini dinyatakan dalam Al Qur’an.
al quran dan penemuan baru
Fenomena Alam
Al-Qur’an yang diturunkan 14 abad yang lalu, telah menyebutkan fakta-fakta ilmu pengetahuan yang baru belakangan ditemukan oleh para ahli ilmu pengetahuan terkemuka. Ini membuktikan tanpa keraguan bahwa Al-Qur’an merupakan kata-kata harfiah dari Allah, yang diwahyukan kepada Muhammad dan membuktikan pula bahwa Muhammad adalah Nabi dan utusan Allah. Tidak mungkin seseorang dari 14 abad yang lalu mengetahui fakta-fakta yang baru saja ditemukan oleh manusia dengan menggunakan peralatan modern serta metode-metode yang canggih.
Diantara sekian banyak fakta ilmu pengetahuan yang kini telah ditemukan oleh para ahli, salah satunya adalah tentang fenomena alam. Beberapa ilmuwan barat maupun timur belakangan telah meyakini bahwa segala fenomena yang telah terjadi di alam ini, dan setelah melalui berbagai macam penelitian mendalam dan menghabiskan waktu bertahun-tahun, ternyata telah dikemukakan jauh sebelumnya pada 14 abad yang lalu dalam Al-Qur’an melalui seseorang bernama Muhammad sang utusan Allah. “Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat dengan keaslian gaya , kebijakan dan kebenaran.” Tutur Rev. R. Bosworth-Smith, pengarang buku Mohammed and Mohammeddanism.
Lebih dari 14 abad yang lalu Al-Qur’an telah mengabarkan “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.” (QS. Al-Anbiya : 30). Prof. Alfred Kroner, sang Guru besar Geologi dan Kepala Departemen Geologi Universitas Johannes Guttenburg Jerman, mengatakan bahwa para ilmuwan baru menyimpulkan fenomena itu beberapa tahun terakhir dengan menggunakan metode tekhnologi maju dan canggih bahwa alam raya ini mula-mula berasal dari suatu kesatuan yang tunggal. Prof. Alfred Kroner pun mengemukakan kekagumannya akan apa yang telah digambarkan Al-Qur’an itu.
Prof. Siaveda, ahli geologi terbaik dari Jepang dalam penelitiannya mengatakan, pegunungan darat dan pegunungan laut keduanya memiliki akar yang terpancang di bumi dan akar itu berfungsi sebagai peyangga gunung-gunung. Prof. Siaveda juga menggambarkan bentuk semua gunung baik yang di darat maupun di laut, adalah berbentuk pasak. Hal ini telah dikemukakan dalam Al-Qur’an dalam surat Annaji’at : 32, “Dan gunung-gunung Ia pancangkan dengan kuat.”. begitu juga dengan “Dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS. An-Naba : 7). Prof. Siaveda, juga mengatakan tentang fungsi-fungsi gunung-gunung itu dan menyatakan bahwa mereka memainkan peranan penting dalam menstabilkan kulit bumi. Dan ini sama persis dengan apa yang digambarkan Al-Qur’an, “Dan Dia memancangkan gunung-gunung di atas bumi, supaya tidak menggoyangkan kamu.” (QS. An-Nahl : 15).
Berkenaan dengan laut dan samudra, Prof. William W Hay, Guru besar Geologi di Universitas Colorado Amerika Serikat, mengatakan bahwa tubuh air tidaklah merupakan laut yang homogen, akan tetapi mereka merupakan laut-laut yang berbeda, yang dibedakan dari derajat keasinan (salinitas/kadar garam), suhu serta kerapatannya, di mana masing-masing tidak bercampur satu dengan yang lain. Rupanya teori ini telah juga dikemukakan dalam Al-Qur’an 14 abad silam, saat belum ditemukan tekhnologi canggih untuk dapat melihat keheterogenannya air laut. Al-Qur’an mejelaskan, “Ia telah membiarkan bebas (maraja) kedua laut saling bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak saling melanggar. (QS. Ar-Rahman : 19-20). Prof. William W Hay mengatakan, ini sungguh keajaiban dari teks kuno yang bernama Al-Qur’an.
Prof. Yoshihide Kozai, Direktur National Astronomical Observatory Jepang, mengatakan bahwa dahulu seluruh cakrawala hanyalah berupa liputan asap. Dan beliau sangat terkesan ketika mengetahui di dalam Al-Qur’an ada satu ayat yang menjelaskan demikian, yaitu “Dan kemudian perencanan-Nya meliputi langit yang masih berupa asap. Ia mengatakan kepadanya dan kepada bumi : bergabunglah, suka atau tidak suka. Mereka berkata : kami bergabung dengan tunduk dan senang.” (QS. As-Sajadah : 11). Prof. Yoshihide Kozai begitu kagum dengan menemukan fakta astronomi yang sebenarnya dalam Al-Qur’an. Beliau juga percaya bahwa Al-Qur’an bukanah buatan manusia biasa, melainkan karya Yang Maha Khalik, sang Pencipta manusia dan seluruh jagad raya yaitu Allah SWT.
Al-Qur’an dengan keajaiabannya juga telah menguak tabir tentang bagaimana terjadinya hujan dan petir. Dalam satu ayat, “Tidaklah kau lihat bagaimana Allah membuat awan bergerak dengan tenang, kemudian menggabungkannya bersama, dan kemudian menumpukknya, dan kemudian kau lihat hujan turun daripadanya.” (QS. An-Nur : 43). Ahli meteorology telah mempelajari bagaimana awan cumulonimbus terbentuk dan bagaimana mereka menghasilkan hujan, hujan es dan kilat. Semua itu terjadi melalui tiga tahapan, yaitu : Awan terdorong oleh angin sehingga terbentuk awan cumulonimbus, penggabungan menjadi awan yang lebih besar, dan penumpukan. Ahli meteorology juga telah menemukan bahwa awan-awan cumulonimbus, yang bisa menimbulkan hujan es, dapat mencapai ketinggian 25.000 sampai 30.000 kaki (4,7 – 5,7 mil), seperti gunung-gunung, dan ini juga telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Dan Ia turunkan hujan es dari gunung-gunung (awan) di langit…” (QS. An-Nur : 43).
Mukjizat Abadi
Al-Qur’an adalah salah satu mukjizat Nabi Muhammad yang masih abadi hingga saat ini, bahkan hingga akhir zaman. Kemukjizatan Al-Qur’an diakui baik oleh orang Arab maupun orang Ajam (Non Arab), baik oleh orang yang beriman maupun orang yang kafir. Dari segi keindahannya, sejak dulu hingga sekarang bahkan hingga akhir zaman pun tidak ada satu kitab yang bisa menandingi keindahan gaya bahasa Al-Qur’an. Sudah banyak sastrawan yang menciptakan puisi-puisi untuk menandingi Al-Qur’an. Namun tidak satupun diantara mereka yang berhasil.
Selain memiliki gaya bahasa yang indah, Al-Qur’an juga terjaga sepanjang masa. Jaminan bahwa Al-Qur’an terjaga sepanjang masa ini sudah dijelaskan Allah dalam firmannya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr : 9).
Tidak ada satu huruf pun yang bisa ditambahkan di dalam A-Qur’an dan tidak ada satu huruf pun yang bisa dikurangi dari Al-Qur’an. Bahkan tidak ada satu titik pun yang boleh digeser dari satu huruf ke huruf lain. Apabila ada orang yang mencoba melakukan perubahan terhadap Al-Qur’an niscaya akan diketahui dengan mudah. Karena begitu banyak para penghafal Al-Qur’an dari masa ke masa. Dan tidak ada satu kitab pun yang ada di dunia ini yang abadi seperti abadinya Al-Qur’an.(disarikan dari berbagai sumber)
Ahmad Ushtuchri, SE
Al-Qur’an yang diturunkan 14 abad yang lalu, telah menyebutkan fakta-fakta ilmu pengetahuan yang baru belakangan ditemukan oleh para ahli ilmu pengetahuan terkemuka. Ini membuktikan tanpa keraguan bahwa Al-Qur’an merupakan kata-kata harfiah dari Allah, yang diwahyukan kepada Muhammad dan membuktikan pula bahwa Muhammad adalah Nabi dan utusan Allah. Tidak mungkin seseorang dari 14 abad yang lalu mengetahui fakta-fakta yang baru saja ditemukan oleh manusia dengan menggunakan peralatan modern serta metode-metode yang canggih.
Diantara sekian banyak fakta ilmu pengetahuan yang kini telah ditemukan oleh para ahli, salah satunya adalah tentang fenomena alam. Beberapa ilmuwan barat maupun timur belakangan telah meyakini bahwa segala fenomena yang telah terjadi di alam ini, dan setelah melalui berbagai macam penelitian mendalam dan menghabiskan waktu bertahun-tahun, ternyata telah dikemukakan jauh sebelumnya pada 14 abad yang lalu dalam Al-Qur’an melalui seseorang bernama Muhammad sang utusan Allah. “Al-Qur’an adalah sebuah mukjizat dengan keaslian gaya , kebijakan dan kebenaran.” Tutur Rev. R. Bosworth-Smith, pengarang buku Mohammed and Mohammeddanism.
Lebih dari 14 abad yang lalu Al-Qur’an telah mengabarkan “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.” (QS. Al-Anbiya : 30). Prof. Alfred Kroner, sang Guru besar Geologi dan Kepala Departemen Geologi Universitas Johannes Guttenburg Jerman, mengatakan bahwa para ilmuwan baru menyimpulkan fenomena itu beberapa tahun terakhir dengan menggunakan metode tekhnologi maju dan canggih bahwa alam raya ini mula-mula berasal dari suatu kesatuan yang tunggal. Prof. Alfred Kroner pun mengemukakan kekagumannya akan apa yang telah digambarkan Al-Qur’an itu.
Prof. Siaveda, ahli geologi terbaik dari Jepang dalam penelitiannya mengatakan, pegunungan darat dan pegunungan laut keduanya memiliki akar yang terpancang di bumi dan akar itu berfungsi sebagai peyangga gunung-gunung. Prof. Siaveda juga menggambarkan bentuk semua gunung baik yang di darat maupun di laut, adalah berbentuk pasak. Hal ini telah dikemukakan dalam Al-Qur’an dalam surat Annaji’at : 32, “Dan gunung-gunung Ia pancangkan dengan kuat.”. begitu juga dengan “Dan gunung-gunung sebagai pasak.” (QS. An-Naba : 7). Prof. Siaveda, juga mengatakan tentang fungsi-fungsi gunung-gunung itu dan menyatakan bahwa mereka memainkan peranan penting dalam menstabilkan kulit bumi. Dan ini sama persis dengan apa yang digambarkan Al-Qur’an, “Dan Dia memancangkan gunung-gunung di atas bumi, supaya tidak menggoyangkan kamu.” (QS. An-Nahl : 15).
Berkenaan dengan laut dan samudra, Prof. William W Hay, Guru besar Geologi di Universitas Colorado Amerika Serikat, mengatakan bahwa tubuh air tidaklah merupakan laut yang homogen, akan tetapi mereka merupakan laut-laut yang berbeda, yang dibedakan dari derajat keasinan (salinitas/kadar garam), suhu serta kerapatannya, di mana masing-masing tidak bercampur satu dengan yang lain. Rupanya teori ini telah juga dikemukakan dalam Al-Qur’an 14 abad silam, saat belum ditemukan tekhnologi canggih untuk dapat melihat keheterogenannya air laut. Al-Qur’an mejelaskan, “Ia telah membiarkan bebas (maraja) kedua laut saling bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak saling melanggar. (QS. Ar-Rahman : 19-20). Prof. William W Hay mengatakan, ini sungguh keajaiban dari teks kuno yang bernama Al-Qur’an.
Prof. Yoshihide Kozai, Direktur National Astronomical Observatory Jepang, mengatakan bahwa dahulu seluruh cakrawala hanyalah berupa liputan asap. Dan beliau sangat terkesan ketika mengetahui di dalam Al-Qur’an ada satu ayat yang menjelaskan demikian, yaitu “Dan kemudian perencanan-Nya meliputi langit yang masih berupa asap. Ia mengatakan kepadanya dan kepada bumi : bergabunglah, suka atau tidak suka. Mereka berkata : kami bergabung dengan tunduk dan senang.” (QS. As-Sajadah : 11). Prof. Yoshihide Kozai begitu kagum dengan menemukan fakta astronomi yang sebenarnya dalam Al-Qur’an. Beliau juga percaya bahwa Al-Qur’an bukanah buatan manusia biasa, melainkan karya Yang Maha Khalik, sang Pencipta manusia dan seluruh jagad raya yaitu Allah SWT.
Al-Qur’an dengan keajaiabannya juga telah menguak tabir tentang bagaimana terjadinya hujan dan petir. Dalam satu ayat, “Tidaklah kau lihat bagaimana Allah membuat awan bergerak dengan tenang, kemudian menggabungkannya bersama, dan kemudian menumpukknya, dan kemudian kau lihat hujan turun daripadanya.” (QS. An-Nur : 43). Ahli meteorology telah mempelajari bagaimana awan cumulonimbus terbentuk dan bagaimana mereka menghasilkan hujan, hujan es dan kilat. Semua itu terjadi melalui tiga tahapan, yaitu : Awan terdorong oleh angin sehingga terbentuk awan cumulonimbus, penggabungan menjadi awan yang lebih besar, dan penumpukan. Ahli meteorology juga telah menemukan bahwa awan-awan cumulonimbus, yang bisa menimbulkan hujan es, dapat mencapai ketinggian 25.000 sampai 30.000 kaki (4,7 – 5,7 mil), seperti gunung-gunung, dan ini juga telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, “Dan Ia turunkan hujan es dari gunung-gunung (awan) di langit…” (QS. An-Nur : 43).
Mukjizat Abadi
Al-Qur’an adalah salah satu mukjizat Nabi Muhammad yang masih abadi hingga saat ini, bahkan hingga akhir zaman. Kemukjizatan Al-Qur’an diakui baik oleh orang Arab maupun orang Ajam (Non Arab), baik oleh orang yang beriman maupun orang yang kafir. Dari segi keindahannya, sejak dulu hingga sekarang bahkan hingga akhir zaman pun tidak ada satu kitab yang bisa menandingi keindahan gaya bahasa Al-Qur’an. Sudah banyak sastrawan yang menciptakan puisi-puisi untuk menandingi Al-Qur’an. Namun tidak satupun diantara mereka yang berhasil.
Selain memiliki gaya bahasa yang indah, Al-Qur’an juga terjaga sepanjang masa. Jaminan bahwa Al-Qur’an terjaga sepanjang masa ini sudah dijelaskan Allah dalam firmannya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr : 9).
Tidak ada satu huruf pun yang bisa ditambahkan di dalam A-Qur’an dan tidak ada satu huruf pun yang bisa dikurangi dari Al-Qur’an. Bahkan tidak ada satu titik pun yang boleh digeser dari satu huruf ke huruf lain. Apabila ada orang yang mencoba melakukan perubahan terhadap Al-Qur’an niscaya akan diketahui dengan mudah. Karena begitu banyak para penghafal Al-Qur’an dari masa ke masa. Dan tidak ada satu kitab pun yang ada di dunia ini yang abadi seperti abadinya Al-Qur’an.(disarikan dari berbagai sumber)
Ahmad Ushtuchri, SE
Kamis, 21 Oktober 2010
tangisan baginda rasul
Tangis baginda rasul
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling rendah hati, meskipun dia memiliki segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang sekarang, dia seperti sebuah pohon yang berbuah. Menurut sebuah riwayat, beliau bersabda, “Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada semua manusia, untuk bersikap baik hati kepada mereka. Tidak ada Nabi yang sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku.”
Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya, ditanggalkan giginya, lututnya berdarah karena lemparan batu, tubuhnya dilumuri kotoran, rumahnya dilempari kotoran ternak. Beliau dihina, dan disiksa dengan keji. Saat beliau berdakwah di Tha’if, tak ada yang didapatkannya kecuali hinaan dan pengusiran yang keji. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyadari usaha dakwahnya itu tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Tha’if, tapi penduduk Tha’if tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang mengenai Nabi demikian hebat sehingga tubuh beliau berlumuran darah.
Dalam perjalanan pulang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. Di sana, beliau berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian, Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kata malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah Tuan. Jika Tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”
Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”
Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada orang-orang yang pernah menyiksanya, “Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan kulakukan terhadapmu?” Mereka menangis dan berkata, “Engkau adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia.” Nabi bersabda, “Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian.” (HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi’i).
Abu Sufyan bin Harits, sepupu beliau, lari dengan membawa semua anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Ali bin Abi Thalib radiallahu ‘anhu bertanya kepadanya, “Hai Abu Sufyan, hendak pergi ke manakah kamu?” Ia menjawab, “Aku akan keluar ke Padang Sahara. Biarlah aku dan anak-anakku mati karena lapar, haus, dan tidak berpakaian.”
Ali bertanya, “Mengapa kamu lakukan itu?” Ia menjawab, “Jika Muhammad menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi potongan-potongan kecil.”
Ali berkata, “Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” (QS. Yusuf [12]: 91).
Abu Sufyan pun kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdiri di dekat kepalanya, lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” (QS. Yusuf [12]: 91).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menengadahkan pandangannya, sedang air matanya membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan menyitir firman-Nya, “…Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf [12]: 92).
Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Bacakan al-Quran kepadaku.” Ibnu Mas’ud berkata, “Bagaimana aku membacakannya kepada engkau sementara al-Quran itu sendiri diturunkan kepada engkau?” “Aku ingin mendengarnya dari orang lain,” jawab beliau. Lalu Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisaa’ hingga firman-Nya, “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. an-Nisaa’ [4]: 41).”
Begitu bacaan tiba pada ayat ini, beliau bersabda, “Cukup.” Ibnu Mas’ud melihat ke arah beliau, dan terlihatlah olehnya bahwa beliau sedang menangis.
Dalam kisah ini kita memperoleh pelajaran berharga, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai umat manusia. Beliau sangat mengharapkan agar orang-orang kafir itu beriman. Karena balasan kekafiran adalah neraka yang menyala-nyala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah melihat neraka.
Beliau melihat sungguh mengerikan neraka itu. Hingga ketika menyadari hal itu, mengalirlah air matanya dengan deras. Abu Dzar radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mendirikan shalat malam, sambil menangis dengan membaca satu ayat yang diulang-ulangi, yaitu, “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau juga.” (QS. al-Maa’idah [5]: 118).
Dan diriwayatkan saat hari kiamat tiba, beliaulah orang yang pertama kali dibangkitkan. Yang diucapkannya pertama kali adalah, “Mana umatku? Mana umatku? Mana umatku?” Beliau ingin masuk surga bersama-sama umatnya. Beliau kucurkan syafaat kepada umatnya sebagai tanda kecintaan beliau terhadap mereka. Beliau juga sering berdoa, “Allahumma salimna ummati.” Ya Allah selamatkan umatku.
Keadaan diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam digambarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. at-Taubah [9]: 129).
Alangkah buruknya akhlak kita bila tak mencintai Rasul sebagaimana beliau mencintai kita, berkorban untuk kita, dan meneteskan air matanya untuk kita.
Di sini, apakah kita hanya berdiam diri saat Nabi dihina, seolah kita bukan lagi umatnya. Apakah kita rela Nabi berdakwah seorang diri dan kemudian dilempari batu hingga berdarah-darah, sementara umatnya yang begitu banyak hanya bisa berdiam diri?
Tangisan sang Nabi hendaknya menjadi pengingat kita, untuk lebih mencintainya, membelanya, bahkan berkorban nyawa untuknya, sebagaimana ia telah berkorban nyawa untuk kita agar kita selamat dari siksa neraka.
Ya Allah, berilah kami karunia untuk mencintai Nabi-Mu dan menapaki jalannya yang lurus, bukan sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan.
Ya Allah, curahkan shalawat untuk Muhammad selama siang masih berganti malam,
Ya Allah, curahkanlah shalawat untuk Muhammad selama ahli dzikir dan para shalihin melantunkan dzikirnya,
Ya Allah, kumpulkanlah kami dengan Nabi kami Muhammad di Surga Firdaus yang tinggi dan sejukkanlah pandangan dan mata hati kami dengan melihatnya dan berilah kami kesempatan untuk minum dari telaganya, hingga kami tidak akan haus dan dahaga selamanya.
Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad atas segenap keluarga dan sahabat beliau.
sumber:http://nisrinareligi.wordpress.com/2010/10/17/tangisan-rasulullah/
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling rendah hati, meskipun dia memiliki segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang sekarang, dia seperti sebuah pohon yang berbuah. Menurut sebuah riwayat, beliau bersabda, “Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada semua manusia, untuk bersikap baik hati kepada mereka. Tidak ada Nabi yang sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku.”
Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya, ditanggalkan giginya, lututnya berdarah karena lemparan batu, tubuhnya dilumuri kotoran, rumahnya dilempari kotoran ternak. Beliau dihina, dan disiksa dengan keji. Saat beliau berdakwah di Tha’if, tak ada yang didapatkannya kecuali hinaan dan pengusiran yang keji. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyadari usaha dakwahnya itu tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Tha’if, tapi penduduk Tha’if tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang mengenai Nabi demikian hebat sehingga tubuh beliau berlumuran darah.
Dalam perjalanan pulang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. Di sana, beliau berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian, Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kata malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah Tuan. Jika Tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”
Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”
Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada orang-orang yang pernah menyiksanya, “Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan kulakukan terhadapmu?” Mereka menangis dan berkata, “Engkau adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia.” Nabi bersabda, “Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian.” (HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi’i).
Abu Sufyan bin Harits, sepupu beliau, lari dengan membawa semua anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Ali bin Abi Thalib radiallahu ‘anhu bertanya kepadanya, “Hai Abu Sufyan, hendak pergi ke manakah kamu?” Ia menjawab, “Aku akan keluar ke Padang Sahara. Biarlah aku dan anak-anakku mati karena lapar, haus, dan tidak berpakaian.”
Ali bertanya, “Mengapa kamu lakukan itu?” Ia menjawab, “Jika Muhammad menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi potongan-potongan kecil.”
Ali berkata, “Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” (QS. Yusuf [12]: 91).
Abu Sufyan pun kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdiri di dekat kepalanya, lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” (QS. Yusuf [12]: 91).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menengadahkan pandangannya, sedang air matanya membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan menyitir firman-Nya, “…Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf [12]: 92).
Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Bacakan al-Quran kepadaku.” Ibnu Mas’ud berkata, “Bagaimana aku membacakannya kepada engkau sementara al-Quran itu sendiri diturunkan kepada engkau?” “Aku ingin mendengarnya dari orang lain,” jawab beliau. Lalu Ibnu Mas’ud membaca surat an-Nisaa’ hingga firman-Nya, “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (QS. an-Nisaa’ [4]: 41).”
Begitu bacaan tiba pada ayat ini, beliau bersabda, “Cukup.” Ibnu Mas’ud melihat ke arah beliau, dan terlihatlah olehnya bahwa beliau sedang menangis.
Dalam kisah ini kita memperoleh pelajaran berharga, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai umat manusia. Beliau sangat mengharapkan agar orang-orang kafir itu beriman. Karena balasan kekafiran adalah neraka yang menyala-nyala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah melihat neraka.
Beliau melihat sungguh mengerikan neraka itu. Hingga ketika menyadari hal itu, mengalirlah air matanya dengan deras. Abu Dzar radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mendirikan shalat malam, sambil menangis dengan membaca satu ayat yang diulang-ulangi, yaitu, “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau juga.” (QS. al-Maa’idah [5]: 118).
Dan diriwayatkan saat hari kiamat tiba, beliaulah orang yang pertama kali dibangkitkan. Yang diucapkannya pertama kali adalah, “Mana umatku? Mana umatku? Mana umatku?” Beliau ingin masuk surga bersama-sama umatnya. Beliau kucurkan syafaat kepada umatnya sebagai tanda kecintaan beliau terhadap mereka. Beliau juga sering berdoa, “Allahumma salimna ummati.” Ya Allah selamatkan umatku.
Keadaan diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam digambarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. at-Taubah [9]: 129).
Alangkah buruknya akhlak kita bila tak mencintai Rasul sebagaimana beliau mencintai kita, berkorban untuk kita, dan meneteskan air matanya untuk kita.
Di sini, apakah kita hanya berdiam diri saat Nabi dihina, seolah kita bukan lagi umatnya. Apakah kita rela Nabi berdakwah seorang diri dan kemudian dilempari batu hingga berdarah-darah, sementara umatnya yang begitu banyak hanya bisa berdiam diri?
Tangisan sang Nabi hendaknya menjadi pengingat kita, untuk lebih mencintainya, membelanya, bahkan berkorban nyawa untuknya, sebagaimana ia telah berkorban nyawa untuk kita agar kita selamat dari siksa neraka.
Ya Allah, berilah kami karunia untuk mencintai Nabi-Mu dan menapaki jalannya yang lurus, bukan sebagai orang yang sesat lagi menyesatkan.
Ya Allah, curahkan shalawat untuk Muhammad selama siang masih berganti malam,
Ya Allah, curahkanlah shalawat untuk Muhammad selama ahli dzikir dan para shalihin melantunkan dzikirnya,
Ya Allah, kumpulkanlah kami dengan Nabi kami Muhammad di Surga Firdaus yang tinggi dan sejukkanlah pandangan dan mata hati kami dengan melihatnya dan berilah kami kesempatan untuk minum dari telaganya, hingga kami tidak akan haus dan dahaga selamanya.
Shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi kita Muhammad atas segenap keluarga dan sahabat beliau.
sumber:http://nisrinareligi.wordpress.com/2010/10/17/tangisan-rasulullah/
Rabu, 20 Oktober 2010
arti sebuah bekal
Arti sebuah bekal
Sering kita dengan nasehat bijak, menggambarkan perjalanan hidup ini bagai menempuh perjalan musafir kelanayang sedang mengarungi dan melintasi pada pasir nan jauh menuju tanah harapan,tentu dalam menempuh perjalalan panjangnya harus dapat menyediakan perbekalan yng cukup dan juga tidak akan memberati bawaannya,.bahkan lebih sederhanan lagi ibarat sebuah perjalanan biasa, seperti kita pergi ke satu tujuan sesederhanan apapun perjalan itu,tentu itu adalah sebuah perjalanan yang dalam memulai, biasanya kita mempersiapkan bekal secukupnya. Kita selalu ingin memastikan bahwa bekal yang kita bawa cukup untuk memenuhi semua kebutuhan selama dalam perjalanan itu. Kita tidak ingin kehabisan bekal sebelum benar-benar menyelesaikan perjalanan itu, bukan? Ada banyak perjalanan yang pernah kita lakukan. Dan ada lebih banyak lagi perjalanan lain yang kita rencanakan. Namun, semua perjalanan itu terintegrasi dalam perjalanan utama yang paling hakiki. Dan kita menyebutnya perjalanan hidup. Untuk sebuah perjalanan yang sederhana saja, kita menyiapkan bekal yang sangat banyak. Maka – sejatinya – untuk pejalanan hidup; lebih banyak lagi bekal yang harus kita persiapkan. Tetapi, pertanyaannya apakah kita benar-benar telah mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan panjang itu? Padahal, jika kita gagal mempersiapkan bekal yang memadai; bisa jadi kita akan gagal menyelesaikan perjalanan ini. Sebab, bekal itu, tidak jarang bagaikan bensin bagi kendaraan yang kita gunakan untuk menempuhnya. Jika kita mempunyai bensin yang cukup, maka kita memiliki peluang untuk menyelesaikannya. Dan jika tidak, maka kita hanya akan teronggok disebuah tempat yang boleh jadi; kita tidak ingin berada disana. Disinilah bekal itu menjdi penting dan sudahkah itu pernah menjadi sebuah pemikiran kita?. Mbah yayin
Sering kita dengan nasehat bijak, menggambarkan perjalanan hidup ini bagai menempuh perjalan musafir kelanayang sedang mengarungi dan melintasi pada pasir nan jauh menuju tanah harapan,tentu dalam menempuh perjalalan panjangnya harus dapat menyediakan perbekalan yng cukup dan juga tidak akan memberati bawaannya,.bahkan lebih sederhanan lagi ibarat sebuah perjalanan biasa, seperti kita pergi ke satu tujuan sesederhanan apapun perjalan itu,tentu itu adalah sebuah perjalanan yang dalam memulai, biasanya kita mempersiapkan bekal secukupnya. Kita selalu ingin memastikan bahwa bekal yang kita bawa cukup untuk memenuhi semua kebutuhan selama dalam perjalanan itu. Kita tidak ingin kehabisan bekal sebelum benar-benar menyelesaikan perjalanan itu, bukan? Ada banyak perjalanan yang pernah kita lakukan. Dan ada lebih banyak lagi perjalanan lain yang kita rencanakan. Namun, semua perjalanan itu terintegrasi dalam perjalanan utama yang paling hakiki. Dan kita menyebutnya perjalanan hidup. Untuk sebuah perjalanan yang sederhana saja, kita menyiapkan bekal yang sangat banyak. Maka – sejatinya – untuk pejalanan hidup; lebih banyak lagi bekal yang harus kita persiapkan. Tetapi, pertanyaannya apakah kita benar-benar telah mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan panjang itu? Padahal, jika kita gagal mempersiapkan bekal yang memadai; bisa jadi kita akan gagal menyelesaikan perjalanan ini. Sebab, bekal itu, tidak jarang bagaikan bensin bagi kendaraan yang kita gunakan untuk menempuhnya. Jika kita mempunyai bensin yang cukup, maka kita memiliki peluang untuk menyelesaikannya. Dan jika tidak, maka kita hanya akan teronggok disebuah tempat yang boleh jadi; kita tidak ingin berada disana. Disinilah bekal itu menjdi penting dan sudahkah itu pernah menjadi sebuah pemikiran kita?. Mbah yayin
Senin, 18 Oktober 2010
khutbah jumat kutamaan amalan di bulan dzulhijjah
Khutbah tentang keutamaa amalan di bulan dzul hijjah
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ للهِ القَوِيِّ المَتِينِ، سُبْحَانَهُ خَلَقَ الإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ، وَهَدَاهُ لِلْمَنْهَجِ القَوِيمِ، وَسَنَّ شَرَائِعَ فِيهَا القُوَّةُ وَالتَّمكِينُ، بِحِكْمَتِهِ نُؤْمِنُ، وَبِقُدْرَتِهِ نُوقِنُ، عَلَيْهِ نَتَوَكَّلُ، وَإِيَّاهُ نَستَعِينُ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى بِمَا هُوَ لَهُ أَهْلٌ مِنَ الْحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيَّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، لَمْ يَزَلْ مُتَوَكِّلاً عَلَى رَبِّهِ، وَاثِقًا بِوَعدِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَعَلَى كُلِّ مَنْ اقْتَفَى أَثَرَهُ وَتَرَسَّمَ خُطَاهُ إِلَى يَومِ الدِّينِ.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102] .
{ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا } [النساء: 1] .
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Segala puji hanyalah milik Allah. Maka tiada hal lain yang lebih pantas untuk kita ucapkan setalah menyadari nikmat-nikmatNya, kecuali memuji-Nya dengan segala pujian yang diajarkan-Nya kepada kita. Lalu hati kita juga khusyu’ mensyukuri nikmat-nikmat itu, seraya memimpin anggota bada kita untuk tunduk dan taat dalam menjalankan ibadah semata-mata kepada-Nya. Hanya dengan integrasi ketiga bentuk amal itulah syukur kita menemukan hakikatnya.
Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah,
Kita saat ini tengah berada di penghujung bulan Dzulqa’dah. Kurang dari sepekan kita akan memasuki bulan Dzulhijjah 1430 H. Dengan demikian kita telah 2 bulan keluar dari madrasah Ramadhan, dan kini bersiap dengan tarbiyah Allah SWT yang lain, yakni madrasah Dzulhijjah.
Mengapa disebut madrasah Dzulhijjah? Karena pada bulan ini ada tiga ibadah besar yang sarat dengan nilai-nilai tarbiyah; haji, shalat idul adha dan qurban. Di samping ada pula ibadah sunnah muakkad bagi yang tidak menunaikan haji yakni puasa arafah.
Ayyuhal muslimuun rahimakumullah,
Karenanya, melalui mimbar Jum’at ini khatib mengajak diri sendiri dan kita semua untuk mempersiapkan diri menyongsong bulan Dzulhijjah ini. Sehingga saat ia datang menjumpai kita, kita telah siap dengan amal-amal di bulan ini sekaligus mengambil nilai-nilai tarbiyah yang ada di dalamnya.
Haji
Saat ini sebagian saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji telah berada di tanah suci. Inilah rangkaian ibadah yang mengandung muatan tarbiyah historis yang luar biasa. Agar manusia mengambil pelajaran yang tak ternilai dari sana. Bukan hanya bagi mereka yang sudah dipanggil Allah dalam menunaikannya, tetapi juga bagi kita yang belum berkesempatan menjalankan rukun Islam yang kelima.
Diantara pelajaran yang begitu tampak dari ibadah haji adalah deklarasi persamaan derajat manusia di dalam Islam. Islam bukanlah agama yang mempertahankan atau mendukung diskriminasi atas dasar warna kulit dan suku bangsa. Allah tidak membedakan manusia dari segi hartanya, popularitas, maupun jabatan dan kekuasaannya. Karenanya berkumpullah jutaan orang di Masjidil Haram, 260 ribu diantaranya dari Indonesia; mereka setara! Semuanya berbaur menjadi satu sebagai hamba Allah; tak ada bedanya antara presiden dan rakyat biasa, tak ada bedanya antara direktur dan petani-petani desa. Bahkan saat ihram, sekaya dan setinggi apapun jabatan seseorang, mereka semua sama hanya berbalut kain ihram yang tidak berjahit.
Kita pun, yang tidak berada di Masjidil Haram, seharusnya sadar akan hakikat nilai manusia di hadapan Allah SWT. Mereka semua sama. Yang membedakan dan membuat seseorang lebih mulia daripada lainnya adalah ketaqwaannya.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ [الحجرات/13]
Sesungguhnya manusia yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. (QS. Al-Hujurat : 13)
Hakikat ini seharusnya tertanam kuat dalam jiwa kita dan menjadi pemicu bagi kita untuk terus meningkatkan ketaqwaannya. Sementara banyak orang yang mengumpulkan bekal untuk kehidupan dunianya, Allah menunjukkan pula kepada kita untuk mempersiapkan sebaik-baik bekal, yakni taqwa.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى [البقرة/197]
Dan berbekallah kalian. Sesungguhnya bekal yang terbaik adalah taqwa. (QS. Al-Baqarah : 197)
Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Selain nilai tarbiyah di atas, haji juga sarat dengan napak tilas sejarah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Ka’bah merupakan tempat ibadah yang dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim. Ia simbol ketauhidan, dan ke arahnya umat Islam berkiblat dalam shalat. Sai mengingatkan ikhtiar serius istri Nabi Ibrahim, Hajar, dalam upaya regenerasi ahli tauhid. Melontar jumrah juga merupakan simbol perlawanan kepada syaitan, yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim, dan hingga kiamat nanti statusnya memang tidak pernah berubah; syaitan adalah musuh yang nyata bagi orang yang beriman.
Lebih dari itu, semua ibadah haji merupakan kepatuhan dan ketundukan total kepada Allah sebagai pembuat syariat. Bagaimana petunjuk Allah dalam beribadah, begitulah kita harus mengerjakannya. Bagaimana perintah Allah kepada orang beriman, begitulah ia harus sami’na wa atha’na. Dengan demikian ibadah haji menjadi ibadah yang sangat berat. Selain menyediakan biaya yang sangat besar dan membutuhkan fisik yang prima, kondisi ruhiyah juga harus terjaga selama ibadah ini ditunaikan. Maka, sebanding dengan beratnya kombinasi dari ibadah qalbiyah, ibadah badaniyah, dan ibadah maliyah ini, Allah telah menyediakan balasan yang luar biasa pula:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
Haji yang mabrur, tidak ada balasannya kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim)
Lalu bagaimana dengan kita yang di bulan Dzulhijjah 1430 H ini belum mampu menunaikan haji? Masih ada banyak kesempatan amal untuk kita kerjakan.
Memperbanyak ibadah dan amal shalih di sepuluh hari pertama Dzulhijjah
Bagi kita yang tidak berhaji pun, kesempatan emas terbuka untuk meraih banyak keutamaan di bulan Dzulhijjah. Memperbanyak ibadah pada tanggal 1 Dzulhijjah sampai dengan 10 Dzulhijjah merupakan pilihan yang cerdas, sebab banyak hadits yang menjelaskan keutamaannya. Ibadah itu bisa berupa memperbanyak shadaqah, berdzikir, tilawah, dan amal shalih lainnya.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ فِيهِ أَفْضَلُ مِنْ عَشَرِ ذِي الْحِجَّةِ، قِيلَ: وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ :« وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih disukai oleh Allah Azza wa Jalla dari pada hari-hari ini, yakni hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah.” Para shahabat pun bertanya, “Ya Rasulullah, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Memang, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah, kecuali seorang yang pergi membawa nyawa dan hartanya, kemudian tidak satu pun diantara keduanya itu yang kembali (mati syahid).” (HR. Jamaah kecuali Muslim dan Nasai)
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمَ عِنْدَ اللَّهِ وَلاَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
Tidak ada hari-ahri yang dianggap lebih agung oleh Allah SWT dan lebih disukai untuk digunakan sebagai tempat beramal sebagaimana hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah ini. Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil, takbir, dan tahmid. (HR. Ahmad)
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِى الْحِجَّةِ يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Tidak ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk digunakan beribadah sebagaimana halnya hari-hari sepuluh Dzulhijjah. Berpuasa pada siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun dan shalat pada malam harinya sama nilainya dengan mengerjakan shalat pada malam lailatul qadar. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi)
Puasa Arafah
Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah,
Puasa ini disunnahkan bagi kita yang tidak sedang mengerjakan haji. Adapun bagi mereka para jamaah haji, mereka tidak diperbolehkan berpuasa. Saat itu mereka harus wukuf di Arafah. Dengan demikian, keutamaan hari Arafah bisa dinikmati oleh orang yang sedang berhaji maupun yang tidak sedang berhaji.
Keutamaan puasa Arafah ini diriwayatkan oleh Abu Qatadah r.a. :
سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ »
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)
Subhaanallah, luar biasa. Mendengar keutamaan puasa Arafah ini, pantaslah bila pada hari Arafah itu banyak orang yang dibebaskan Allah SWT dari siksa neraka.
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
Tidak ada satu hari yang pada hari itu Allah membebaskan para hamba dari api neraka yang lebih banyak dibandingkan hari Arafah. (HR. Muslim)
Shalat Idul Adha
Ikhwatal iman yahdikumullah,
Amal khusus di bulan Dzulhijjah berikutnya adalah Shalat Idul Adha. Jumhur ulama’ menjelaskan bahwa hukumnya sunnah muakkad, dan ada beberapa ulama’ yang berpendapat hukumnya wajib. Jika pada shalat idul fitri disunnahkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat, maka shalat idul adha adalah kebalikannya: disunnahkan makan setelah shalat id.
Berqurban
Ayyuhal muslimuun rahimakumullah,
Amal lainnya yang sangat istimewa dan khusus di bulan Dzulhijjah ini adalah qurban. Ibadah qurban ini juga sarat dengan nilai tarbiyah. Bahkan sejarah disyariatkannya qurban pada masa Nabi Ibrahim adalah sejarah pengorbanan, ketaatan, serta proses taurits di dalam keluarga muslim. Kita sekarang tidak diperintahkan untuk menyembelih Ismail-ismail kita, tetapi menyembelih kambing, domba, sapi, atau unta sebagai bentuk ketaatan dan pengorbanan kita kepada Allah SWT.
Keutamaan qurban sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:
مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada Hari Raya Kurban yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu, dan kuku kukunya. Sesungguhnya sebelum darah kurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berkurban. (HR. Tirmidzi)
Demikianlah amal-amal khusus selama bulan Dzulhijjah. Semoga Dzulhijjah 1430 ini semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT sehingga kita memperoleh ridha, rahmat, dan ampuan-Nya. Dengan demikian, kita bisa berharap bertemu Allah kelak di surga.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ للهِ القَوِيِّ المَتِينِ، سُبْحَانَهُ خَلَقَ الإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ، وَهَدَاهُ لِلْمَنْهَجِ القَوِيمِ، وَسَنَّ شَرَائِعَ فِيهَا القُوَّةُ وَالتَّمكِينُ، بِحِكْمَتِهِ نُؤْمِنُ، وَبِقُدْرَتِهِ نُوقِنُ، عَلَيْهِ نَتَوَكَّلُ، وَإِيَّاهُ نَستَعِينُ، أَحْمَدُهُ تَعَالَى بِمَا هُوَ لَهُ أَهْلٌ مِنَ الْحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيَّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، لَمْ يَزَلْ مُتَوَكِّلاً عَلَى رَبِّهِ، وَاثِقًا بِوَعدِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَعَلَى كُلِّ مَنْ اقْتَفَى أَثَرَهُ وَتَرَسَّمَ خُطَاهُ إِلَى يَومِ الدِّينِ.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102] .
{ يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا } [النساء: 1] .
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Segala puji hanyalah milik Allah. Maka tiada hal lain yang lebih pantas untuk kita ucapkan setalah menyadari nikmat-nikmatNya, kecuali memuji-Nya dengan segala pujian yang diajarkan-Nya kepada kita. Lalu hati kita juga khusyu’ mensyukuri nikmat-nikmat itu, seraya memimpin anggota bada kita untuk tunduk dan taat dalam menjalankan ibadah semata-mata kepada-Nya. Hanya dengan integrasi ketiga bentuk amal itulah syukur kita menemukan hakikatnya.
Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah,
Kita saat ini tengah berada di penghujung bulan Dzulqa’dah. Kurang dari sepekan kita akan memasuki bulan Dzulhijjah 1430 H. Dengan demikian kita telah 2 bulan keluar dari madrasah Ramadhan, dan kini bersiap dengan tarbiyah Allah SWT yang lain, yakni madrasah Dzulhijjah.
Mengapa disebut madrasah Dzulhijjah? Karena pada bulan ini ada tiga ibadah besar yang sarat dengan nilai-nilai tarbiyah; haji, shalat idul adha dan qurban. Di samping ada pula ibadah sunnah muakkad bagi yang tidak menunaikan haji yakni puasa arafah.
Ayyuhal muslimuun rahimakumullah,
Karenanya, melalui mimbar Jum’at ini khatib mengajak diri sendiri dan kita semua untuk mempersiapkan diri menyongsong bulan Dzulhijjah ini. Sehingga saat ia datang menjumpai kita, kita telah siap dengan amal-amal di bulan ini sekaligus mengambil nilai-nilai tarbiyah yang ada di dalamnya.
Haji
Saat ini sebagian saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji telah berada di tanah suci. Inilah rangkaian ibadah yang mengandung muatan tarbiyah historis yang luar biasa. Agar manusia mengambil pelajaran yang tak ternilai dari sana. Bukan hanya bagi mereka yang sudah dipanggil Allah dalam menunaikannya, tetapi juga bagi kita yang belum berkesempatan menjalankan rukun Islam yang kelima.
Diantara pelajaran yang begitu tampak dari ibadah haji adalah deklarasi persamaan derajat manusia di dalam Islam. Islam bukanlah agama yang mempertahankan atau mendukung diskriminasi atas dasar warna kulit dan suku bangsa. Allah tidak membedakan manusia dari segi hartanya, popularitas, maupun jabatan dan kekuasaannya. Karenanya berkumpullah jutaan orang di Masjidil Haram, 260 ribu diantaranya dari Indonesia; mereka setara! Semuanya berbaur menjadi satu sebagai hamba Allah; tak ada bedanya antara presiden dan rakyat biasa, tak ada bedanya antara direktur dan petani-petani desa. Bahkan saat ihram, sekaya dan setinggi apapun jabatan seseorang, mereka semua sama hanya berbalut kain ihram yang tidak berjahit.
Kita pun, yang tidak berada di Masjidil Haram, seharusnya sadar akan hakikat nilai manusia di hadapan Allah SWT. Mereka semua sama. Yang membedakan dan membuat seseorang lebih mulia daripada lainnya adalah ketaqwaannya.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ [الحجرات/13]
Sesungguhnya manusia yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. (QS. Al-Hujurat : 13)
Hakikat ini seharusnya tertanam kuat dalam jiwa kita dan menjadi pemicu bagi kita untuk terus meningkatkan ketaqwaannya. Sementara banyak orang yang mengumpulkan bekal untuk kehidupan dunianya, Allah menunjukkan pula kepada kita untuk mempersiapkan sebaik-baik bekal, yakni taqwa.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى [البقرة/197]
Dan berbekallah kalian. Sesungguhnya bekal yang terbaik adalah taqwa. (QS. Al-Baqarah : 197)
Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah SWT,
Selain nilai tarbiyah di atas, haji juga sarat dengan napak tilas sejarah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Ka’bah merupakan tempat ibadah yang dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim. Ia simbol ketauhidan, dan ke arahnya umat Islam berkiblat dalam shalat. Sai mengingatkan ikhtiar serius istri Nabi Ibrahim, Hajar, dalam upaya regenerasi ahli tauhid. Melontar jumrah juga merupakan simbol perlawanan kepada syaitan, yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim, dan hingga kiamat nanti statusnya memang tidak pernah berubah; syaitan adalah musuh yang nyata bagi orang yang beriman.
Lebih dari itu, semua ibadah haji merupakan kepatuhan dan ketundukan total kepada Allah sebagai pembuat syariat. Bagaimana petunjuk Allah dalam beribadah, begitulah kita harus mengerjakannya. Bagaimana perintah Allah kepada orang beriman, begitulah ia harus sami’na wa atha’na. Dengan demikian ibadah haji menjadi ibadah yang sangat berat. Selain menyediakan biaya yang sangat besar dan membutuhkan fisik yang prima, kondisi ruhiyah juga harus terjaga selama ibadah ini ditunaikan. Maka, sebanding dengan beratnya kombinasi dari ibadah qalbiyah, ibadah badaniyah, dan ibadah maliyah ini, Allah telah menyediakan balasan yang luar biasa pula:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
Haji yang mabrur, tidak ada balasannya kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim)
Lalu bagaimana dengan kita yang di bulan Dzulhijjah 1430 H ini belum mampu menunaikan haji? Masih ada banyak kesempatan amal untuk kita kerjakan.
Memperbanyak ibadah dan amal shalih di sepuluh hari pertama Dzulhijjah
Bagi kita yang tidak berhaji pun, kesempatan emas terbuka untuk meraih banyak keutamaan di bulan Dzulhijjah. Memperbanyak ibadah pada tanggal 1 Dzulhijjah sampai dengan 10 Dzulhijjah merupakan pilihan yang cerdas, sebab banyak hadits yang menjelaskan keutamaannya. Ibadah itu bisa berupa memperbanyak shadaqah, berdzikir, tilawah, dan amal shalih lainnya.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ فِيهِ أَفْضَلُ مِنْ عَشَرِ ذِي الْحِجَّةِ، قِيلَ: وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ :« وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ بِشَىْءٍ
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih disukai oleh Allah Azza wa Jalla dari pada hari-hari ini, yakni hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah.” Para shahabat pun bertanya, “Ya Rasulullah, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Memang, meskipun dibandingkan dengan berjihad fi sabilillah, kecuali seorang yang pergi membawa nyawa dan hartanya, kemudian tidak satu pun diantara keduanya itu yang kembali (mati syahid).” (HR. Jamaah kecuali Muslim dan Nasai)
Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمَ عِنْدَ اللَّهِ وَلاَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
Tidak ada hari-ahri yang dianggap lebih agung oleh Allah SWT dan lebih disukai untuk digunakan sebagai tempat beramal sebagaimana hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah ini. Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil, takbir, dan tahmid. (HR. Ahmad)
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِى الْحِجَّةِ يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Tidak ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk digunakan beribadah sebagaimana halnya hari-hari sepuluh Dzulhijjah. Berpuasa pada siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun dan shalat pada malam harinya sama nilainya dengan mengerjakan shalat pada malam lailatul qadar. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi)
Puasa Arafah
Ayyuhal muslimuun hafidzakumullah,
Puasa ini disunnahkan bagi kita yang tidak sedang mengerjakan haji. Adapun bagi mereka para jamaah haji, mereka tidak diperbolehkan berpuasa. Saat itu mereka harus wukuf di Arafah. Dengan demikian, keutamaan hari Arafah bisa dinikmati oleh orang yang sedang berhaji maupun yang tidak sedang berhaji.
Keutamaan puasa Arafah ini diriwayatkan oleh Abu Qatadah r.a. :
سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ »
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)
Subhaanallah, luar biasa. Mendengar keutamaan puasa Arafah ini, pantaslah bila pada hari Arafah itu banyak orang yang dibebaskan Allah SWT dari siksa neraka.
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
Tidak ada satu hari yang pada hari itu Allah membebaskan para hamba dari api neraka yang lebih banyak dibandingkan hari Arafah. (HR. Muslim)
Shalat Idul Adha
Ikhwatal iman yahdikumullah,
Amal khusus di bulan Dzulhijjah berikutnya adalah Shalat Idul Adha. Jumhur ulama’ menjelaskan bahwa hukumnya sunnah muakkad, dan ada beberapa ulama’ yang berpendapat hukumnya wajib. Jika pada shalat idul fitri disunnahkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat, maka shalat idul adha adalah kebalikannya: disunnahkan makan setelah shalat id.
Berqurban
Ayyuhal muslimuun rahimakumullah,
Amal lainnya yang sangat istimewa dan khusus di bulan Dzulhijjah ini adalah qurban. Ibadah qurban ini juga sarat dengan nilai tarbiyah. Bahkan sejarah disyariatkannya qurban pada masa Nabi Ibrahim adalah sejarah pengorbanan, ketaatan, serta proses taurits di dalam keluarga muslim. Kita sekarang tidak diperintahkan untuk menyembelih Ismail-ismail kita, tetapi menyembelih kambing, domba, sapi, atau unta sebagai bentuk ketaatan dan pengorbanan kita kepada Allah SWT.
Keutamaan qurban sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:
مَا عَمِلَ آدَمِىٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada Hari Raya Kurban yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu, dan kuku kukunya. Sesungguhnya sebelum darah kurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berkurban. (HR. Tirmidzi)
Demikianlah amal-amal khusus selama bulan Dzulhijjah. Semoga Dzulhijjah 1430 ini semakin mendekatkan kita kepada Allah SWT sehingga kita memperoleh ridha, rahmat, dan ampuan-Nya. Dengan demikian, kita bisa berharap bertemu Allah kelak di surga.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } [آل عمران: 102]
{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا } [الأحزاب: 70، 71].
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Senin, 11 Oktober 2010
jatuh cinta
Jatuh Cinta dan Ad-Diin: Sebuah Artikel Mengenai Sufisme
Oleh Herry Mardian
ANDA pernah jatuh cinta? Pernah melihat atau sekedar berkenalan pada seseorang, lalu anda mulai tertarik dengannya? Awalnya mungkin ada sebuah ‘rasa’ terhadapnya. Lalu anda mulai sering memikirkannya. Banyak hal yang dilakukannya membuat anda tertarik, walaupun mungkin tidak setiap saat kita berinteraksi dengannya. Ketika dia ramah dan tersenyum pada kita satu atau dua detik, atau sekedar berkata “Halo, apa kabar?” sambil tersenyum, pikiran kita mulai berpersepsi.
“Wah, ramah sekali. Kayaknya baik ya. Boljug nih, jadi pasangan… ” dan seterusnya.
Ketika anda sedang lelah, lalu teringat lagi padanya, kemudian muncul rasa ingin bertemu dengannya. Kita mulai berimajinasi. “Kayaknya enak kalau lagi capek begini ngobrol dengannya. Pasti kebaikannya bisa membuat saya terhibur. Kalau curhat pasti dia mau dengerin deh.”
Ketika kita melihat dia ramah pada anak-anak, maka pikiran kita berpersepsi lain lagi. “Wah, betapa dia seorang ibu/ayah yang ideal.”
Ketika kita sudah mulai berinteraksi satu-dua kali, ternyata tutur katanya ramah, santun, dan sebagainya. Pikiran kita mengambil indikator ini, “Ternyata orangnya baik. Enak diajak ngobrol. Pemikiran kita nyambung. Udah gitu humoris pula.” Ditambah lagi dengan data dari teman-teman kita, katanya dia orang baik, humoris, bertanggung jawab dan sebagainya.
Lalu dia mulai sering ada di pikiran kita. Sosok dia, dalam pikiran kita, kini sudah menjadi imajinasi satu kepribadian manusia yang utuh: orangnya baik, cantik/ganteng, ramah, cerdas, humoris, bertanggung jawab, dan seorang suami atau istri yang ideal. Sepotong senyum atau interaksi satu-dua kali, sudah cukup untuk membuat mekanisme kecerdasan kita membentuk satu sosok kepribadian yang utuh di dalam imajinasi kita. Dan sekarang, dengan adanya sosok yang utuh di dalam pikiran kita ini, kita mulai benar-benar jatuh cinta kepadanya. Ingat terus, kalau ditelepon atau ketemu merasa senang sekali, dan seterusnya, dan seterusnya.
Indikator-indikator kepribadian yang tadinya disimpan di kepala kita sebagai data, dengan kemampuan persepsi otak kita diolah menjadi suatu sosok yang utuh, dan akhirnya kita jatuh cinta dengan sosok ini. Indah sekali kan?
Pada tahap ini, kenapa kita bisa jatuh cinta hanya dengan satu senyum, atau satu-dua kali interaksi? Imajinasi. Itulah keunggulan mekanisme pikiran kita. Kita dibekali kemampuan berimajinasi tentang sesuatu, sehingga dari data yang sedikit bisa dipersepsikan, atau diimajinasikan, bagaimana sosok kepribadian orang itu dengan utuh.
Lalu semakin lama anda berinteraksi dengannya, mulai nampak pula hal-hal yang tidak terlalu kita sukai dari dirinya. Kita mulai menimbang-nimbang, berfikir positif atau negatif mengenai dirinya. Cinta kita sudah mulai memasuki tahap cinta rasional, bukan hanya cinta emosional. Rasa cinta tidak lagi demikian terasa dahsyat dan menggebu-gebu di dalam dada kita. Sekarang kita mulai ‘mendapatkan pengalaman’ (meng-experience) interaksi dengan dia yang sebenarnya.
Pada tahap ini, bisa jadi kita malah sebal, atau ternyata berkesimpulan tidak cocok dengannya. Atau jika kebetulan kita sampai di jenjang pernikahan, setelah sepuluh tahun menikah, misalnya, cinta kita tidak lagi terasa demikian emosional dan menyenangkan seperti ketika awal bertemu. Pada tahap ini, cinta kita sudah mulai menjadi cinta yang rasional dan dewasa. Diwarnai oleh tanggung jawab, peran sosial, kewajiban, pemakluman, dan lain sebagainya. Intinya, kini belum tentu ’semuanya indah sekali’ seperti dulu.
Lalu kenapa dulu rasa cinta itu bisa terasa demikian menyenangkan dan ‘dahsyat’ terasa di dalam dada? Sekali lagi, imajinasi. Dulu, sebenarnya kita jatuh cinta bukan pada dia, tapi jatuh cinta kepada ‘imajinasi kita tentang dia’. Kita jatuh cinta pada sosok dia yang ada di pikiran kita, bukan pada dia yang sebenarnya. Kini, setelah lama berinteraksi dengannya, kita mulai mengenal dia yang asli, bukan hanya imajinasinya. Dia yang asli, dengan ‘imajinasi kita tentang dia’ tentu berbeda.
Dia yang asli bisa kita kenali dengan interaksi dengannya, dan bukan melalui ‘imajinasi’ kita tentang dia.
Demikian juga dengan mengenal Tuhan. Sebenarnya, tidak cukup untuk mengenal Dia hanya dengan indikator sifat yang diperoleh ‘kata teman’, menurut buku, kata ustad, dan sebagainya. Kita selama ini hanya mendapatkan data tentang Dia dengan ‘katanya’. Kalau kita jujur pada diri kita sendiri, tanyakanlah: siapa Tuhan yang kita mengaku mencintai-Nya itu? Siapa yang kita sembah itu? Jawablah dengan jujur: kita benar-benar mencintai-Nya, atau baru mencintai imajinasi kita tentang diri-Nya, yang terbentuk di kepala kita?
Sudahkah kita mengenal Dia yang sebenarnya, dan bukan sosok Dia yang dalam imajinasi kita itu? Siapa yang kita sembah? Dia yang asli, atau Dia yang imajinasi kita? Padahal Tuhan tidak menerima penyembahan selain kepada Dia. Dia yang asli.
Seseorang yang memasuki disiplin sufi, sebenarnya adalah mereka yang ingin mengenal Dia secara real dan bukan imajinasi pikiran saja, bukan ‘kata orang’, justru karena tidak ingin jatuh pada kemusyrikan dengan terpeleset menyembah ‘Tuhan yang imajinasi’. Mereka ingin meng-experience pengenalan terhadap Tuhan yang sebenarnya (tentunya dengan sangat tidak mudah, karena Tuhan adalah sesuatu yang Maha Tinggi). Walaupun ini sangat sulit, tapi sebagian orang berusaha –berjihad– dengan segenap dirinya untuk menjalankan disiplin ini.
Dan karena pintu mengenal Tuhan adalah kesucian qalbu, maka mustahil pula orang yang mengaku menjalankan disiplin ini tanpa menjalankan syariat yang telah ditetapkan Qur’an dan Rasulullah saw. Kalau ada ’sufi’ (dalam tanda kutip) yang tidak shalat atau puasa, misalnya, sudah jelas dia hanya ‘mengaku-aku’ saja sedang menjalankan disiplin tasawuf. Mustahil qalbu bisa menjadi suci tanpa syari’at. Rasulullah adalah gerbang menuju Allah, maka setelah periode kenabian Muhammad s.a.w., tidak akan ada yang bisa mengenal Dia tanpa melalui Beliau dan apa yang Beliau bawa, termasuk syariat dan hakikatnya.
Maka sebagai panduan pertama kali (atau tepatnya: panduan mutlak sepanjang jalan), tentu melalui apa yang Beliau bawa: Al-Qur’an. Tapi, itu pun bukan makna Al-Qur’an yang ‘dipersepsikan’, melainkan makna Al-Qur’an yang sesungguhnya, yang ‘apa adanya’. Itulah sebabnya, di awal perjalanan untuk mengenal Allah kita terlebih dahulu harus mencari orang-orang yang sudah mampu menjangkau makna Al-Qur’an yang sesungguhnya, untuk mengajarkannya pada kita.
“Bagaimana jika sudah ma’rifat? Apakah syariat tidak lagi diperlukan? Maka shalat, puasa dan lain-lain tidak perlu lagi dong.. ” Nah, ini juga sebuah kesalahan umum yang sangat mendasar. Ma’rifat bukan akhir perjalanan. Ma’rifatullah (mengenal Allah) adalah proses akhir, bukan titik akhir. Perhatikan: proses, bukan titik. Dan semua orang yang benar-benar menjalankan disiplin tasawuf ini tahu, proses akhir ini adalah sebuah proses yang tidak akan pernah berakhir, karena Tuhan adalah Maha Tak Terbatas. Proses mengenal sesuatu yang tak terbatas akan berlangsung selama jangka waktu yang tak terbatas pula. Rasulullah, sebagai manusia yang paling mengenal Allah (paling ma’rifatullah) pun tidak pernah berhenti shalat.
Hanya bedanya dengan berinteraksi dengan manusia, kalau semakin mengenal manusia kita akan semakin mengenal kekurangannya pula, tapi jika dengan Tuhan, semakin berinteraksi dengan Tuhan, Karena Dia Maha Indah, maka semakin mengenal-Nya pun akan semakin jatuh cinta dan semakin jatuh cinta saja. Tapi bedanya, bukan cinta yang di-indoktrinasi ke kepala kita sendiri: “Saya mencintai Tuhan!! Alangkah indahnya Tuhan!!” dan semacamnya. Kecintaan pada tahap ini adalah sebuah ungkapan hati yang jujur. Sebuah cinta yang ‘dialami’, bukan cinta yang diindoktrinasikan ke kepala.
Mereka yang mengenal Allah, saking takjub dan terpesonanya dengan keindahan Dia, akan ‘mabuk’. Beberapa wali menjadi ‘romantis’, kemana-mana berpuisi tentang cinta dan rindu kepada-Nya dalam ke’mabuk’annya, seperti puisi-puisi Jalaluddin Rumi, Rabi’ah, dan lain-lain. Rumi sering mengumpamakan ke’mabuk’annya ini dengan anggur, atau ‘terbakar’ dalam cinta. Ia ‘hilang’ ditelan cinta kepada-Nya. As if they’re ‘mad’ for Allah, externally and internally.
Mengapa para Nabi, terutama Rasulullah saw., dalam hal ini lebih utama dari para wali? Karena meski cinta dan pengenalan Rasulullah terhadap Allah lebih tinggi daripada Nabi atau wali yang manapun, namun Beliau tetap sanggup menguasai dirinya, dan tidak ‘mabuk’. Beliau tetap bisa tampil seperti manusia biasa, dan tampak tidak tenggelam dalam mabuk cinta kepada-Nya. Externally sane while ‘madly in love’ internally, for Allah. Ini sebuah kualitas manusia yang ‘tidak manusiawi’, saking tingginya tingkat penguasaan dirinya.
Kembali ke persoalan.
Ma’rifat adalah proses akhir, dan justru menjadi awal beragama secara sejati. Inilah makna dari perkataan yang masyhur dari salah seorang sahabat Rasul Ali r.a.: “Awaluddiina Ma’rifatullah”. Awalnya Ad-Diin adalah mengenal Allah. Makrifat justru baru awalnya beragama, bukan tujuan. Karena dengan mengenal Dia yang sebenarnya, barulah seseorang berinteraksi dengan Ad-Diin yang sebenarnya pula. Jika seseorang hanya mengenal imajinasi dirinya sendiri tentang Allah, seharusnya perlu dipertanyakan apakah kita benar-benar berjalan di atas Diin (agama)? Atau kita hanya ‘berimajinasi’ tentang ad-Diin itu?
Demikian pula, seseorang belum bisa dikatakan sebagai seorang salik (pejalan, pencari Tuhan, pencari kebenaran hakiki/Al-Haqq) atau sedang menjalankan disiplin tasawuf, jika hanya membaca buku-buku tentang tasawuf dan sufi, atau menghadiri pertemuan dan ceramah tasawuf. Inti disiplin tasawuf dalam beragama adalah ‘mengalami’, experiencing, dan bukan ‘data tentang sufi’ atau persoalan agama. Dalam kacamata hakikat, seseorang belum berjalan di atas ad-diin jika semata-mata hanya ‘tahu banyak tentang ad-diin‘ dan dalil-dalinya tapi tidak menjalani, mengamalkan, atau meng-experience esensi maupun makna ad-diin.
Seberapa jauh bedanya? Sejauh beda antara ‘jatuh cinta’ dengan ‘membaca deskripsi tentang cinta’.
Oleh Herry Mardian
ANDA pernah jatuh cinta? Pernah melihat atau sekedar berkenalan pada seseorang, lalu anda mulai tertarik dengannya? Awalnya mungkin ada sebuah ‘rasa’ terhadapnya. Lalu anda mulai sering memikirkannya. Banyak hal yang dilakukannya membuat anda tertarik, walaupun mungkin tidak setiap saat kita berinteraksi dengannya. Ketika dia ramah dan tersenyum pada kita satu atau dua detik, atau sekedar berkata “Halo, apa kabar?” sambil tersenyum, pikiran kita mulai berpersepsi.
“Wah, ramah sekali. Kayaknya baik ya. Boljug nih, jadi pasangan… ” dan seterusnya.
Ketika anda sedang lelah, lalu teringat lagi padanya, kemudian muncul rasa ingin bertemu dengannya. Kita mulai berimajinasi. “Kayaknya enak kalau lagi capek begini ngobrol dengannya. Pasti kebaikannya bisa membuat saya terhibur. Kalau curhat pasti dia mau dengerin deh.”
Ketika kita melihat dia ramah pada anak-anak, maka pikiran kita berpersepsi lain lagi. “Wah, betapa dia seorang ibu/ayah yang ideal.”
Ketika kita sudah mulai berinteraksi satu-dua kali, ternyata tutur katanya ramah, santun, dan sebagainya. Pikiran kita mengambil indikator ini, “Ternyata orangnya baik. Enak diajak ngobrol. Pemikiran kita nyambung. Udah gitu humoris pula.” Ditambah lagi dengan data dari teman-teman kita, katanya dia orang baik, humoris, bertanggung jawab dan sebagainya.
Lalu dia mulai sering ada di pikiran kita. Sosok dia, dalam pikiran kita, kini sudah menjadi imajinasi satu kepribadian manusia yang utuh: orangnya baik, cantik/ganteng, ramah, cerdas, humoris, bertanggung jawab, dan seorang suami atau istri yang ideal. Sepotong senyum atau interaksi satu-dua kali, sudah cukup untuk membuat mekanisme kecerdasan kita membentuk satu sosok kepribadian yang utuh di dalam imajinasi kita. Dan sekarang, dengan adanya sosok yang utuh di dalam pikiran kita ini, kita mulai benar-benar jatuh cinta kepadanya. Ingat terus, kalau ditelepon atau ketemu merasa senang sekali, dan seterusnya, dan seterusnya.
Indikator-indikator kepribadian yang tadinya disimpan di kepala kita sebagai data, dengan kemampuan persepsi otak kita diolah menjadi suatu sosok yang utuh, dan akhirnya kita jatuh cinta dengan sosok ini. Indah sekali kan?
Pada tahap ini, kenapa kita bisa jatuh cinta hanya dengan satu senyum, atau satu-dua kali interaksi? Imajinasi. Itulah keunggulan mekanisme pikiran kita. Kita dibekali kemampuan berimajinasi tentang sesuatu, sehingga dari data yang sedikit bisa dipersepsikan, atau diimajinasikan, bagaimana sosok kepribadian orang itu dengan utuh.
Lalu semakin lama anda berinteraksi dengannya, mulai nampak pula hal-hal yang tidak terlalu kita sukai dari dirinya. Kita mulai menimbang-nimbang, berfikir positif atau negatif mengenai dirinya. Cinta kita sudah mulai memasuki tahap cinta rasional, bukan hanya cinta emosional. Rasa cinta tidak lagi demikian terasa dahsyat dan menggebu-gebu di dalam dada kita. Sekarang kita mulai ‘mendapatkan pengalaman’ (meng-experience) interaksi dengan dia yang sebenarnya.
Pada tahap ini, bisa jadi kita malah sebal, atau ternyata berkesimpulan tidak cocok dengannya. Atau jika kebetulan kita sampai di jenjang pernikahan, setelah sepuluh tahun menikah, misalnya, cinta kita tidak lagi terasa demikian emosional dan menyenangkan seperti ketika awal bertemu. Pada tahap ini, cinta kita sudah mulai menjadi cinta yang rasional dan dewasa. Diwarnai oleh tanggung jawab, peran sosial, kewajiban, pemakluman, dan lain sebagainya. Intinya, kini belum tentu ’semuanya indah sekali’ seperti dulu.
Lalu kenapa dulu rasa cinta itu bisa terasa demikian menyenangkan dan ‘dahsyat’ terasa di dalam dada? Sekali lagi, imajinasi. Dulu, sebenarnya kita jatuh cinta bukan pada dia, tapi jatuh cinta kepada ‘imajinasi kita tentang dia’. Kita jatuh cinta pada sosok dia yang ada di pikiran kita, bukan pada dia yang sebenarnya. Kini, setelah lama berinteraksi dengannya, kita mulai mengenal dia yang asli, bukan hanya imajinasinya. Dia yang asli, dengan ‘imajinasi kita tentang dia’ tentu berbeda.
Dia yang asli bisa kita kenali dengan interaksi dengannya, dan bukan melalui ‘imajinasi’ kita tentang dia.
Demikian juga dengan mengenal Tuhan. Sebenarnya, tidak cukup untuk mengenal Dia hanya dengan indikator sifat yang diperoleh ‘kata teman’, menurut buku, kata ustad, dan sebagainya. Kita selama ini hanya mendapatkan data tentang Dia dengan ‘katanya’. Kalau kita jujur pada diri kita sendiri, tanyakanlah: siapa Tuhan yang kita mengaku mencintai-Nya itu? Siapa yang kita sembah itu? Jawablah dengan jujur: kita benar-benar mencintai-Nya, atau baru mencintai imajinasi kita tentang diri-Nya, yang terbentuk di kepala kita?
Sudahkah kita mengenal Dia yang sebenarnya, dan bukan sosok Dia yang dalam imajinasi kita itu? Siapa yang kita sembah? Dia yang asli, atau Dia yang imajinasi kita? Padahal Tuhan tidak menerima penyembahan selain kepada Dia. Dia yang asli.
Seseorang yang memasuki disiplin sufi, sebenarnya adalah mereka yang ingin mengenal Dia secara real dan bukan imajinasi pikiran saja, bukan ‘kata orang’, justru karena tidak ingin jatuh pada kemusyrikan dengan terpeleset menyembah ‘Tuhan yang imajinasi’. Mereka ingin meng-experience pengenalan terhadap Tuhan yang sebenarnya (tentunya dengan sangat tidak mudah, karena Tuhan adalah sesuatu yang Maha Tinggi). Walaupun ini sangat sulit, tapi sebagian orang berusaha –berjihad– dengan segenap dirinya untuk menjalankan disiplin ini.
Dan karena pintu mengenal Tuhan adalah kesucian qalbu, maka mustahil pula orang yang mengaku menjalankan disiplin ini tanpa menjalankan syariat yang telah ditetapkan Qur’an dan Rasulullah saw. Kalau ada ’sufi’ (dalam tanda kutip) yang tidak shalat atau puasa, misalnya, sudah jelas dia hanya ‘mengaku-aku’ saja sedang menjalankan disiplin tasawuf. Mustahil qalbu bisa menjadi suci tanpa syari’at. Rasulullah adalah gerbang menuju Allah, maka setelah periode kenabian Muhammad s.a.w., tidak akan ada yang bisa mengenal Dia tanpa melalui Beliau dan apa yang Beliau bawa, termasuk syariat dan hakikatnya.
Maka sebagai panduan pertama kali (atau tepatnya: panduan mutlak sepanjang jalan), tentu melalui apa yang Beliau bawa: Al-Qur’an. Tapi, itu pun bukan makna Al-Qur’an yang ‘dipersepsikan’, melainkan makna Al-Qur’an yang sesungguhnya, yang ‘apa adanya’. Itulah sebabnya, di awal perjalanan untuk mengenal Allah kita terlebih dahulu harus mencari orang-orang yang sudah mampu menjangkau makna Al-Qur’an yang sesungguhnya, untuk mengajarkannya pada kita.
“Bagaimana jika sudah ma’rifat? Apakah syariat tidak lagi diperlukan? Maka shalat, puasa dan lain-lain tidak perlu lagi dong.. ” Nah, ini juga sebuah kesalahan umum yang sangat mendasar. Ma’rifat bukan akhir perjalanan. Ma’rifatullah (mengenal Allah) adalah proses akhir, bukan titik akhir. Perhatikan: proses, bukan titik. Dan semua orang yang benar-benar menjalankan disiplin tasawuf ini tahu, proses akhir ini adalah sebuah proses yang tidak akan pernah berakhir, karena Tuhan adalah Maha Tak Terbatas. Proses mengenal sesuatu yang tak terbatas akan berlangsung selama jangka waktu yang tak terbatas pula. Rasulullah, sebagai manusia yang paling mengenal Allah (paling ma’rifatullah) pun tidak pernah berhenti shalat.
Hanya bedanya dengan berinteraksi dengan manusia, kalau semakin mengenal manusia kita akan semakin mengenal kekurangannya pula, tapi jika dengan Tuhan, semakin berinteraksi dengan Tuhan, Karena Dia Maha Indah, maka semakin mengenal-Nya pun akan semakin jatuh cinta dan semakin jatuh cinta saja. Tapi bedanya, bukan cinta yang di-indoktrinasi ke kepala kita sendiri: “Saya mencintai Tuhan!! Alangkah indahnya Tuhan!!” dan semacamnya. Kecintaan pada tahap ini adalah sebuah ungkapan hati yang jujur. Sebuah cinta yang ‘dialami’, bukan cinta yang diindoktrinasikan ke kepala.
Mereka yang mengenal Allah, saking takjub dan terpesonanya dengan keindahan Dia, akan ‘mabuk’. Beberapa wali menjadi ‘romantis’, kemana-mana berpuisi tentang cinta dan rindu kepada-Nya dalam ke’mabuk’annya, seperti puisi-puisi Jalaluddin Rumi, Rabi’ah, dan lain-lain. Rumi sering mengumpamakan ke’mabuk’annya ini dengan anggur, atau ‘terbakar’ dalam cinta. Ia ‘hilang’ ditelan cinta kepada-Nya. As if they’re ‘mad’ for Allah, externally and internally.
Mengapa para Nabi, terutama Rasulullah saw., dalam hal ini lebih utama dari para wali? Karena meski cinta dan pengenalan Rasulullah terhadap Allah lebih tinggi daripada Nabi atau wali yang manapun, namun Beliau tetap sanggup menguasai dirinya, dan tidak ‘mabuk’. Beliau tetap bisa tampil seperti manusia biasa, dan tampak tidak tenggelam dalam mabuk cinta kepada-Nya. Externally sane while ‘madly in love’ internally, for Allah. Ini sebuah kualitas manusia yang ‘tidak manusiawi’, saking tingginya tingkat penguasaan dirinya.
Kembali ke persoalan.
Ma’rifat adalah proses akhir, dan justru menjadi awal beragama secara sejati. Inilah makna dari perkataan yang masyhur dari salah seorang sahabat Rasul Ali r.a.: “Awaluddiina Ma’rifatullah”. Awalnya Ad-Diin adalah mengenal Allah. Makrifat justru baru awalnya beragama, bukan tujuan. Karena dengan mengenal Dia yang sebenarnya, barulah seseorang berinteraksi dengan Ad-Diin yang sebenarnya pula. Jika seseorang hanya mengenal imajinasi dirinya sendiri tentang Allah, seharusnya perlu dipertanyakan apakah kita benar-benar berjalan di atas Diin (agama)? Atau kita hanya ‘berimajinasi’ tentang ad-Diin itu?
Demikian pula, seseorang belum bisa dikatakan sebagai seorang salik (pejalan, pencari Tuhan, pencari kebenaran hakiki/Al-Haqq) atau sedang menjalankan disiplin tasawuf, jika hanya membaca buku-buku tentang tasawuf dan sufi, atau menghadiri pertemuan dan ceramah tasawuf. Inti disiplin tasawuf dalam beragama adalah ‘mengalami’, experiencing, dan bukan ‘data tentang sufi’ atau persoalan agama. Dalam kacamata hakikat, seseorang belum berjalan di atas ad-diin jika semata-mata hanya ‘tahu banyak tentang ad-diin‘ dan dalil-dalinya tapi tidak menjalani, mengamalkan, atau meng-experience esensi maupun makna ad-diin.
Seberapa jauh bedanya? Sejauh beda antara ‘jatuh cinta’ dengan ‘membaca deskripsi tentang cinta’.
Sabtu, 02 Oktober 2010
tanda tanda tidak dapat kontrol marah
tanda anda tidak bisa kontrol amarah
Ada perbedaan antara seseorang yang marah dengan yang bermasalah dalam mengontrol emosi. Dr. Redford Williams, profesor psikologi di Duke University Medical Center, Amerika Serikat dan penulis buku 'In Control' mengungkap lima perbedaannya.
Jika tanda-tanda berikut dialami oleh Anda sebaiknya berkonsultasilah dengan psikiater atau psikolog.
1. Marah besar karena masalah kecil
Marah bisa memiliki efek positif. "Seringkali amarah memberitahu kita untuk melakukan sebuah tindakan," kata Dr. Williams, seperti dikutip dari cbsnews.com. Tetapi, jika rasa marah muncul dan meledak-ledak hanya karena persoalan kecil, bisa jadi pertanda bahwa seseorang mengalami kesulitan dalam mengontrol emosinya.
2. Interupsi
Seseorang yang marah akan cenderung menjadi orang yang tidak sabar. Apalagi jika tidak bisa mengontrol amarahnya. Orang tersebut akan bermasalah untuk menunggu orang lain mengemukakan pendapatnya. Hal yang dilakukannya kemudian adalah selalu menginterupsi. Meskipun dia diam saja dan membiarkan orang lain bicara, sebenarnya ia tidak mendengarkan.
3. Selalu protes
Menurut Dr. Williams, orang yang menghabiskan waktu untuk mengeluh tentang pelanggaran dan kekurangan orang lain mungkin memiliki masalah dengan amarahnya. Beberapa orang marah dengan kata-kata kasar bicara soal politik, olahraga atau hal lain. Semua racun itu datang dari sumber yang sama yaitu amarah.
4. Sulit memaafkan
Hubungan personal bisa menjadi mimpi buruk ketika seseorang mengalami kesulitan memaafkan orang yang telah menyakitinya di masa lalu. Orang-orang dengan masalah amarah seringkali mengalami kesulitan dalam memaafkan orang lain. Sebaliknya, mereka terus frustrasi untuk kembali pada pengalaman menyakitkan dan kebencian setiap kali mengingat kesalahan tersebut.
5. Wajah memerah
Saat emosi meninggi, wajah bisa terlihat merah. Ketika wajah merah, jika diukur dengan termometer suhu tubuh dalam keadaan tinggi. Kemarahan adalah efek yang jelas dari tubuh dan pikiran. Bahkan, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang sering marah cenderung memiliki tekanan darah tinggi dan mengalami stroke atau serangan jantung.
Ada perbedaan antara seseorang yang marah dengan yang bermasalah dalam mengontrol emosi. Dr. Redford Williams, profesor psikologi di Duke University Medical Center, Amerika Serikat dan penulis buku 'In Control' mengungkap lima perbedaannya.
Jika tanda-tanda berikut dialami oleh Anda sebaiknya berkonsultasilah dengan psikiater atau psikolog.
1. Marah besar karena masalah kecil
Marah bisa memiliki efek positif. "Seringkali amarah memberitahu kita untuk melakukan sebuah tindakan," kata Dr. Williams, seperti dikutip dari cbsnews.com. Tetapi, jika rasa marah muncul dan meledak-ledak hanya karena persoalan kecil, bisa jadi pertanda bahwa seseorang mengalami kesulitan dalam mengontrol emosinya.
2. Interupsi
Seseorang yang marah akan cenderung menjadi orang yang tidak sabar. Apalagi jika tidak bisa mengontrol amarahnya. Orang tersebut akan bermasalah untuk menunggu orang lain mengemukakan pendapatnya. Hal yang dilakukannya kemudian adalah selalu menginterupsi. Meskipun dia diam saja dan membiarkan orang lain bicara, sebenarnya ia tidak mendengarkan.
3. Selalu protes
Menurut Dr. Williams, orang yang menghabiskan waktu untuk mengeluh tentang pelanggaran dan kekurangan orang lain mungkin memiliki masalah dengan amarahnya. Beberapa orang marah dengan kata-kata kasar bicara soal politik, olahraga atau hal lain. Semua racun itu datang dari sumber yang sama yaitu amarah.
4. Sulit memaafkan
Hubungan personal bisa menjadi mimpi buruk ketika seseorang mengalami kesulitan memaafkan orang yang telah menyakitinya di masa lalu. Orang-orang dengan masalah amarah seringkali mengalami kesulitan dalam memaafkan orang lain. Sebaliknya, mereka terus frustrasi untuk kembali pada pengalaman menyakitkan dan kebencian setiap kali mengingat kesalahan tersebut.
5. Wajah memerah
Saat emosi meninggi, wajah bisa terlihat merah. Ketika wajah merah, jika diukur dengan termometer suhu tubuh dalam keadaan tinggi. Kemarahan adalah efek yang jelas dari tubuh dan pikiran. Bahkan, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang sering marah cenderung memiliki tekanan darah tinggi dan mengalami stroke atau serangan jantung.
bekal
Arti sebuah bekal
Sering kita dengar nasehat bijak, menggambarkan perjalanan hidup ini bagai menempuh perjalan musafir kelana.bahkan lebih sederhanan lagi ibarat sebuah perjalanan biasa, seperti kita pergi ke satu tujuan ,sesederhana apapun tentu itu adalah sebuah perjalanan yang dalam memulai sebuah perjalanan, biasanya kita harus sudah mempersiapkan bekal secukupnya. Kita selalu ingin memastikan bahwa bekal yang kita bawa cukup untuk memenuhi semua kebutuhan selama dalam perjalanan itu. Kita tidak ingin kehabisan bekal sebelum benar-benar menyelesaikan perjalanan itu, bukan? Ada banyak perjalanan yang pernah kita lakukan. Dan ada lebih banyak lagi perjalanan lain yang kita rencanakan. Namun, semua perjalanan itu terintegrasi dalam perjalanan utama yang paling hakiki. Dan kita menyebutnya perjalanan hidup. Untuk sebuah perjalanan yang sederhana saja, kita menyiapkan bekal yang sangat banyak. Maka seharusnya untuk pejalanan hidup; lebih banyak lagi bekal yang harus kita persiapkan. Tetapi, pertanyaannya apakah kita benar-benar telah mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan panjang itu? Padahal, jika kita gagal mempersiapkan bekal yang memadai; bisa jadi kita akan gagal menyelesaikan perjalanan ini. Sebab, bekal itu, tidak jarang bagaikan bensin bagi kendaraan yang kita gunakan untuk menempuhnya. Jika kita mempunyai bensin yang cukup, maka kita memiliki peluang untuk menyelesaikannya. Dan jika tidak, maka kita hanya akan teronggok disebuah tempat yang boleh jadi; kita tidak ingin berada disana. Disinilah bekal itu menjadi penting dan sudahkan itu pernah menjadi sebuah pemikiran kita?. Mbah yayin
Sering kita dengar nasehat bijak, menggambarkan perjalanan hidup ini bagai menempuh perjalan musafir kelana.bahkan lebih sederhanan lagi ibarat sebuah perjalanan biasa, seperti kita pergi ke satu tujuan ,sesederhana apapun tentu itu adalah sebuah perjalanan yang dalam memulai sebuah perjalanan, biasanya kita harus sudah mempersiapkan bekal secukupnya. Kita selalu ingin memastikan bahwa bekal yang kita bawa cukup untuk memenuhi semua kebutuhan selama dalam perjalanan itu. Kita tidak ingin kehabisan bekal sebelum benar-benar menyelesaikan perjalanan itu, bukan? Ada banyak perjalanan yang pernah kita lakukan. Dan ada lebih banyak lagi perjalanan lain yang kita rencanakan. Namun, semua perjalanan itu terintegrasi dalam perjalanan utama yang paling hakiki. Dan kita menyebutnya perjalanan hidup. Untuk sebuah perjalanan yang sederhana saja, kita menyiapkan bekal yang sangat banyak. Maka seharusnya untuk pejalanan hidup; lebih banyak lagi bekal yang harus kita persiapkan. Tetapi, pertanyaannya apakah kita benar-benar telah mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan panjang itu? Padahal, jika kita gagal mempersiapkan bekal yang memadai; bisa jadi kita akan gagal menyelesaikan perjalanan ini. Sebab, bekal itu, tidak jarang bagaikan bensin bagi kendaraan yang kita gunakan untuk menempuhnya. Jika kita mempunyai bensin yang cukup, maka kita memiliki peluang untuk menyelesaikannya. Dan jika tidak, maka kita hanya akan teronggok disebuah tempat yang boleh jadi; kita tidak ingin berada disana. Disinilah bekal itu menjadi penting dan sudahkan itu pernah menjadi sebuah pemikiran kita?. Mbah yayin
Rabu, 29 September 2010
IKHLAS..........
Surga Untuk Pelacur
Rasulullah ?Shallallaahu ' Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam mengkisahkan dalam riwayat sahih Bukhari dan Muslim tentang seorang Pelacur yang masuk surga
karena memberi munim anjing...
Al-Kisah...Pada suatu hari seorang Pelacur melihat seekor anjing yang hampir mati karena kehausan...Pelacur itu merasa kasihan terhadap anjing tersebut lalu ia melepas sepatunya untuk mengambilkan air minum dan memberikannya kepada anjing tersebut...Allah mengampuni dosa-dosa Pelacur itu dan memasukkannya ke dalam surga karena memberikan minum kepada anjing yang kehausan...
Rasulullah ?Shallallaahu ' Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam mengkisahkan dalam riwayat sahih Bukhari dan Muslim tentang seorang Pelacur yang masuk surga
karena memberi munim anjing...
Al-Kisah...Pada suatu hari seorang Pelacur melihat seekor anjing yang hampir mati karena kehausan...Pelacur itu merasa kasihan terhadap anjing tersebut lalu ia melepas sepatunya untuk mengambilkan air minum dan memberikannya kepada anjing tersebut...Allah mengampuni dosa-dosa Pelacur itu dan memasukkannya ke dalam surga karena memberikan minum kepada anjing yang kehausan...
tauhid kita harus pelajari
Apa ilmu tauhid itu
Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah Subhannahu wa Ta'ala , tentang asma-asma-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya atas semua hamba-Nya.
Ilmu tauhid juga merupakan kunci jalan menuju Allah Subhannahu wa Ta'ala serta dasar syariat-Nya. Oleh karena itu para rasul bersepakat untuk mendakwahkannya kepada seluruh umat manusia.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ?Bahwa-sanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melain-kan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (Al Anbiyaa: 25).
Allah Subhannahu wa Ta'ala mempersaksikan keesaan pada diri-Nya. De-mikian juga para malaikat dan ahli ilmu.
Allah berfirman,
"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha bijak-sana.' (Al Imran: 18).
Jika ilmu tauhid sedemikian pentingnya, maka setiap muslim tentu wajib memperhatikannya dengan mempe-lajari dan mengajarkan, dengan berpikir dan beritikad agar dapat mendirikan dienullah di atas dasar yang benar, serta untuk menenangkan jiwa dan mendapatkan kebahagiaan sebagai buah dan hasilnya.
Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah Subhannahu wa Ta'ala , tentang asma-asma-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya atas semua hamba-Nya.
Ilmu tauhid juga merupakan kunci jalan menuju Allah Subhannahu wa Ta'ala serta dasar syariat-Nya. Oleh karena itu para rasul bersepakat untuk mendakwahkannya kepada seluruh umat manusia.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ?Bahwa-sanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melain-kan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (Al Anbiyaa: 25).
Allah Subhannahu wa Ta'ala mempersaksikan keesaan pada diri-Nya. De-mikian juga para malaikat dan ahli ilmu.
Allah berfirman,
"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha bijak-sana.' (Al Imran: 18).
Jika ilmu tauhid sedemikian pentingnya, maka setiap muslim tentu wajib memperhatikannya dengan mempe-lajari dan mengajarkan, dengan berpikir dan beritikad agar dapat mendirikan dienullah di atas dasar yang benar, serta untuk menenangkan jiwa dan mendapatkan kebahagiaan sebagai buah dan hasilnya.
Senin, 27 September 2010
antara taat dan ikhlas
Ikhlas dan taat
Dadang kadarisman
Kita sering mendengar kata ikhlasdiucapkan orang. Misalnya, sang dermawan berkata;saya menyerahkan sumbangan ini dengan ikhlas. Anehnya, dia mengharapkan sang penerima derma untuk mencoblos tanda gambar dalam pemilihan ketua RT minggu depan. Dia merasa kesal ketika ternyata hasil perhitungan suara lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah orang yang menerima derma darinya. Kita memang gemar membawa-bawa kata ikhlas ketika melakukan sesuatu untuk orang lain. Tapi, hati kecil kita begitu mudahnya menggugat hanya karena orang yang kita tolong itu sama sekali tidak mengucapkan terimakasih. Dan diam-diam kita mencap orang itu sebagai ‘orang yang tidak tahu terimakasih. Sebongkah kedongkolan ditambah dengan perasaan tidak dihormati cukup menjadikan kita kapok untuk menolongnya lagi dikemudian hari.
Beberapa waktu yang lalu, ada kejadian aneh didaerah kami. Jalan menuju ke pemukiman kami sudah pada berlubang. Ketika saya melintas pagi itu, lubang-lubang itu masih bercokol disitu. Tetapi, disore hari saat saya pulang; jalan itu sudah berubah menjadi mulus. Dimalam harinya, salah satu tokoh masyarakat kami mengaku menangis menyaksikan kejadian itu. Dia menangis karena ada orang yang tanpa ketahuan identitasnya telah memperbaiki jalan umum itu. Padahal, para pengurus RT/RW yang saling bertetangga sudah sejak lama berembuk mengenai perbaikan jalan, tanpa keputusan yang berarti. Kerumitan masalahnya ada pada ketidaksepakatan mengenai berapa uang yang harus disumbangkan oleh setiap rumah. Apakah para pensiunan harus membayar sejumlah yang sama? Apakah tidak sebaiknya orang yang mempunyai mobil lebih dari satu membayar iuran berlipat ganda? Dan seribu satuapakah lainnya. Tapi, hari itu; jalan itu mulus hanya dalam beberapa jam saja. Semetara itu, tak seorangpun tahu siapa dermawan
Pak tokoh masyarakat itu menangis karena disadarkan tentang betapa dirinya belum memiliki keikhlasan seperti orang itu. Dan pada malam itu, kami yang tengah berkumpul diforum itu diingatkan juga bahwa; betapa keikhlasan itu merupakan rahasia antara seseorang dengan Tuhannya. Karena, tidak ada yang mengetahui apakah kita sungguh-sungguh ikhlas atau sekedar berpura-pura ikhlas; kecuali diri kita sendiri dan Sang Maha Mengetahui isi hati manusia. Seperti halnya kita tidak bisa membohongi hati sendiri, kita tidak bisa menyembunyikan sesuatu pun dihadapan Dia. Mulut kita bisa mengatakan saya ikhlas Tapi, jika sesungguhnya kita tidak benar-benar ikhlas, maka hati kita dan Dia; tahu segalanya.
Ketika kita sungguh-sungguh ikhlas, maka mulut tidak lagi tertarik untuk mengatakannya. Mendingan mesam-mesem saja. Jika ikhlas, kita tidak lagi pusing apakah seseorang berterimakasih atau tidak. Jika ikhlas, tidak penting lagi apakah nama kita diumumkan atau tidak. Jika ikhlas, yang kita harapkan adalah penerimaan Tuhan atas apa yang kita lakukan, bukan penilaian manusia. Dan jika demikian, mengapa orang lain harus tahu apakah kita ini ikhlas atau tidak?
Namun, kadang-kadang kita menganggap bahwa ikhlas itu berarti tidak mengharapkan imbalan apapun. Meskipun pada kenyataannya kita ikhlas bekerja sehari-hari hanya jika digaji. Kalau kita tidak digaji, mana bisa ikhlas bekerja seperti ini? Persis seperti jawaban yang disampaikan oleh seorang murid ketika Sang Guru bertanyamenurut pendapatmu;ikhlas itu apa Kata si Murid; ikhlas berarti kita melakukan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan atas apa yang kitalakukan
Seperti apa misalnya lanjut Sang Guru.
Maaf pak guru jawab si Murid.seperti ketika guru membuang hajat lanjutnya.setelah semua urusan di toilet selesai guru tidak pernah ingin lagi melihat kedalamnya guru langsung mebilasnya dan guru tak ingin mengingat ingat.
Oh begitu kata Sang Guru sambil manggut-manggut. Si Murid yang merasa dirinya telah memberikan jawaban sempurna berbangga hati. Kalo begitu lanjut Sang Guru. Didunia ini tidak ada satupun manusia yang benar benar ikhlas Sekarang sang Murid terperanjat.
Seperti mengerti kegundahan dihati muridnya, Sang Guru melanjutkan. Menurut pendapatku, ikhlas itu berarti menerima hukum Tuhan apa adanya. Dengan kata lain, bersedia menerima apapun yang digariskan Tuhan untuk mengatur alam semesta ini. Agak geli mendengar nasihat Sang Guru, si Murid berkata; “Guru, itu adalah arti kata taát. Bukan ikhlas.
Benar sekali, kata Sang Guru. Karena, keikhlasan itu saudara kembar dari ketaatan. Seperti Wiro Sableng murid Sinto Gendheng, sang Murid garuk-garuk kepala ketika Sang Guru berujar; Orang-orang yang taa¡t, secara tulus ikhlas menerima hukum Tuhan apapun adanya itu. Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa tidak termasuk taát orang-orang yang menolak keputusan Tuhan. Misalnya, Tuhan sudah memutuskan bahwa setiap perbuatan ada imbalannya. Perbuatan buruk imbalannya keburukan juga. Itu yang kemudian kita sebut sebagai dosa. Sedangkan perbuatan baik imbalannya kebaikan juga. Yang biasa kita sebut sebagai pahala. Tidak ada perbuatan manusia yang luput dari pengamatan Sang Maha Melihat. Dia mencatat dengan seksama, dan menghisabkan perhitungan sesuai dengan baik atau buruk perbuatannya. Itu adalah hukum yang dibuat oleh Tuhan. Dan, seorang hamba yang ikhlas pasti mentaáti hukum itu. Sehingga, dia sungguh takut berbuat keburukan karena imbalannya yang berupa keburukan pula itu. Sebaliknya dia begitu bersemangat dalam berbuat kebajikan, karena dia sungguh merindukan kebaikan dari sisi Tuhannya.
Guru, kata si Murid. Bukankah lebih baik jika kita tidak mengharapkan imbalan dari Tuhan? Sang Guru menjawab:Itu betul, katanya. Jika, kamu benar-benar tidak mengharapkan imbalan dari Tuhanmu. lanjutnya. Tapi, jika tidak, maka Tuhan tetap tahu apa yang terucap dihatimu. Setelah itu, Sang Guru mengatakan bahwa Tuhan itu sangat senang jika hamba-hambanya yang baik menggantungkan beribu harapan kepadaNya. Itulah mengapa Dia menyebut dirinya sendiri sebagai Sang Tempat Menggantungkan Harapan. Seorang hamba yang yakin dan takut saat berbuat keburukan, namun penuh harap dengan banyak-banyak berbuat kebajikan disebut sebagai hamba yang tawazun. Artinya, seimbang. Dia tidak berat sebelah. Dia tidak hanya yakin bahwa Tuhan akan membalas keburukan dengan keburukan. Melainkan juga yakin bahwa kebaikan akan berbalas kebaikan disisiNya. Dan sungguh, katanya; Tuhan sangat menyukai orang-orang yang seperti itu. Maukah kita membuat Tuhan suka?
Dadang kadarisman
Kita sering mendengar kata ikhlasdiucapkan orang. Misalnya, sang dermawan berkata;saya menyerahkan sumbangan ini dengan ikhlas. Anehnya, dia mengharapkan sang penerima derma untuk mencoblos tanda gambar dalam pemilihan ketua RT minggu depan. Dia merasa kesal ketika ternyata hasil perhitungan suara lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah orang yang menerima derma darinya. Kita memang gemar membawa-bawa kata ikhlas ketika melakukan sesuatu untuk orang lain. Tapi, hati kecil kita begitu mudahnya menggugat hanya karena orang yang kita tolong itu sama sekali tidak mengucapkan terimakasih. Dan diam-diam kita mencap orang itu sebagai ‘orang yang tidak tahu terimakasih. Sebongkah kedongkolan ditambah dengan perasaan tidak dihormati cukup menjadikan kita kapok untuk menolongnya lagi dikemudian hari.
Beberapa waktu yang lalu, ada kejadian aneh didaerah kami. Jalan menuju ke pemukiman kami sudah pada berlubang. Ketika saya melintas pagi itu, lubang-lubang itu masih bercokol disitu. Tetapi, disore hari saat saya pulang; jalan itu sudah berubah menjadi mulus. Dimalam harinya, salah satu tokoh masyarakat kami mengaku menangis menyaksikan kejadian itu. Dia menangis karena ada orang yang tanpa ketahuan identitasnya telah memperbaiki jalan umum itu. Padahal, para pengurus RT/RW yang saling bertetangga sudah sejak lama berembuk mengenai perbaikan jalan, tanpa keputusan yang berarti. Kerumitan masalahnya ada pada ketidaksepakatan mengenai berapa uang yang harus disumbangkan oleh setiap rumah. Apakah para pensiunan harus membayar sejumlah yang sama? Apakah tidak sebaiknya orang yang mempunyai mobil lebih dari satu membayar iuran berlipat ganda? Dan seribu satuapakah lainnya. Tapi, hari itu; jalan itu mulus hanya dalam beberapa jam saja. Semetara itu, tak seorangpun tahu siapa dermawan
Pak tokoh masyarakat itu menangis karena disadarkan tentang betapa dirinya belum memiliki keikhlasan seperti orang itu. Dan pada malam itu, kami yang tengah berkumpul diforum itu diingatkan juga bahwa; betapa keikhlasan itu merupakan rahasia antara seseorang dengan Tuhannya. Karena, tidak ada yang mengetahui apakah kita sungguh-sungguh ikhlas atau sekedar berpura-pura ikhlas; kecuali diri kita sendiri dan Sang Maha Mengetahui isi hati manusia. Seperti halnya kita tidak bisa membohongi hati sendiri, kita tidak bisa menyembunyikan sesuatu pun dihadapan Dia. Mulut kita bisa mengatakan saya ikhlas Tapi, jika sesungguhnya kita tidak benar-benar ikhlas, maka hati kita dan Dia; tahu segalanya.
Ketika kita sungguh-sungguh ikhlas, maka mulut tidak lagi tertarik untuk mengatakannya. Mendingan mesam-mesem saja. Jika ikhlas, kita tidak lagi pusing apakah seseorang berterimakasih atau tidak. Jika ikhlas, tidak penting lagi apakah nama kita diumumkan atau tidak. Jika ikhlas, yang kita harapkan adalah penerimaan Tuhan atas apa yang kita lakukan, bukan penilaian manusia. Dan jika demikian, mengapa orang lain harus tahu apakah kita ini ikhlas atau tidak?
Namun, kadang-kadang kita menganggap bahwa ikhlas itu berarti tidak mengharapkan imbalan apapun. Meskipun pada kenyataannya kita ikhlas bekerja sehari-hari hanya jika digaji. Kalau kita tidak digaji, mana bisa ikhlas bekerja seperti ini? Persis seperti jawaban yang disampaikan oleh seorang murid ketika Sang Guru bertanyamenurut pendapatmu;ikhlas itu apa Kata si Murid; ikhlas berarti kita melakukan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan atas apa yang kitalakukan
Seperti apa misalnya lanjut Sang Guru.
Maaf pak guru jawab si Murid.seperti ketika guru membuang hajat lanjutnya.setelah semua urusan di toilet selesai guru tidak pernah ingin lagi melihat kedalamnya guru langsung mebilasnya dan guru tak ingin mengingat ingat.
Oh begitu kata Sang Guru sambil manggut-manggut. Si Murid yang merasa dirinya telah memberikan jawaban sempurna berbangga hati. Kalo begitu lanjut Sang Guru. Didunia ini tidak ada satupun manusia yang benar benar ikhlas Sekarang sang Murid terperanjat.
Seperti mengerti kegundahan dihati muridnya, Sang Guru melanjutkan. Menurut pendapatku, ikhlas itu berarti menerima hukum Tuhan apa adanya. Dengan kata lain, bersedia menerima apapun yang digariskan Tuhan untuk mengatur alam semesta ini. Agak geli mendengar nasihat Sang Guru, si Murid berkata; “Guru, itu adalah arti kata taát. Bukan ikhlas.
Benar sekali, kata Sang Guru. Karena, keikhlasan itu saudara kembar dari ketaatan. Seperti Wiro Sableng murid Sinto Gendheng, sang Murid garuk-garuk kepala ketika Sang Guru berujar; Orang-orang yang taa¡t, secara tulus ikhlas menerima hukum Tuhan apapun adanya itu. Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa tidak termasuk taát orang-orang yang menolak keputusan Tuhan. Misalnya, Tuhan sudah memutuskan bahwa setiap perbuatan ada imbalannya. Perbuatan buruk imbalannya keburukan juga. Itu yang kemudian kita sebut sebagai dosa. Sedangkan perbuatan baik imbalannya kebaikan juga. Yang biasa kita sebut sebagai pahala. Tidak ada perbuatan manusia yang luput dari pengamatan Sang Maha Melihat. Dia mencatat dengan seksama, dan menghisabkan perhitungan sesuai dengan baik atau buruk perbuatannya. Itu adalah hukum yang dibuat oleh Tuhan. Dan, seorang hamba yang ikhlas pasti mentaáti hukum itu. Sehingga, dia sungguh takut berbuat keburukan karena imbalannya yang berupa keburukan pula itu. Sebaliknya dia begitu bersemangat dalam berbuat kebajikan, karena dia sungguh merindukan kebaikan dari sisi Tuhannya.
Guru, kata si Murid. Bukankah lebih baik jika kita tidak mengharapkan imbalan dari Tuhan? Sang Guru menjawab:Itu betul, katanya. Jika, kamu benar-benar tidak mengharapkan imbalan dari Tuhanmu. lanjutnya. Tapi, jika tidak, maka Tuhan tetap tahu apa yang terucap dihatimu. Setelah itu, Sang Guru mengatakan bahwa Tuhan itu sangat senang jika hamba-hambanya yang baik menggantungkan beribu harapan kepadaNya. Itulah mengapa Dia menyebut dirinya sendiri sebagai Sang Tempat Menggantungkan Harapan. Seorang hamba yang yakin dan takut saat berbuat keburukan, namun penuh harap dengan banyak-banyak berbuat kebajikan disebut sebagai hamba yang tawazun. Artinya, seimbang. Dia tidak berat sebelah. Dia tidak hanya yakin bahwa Tuhan akan membalas keburukan dengan keburukan. Melainkan juga yakin bahwa kebaikan akan berbalas kebaikan disisiNya. Dan sungguh, katanya; Tuhan sangat menyukai orang-orang yang seperti itu. Maukah kita membuat Tuhan suka?
membaca yang mendapat pahala
Membaca Buku Yang Dihadiahi Taburan Pahala
by Dadang Kadarusman | 2 comments
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Buku apa yang paling sering Anda baca? Jika Anda penggemar novel, tentu Anda sangat senang membaca novel. Sedangkan bagi orang-orang yang gemar mencari penyemangat diri, buku-buku motivatif dan inspiratif tentu menjadi pilihan mereka. Ketika membaca buku, kita mendapatkan kepuasan dengan cara kita masing-masing. Tetapi, tahukah Anda bahwa ada jenis buku tertentu yang hanya dengan membacanya saja kita mendapatkan hadiah berupa pahala? Yang pasti, buku yang dimaksud bukanlah dari jenis buku-buku seperti yang saya karang selama ini. Lantas apakah gerangan jenis buku itu?
Saya yakin Anda sudah mengetahui jawabannya. Dan Anda benar. Buku yang pahala membacanya sangat tinggi adalah buku yang diturunkan oleh Tuhan. Alias buku yang berisi petunjuk Tuhan bagi manusia agar bisa menjalani hidupnya sesuai dengan tujuan penciptaan dirinya. Itulah buku berisi wahyu yang Tuhan firmankan melalui para Nabi yang dipilih oleh Tuhan sendiri. Kita percaya bahwa Tuhan itu suci. Dia menghendaki setiap manusia untuk juga menjaga kesucian dirinya dengan perilaku dan tindak tanduk yang juga suci. Oleh karena itu pula, kita percaya bahwa buku yang berisi tuntunan Tuhan itu adalah buku suci.
Saya sering merasa aneh kepada diri sendiri. Sebagai seorang pribadi yang meyakini keberadaan Tuhan, saya sering malas untuk membaca buku suci yang berisi wahyu Tuhan. Keasyikan saya membaca buku-buku lain seperti novel, managemen, self-help dan sebangsanya itu jauh melampaui kegandrungan saya membaca buku suci. Setiap hari, saya hanya sanggup membaca rata-rata 2 ’ain saja. Jarang sekali lebih dari itu. Bahkan masih banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa membaca buku suci.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda telah secara konsisten membaca buku suci yang Anda yakini? Saya tidak memiliki kepentingan untuk mempermasalahkan apa buku suci Anda. Jika Anda adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu satu dan hanya satu, maka itu berarti bahwa Tuhan Anda dan Tuhan saya sama. Dan faktanya, kita tidak bisa melarikan diri kepada Tuhan manapun selain kepada Tuhan yang satu itu. Kalaupun untuk satu atau lain alasan kita tidak menuhankan Dzat yang sama, maka itupun bukan urusan saya. Sama sekali tidak ada alasan bagi kita untuk saling berselisih. Biarlah itu menjadi urusan Tuhan. Jika memang Tuhan kita berbeda, maka biarlah Tuhan kita menyelesaikan masalahnya sendiri. Apalagi jika ternyata Tuhan kita sama, maka semua urusan akan selesai antara saya dengan Dia. Dan antara Anda dengan Dia. Peace.
Saya meyakini bahwa buku suci yang saya imani berisi wahyu yang benar-benar berasal dari Tuhan. Bukan rekaan manusia. Bukan pula buatan para ahli sastra. Apalagi sekedar pelintiran pemikiran para politisi agama. Tentu Anda juga memiliki keyakinan yang sama bahwa buku suci Anda benar-benar berisi wahyu dari Tuhan. Maka tidak ada yang berhak untuk mengganggu keyakinan kita atas buku suci itu. Baik keyakinan Anda kepada buku suci Anda. Maupun keyakinan saya kepada buku suci saya. Tetapi, tahukah Anda; mengapa Tuhan memberi pahala kepada orang yang berkenan membaca buku suci yang berisi wahyu-Nya?
Beberapa hari yang lalu, saya berbincang dengan seorang famili yang menyampaikan pesan dari salah seorang sesepuh di keluarga kami. Beliau ini membaca buku-buku yang saya tulis. Rupanya beliau sudah selesai membaca semua buku karangan saya. Meski merasa risih, saya bahagia sekali. Apalagi dengan embel-embel pujian terhadap isinya yang katanya berbobot tinggi, menyentuh, dan bisa menginspirasi pembacanya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Boleh jadi, apa yang beliau katakan itu lebih dimaksudkan untuk menyemangati saya daripada menilai isi buku yang sesungguhnya. Tapi, saya senaaaaaaang sekali mendengarnya. Sekarang, saya menjadi tahu; mengapa Tuhan begitu senang kepada seorang hamba yang membaca buku suci-Nya. Maka tidak heran jika Tuhan memberinya pahala. Jika orang itu memuliakannya, maka Tuhan pun memuliakan orang itu.
Oleh sebab itu, tidak ada buku lain yang dengan membacanya saja kita mendapatkan pahala yang begitu banyak selain membaca buku suci. Sebab, ketika kita membaca buku suci yang berisi wahyu Tuhan, maka kita tahu apa yang Tuhan inginkan. Lalu kita menjalani hidup kita persis seperti yang Tuhan ingin kita menjalaninya. Maka dengan cara itu, kita bisa menjadi pribadi yang patuh kepada Tuhan. Inilah tantangan berat berikutnya bagi saya. Kelemahan saya sebagai manusia sering mengurangi kemampuan saya untuk menjalankan firman Tuhan yang tertera didalam buku suci itu. Jadi, Anda tidak perlu terkejut jika suatu ketika nanti memergoki perilaku dan tindak tanduk saya tidak mencerminkan isi dan tuntunan Tuhan dalam buku suci itu. Jika Anda ingin menilai, hendaknya Anda melihat itu sebagai kesalahan saya. Bukan kesalahan tuntunan Tuhan dalam buku suci itu. Sebab buruknya perilaku saya bukanlah cerminan buruknya petunjuk Tuhan dalam buku suci yang saya baca.
Sekarang saya mulai faham, mengapa saat menjelang wafat Rasulullah salallaahu ’alaihi wasallaam mewasiatkan tentang warisan yang hendak ditinggalkannya. Warisan itu bukan emas atau harta maupun permata. Melainkan buku suci yang berisi firman Tuhan. Sampai hari ini, buku suci itu tetap terjaga sehingga tidak pernah ada yang berani mengubah isinya. Sungguh, buku suci itu mengajak manusia untuk hanya menyembah Tuhan. Sesuatu yang sama sekali tidak berlebihan, karena kenyataannya; tidak ada yang berkuasa atas hidup dan mati kita selain Tuhan. Tidak ada raja yang lebih berkuasa selain Tuhan. Maka ketika buku suci itu mengajak kita untuk hanya menyembah Tuhan, baik jasad kasar maupun ruh halus kita sesungguhnya sangat mengerti dan menerima serta tunduk kepada ajakannya. Tetapi, mengapa kadang kita enggan melakukannya sehingga kita masih sibuk mencari tuhan-tuhan yang lain? Mungkin karena kita lebih suka mengikuti nafsu kesombongan dan ego serta dengki yang bersembunyi didalam hati kita daripada mengikuti fitrah Tuhan.
Dalam buku suci yang diwariskan Rasulullah itu juga secara gamblang dijelaskan bahwa; wahyu Tuhan yang dirangkum didalamnya membenarkan wahyu-wahyu Tuhan yang telah difirmankan-Nya kepada Nabi-Nabi suci lain yang diutus sebelumnya. Buku suci itu membenarkan ajaran Nabi Ibrahim. Menjadi saksi kesalihan Nabi Ismail, dan mengisahkan kepatuhan Nabi Ya’kub. Buku suci itu juga menjadi penegas atas wahyu yang disampaikan oleh Nabi Musa, serta mencatatkan kemurnian tauhid yang diajarkan oleh Nabi Isa kepada para pengikutnya yang setia. Betapa dalam buku suci itu dikatakan bahwa semua Nabi yang telah diutus Tuhan itu berada dalam naungan-Nya. Mereka bersaudara disisi Tuhan. Mereka saling merelakan disisi Tuhan. Dan mereka mengajak umat manusia untuk tunduk patuh dan berserah diri hanya kepada-Nya. Hanya kepada-Nya saja.
Sekarang, saya juga mulai faham; mengapa orang-orang yang membaca dan mengerti isi buku sucinya bersedia tunduk kepada keputusan Tuhan. Karena buku suci menjelaskan segala hal yang mencakup kehidupan umat manusia. Didalamnya, ada peraturan Tuhan tentang tata cara berbisnis. Tentang cara berbicara. Tentang cara memperlakukan tetangga. Bayangkan, Tuhan mengatur tentang tetangga dalam buku sucinya. Tentang tanggungjawab pribadi bahwa; amalmu adalah untukmu, sedangkan amalku untukku. Tidak mungkin tertukar. Dalam buku suci itu ditegaskan bahwa setiap orang bertanggungjawab atas pilihan hidup yang diambilnya. Sehingga tidak relevan jika saya mencampuri keputusan orang lain lebih dari sekedar saling mengingatkan.
Jika Anda pernah membaca buku-buku saya, maka ijinkan saya untuk mengucapkan terimakasih. Namun, ijinkan pula saya untuk secara terbuka mengatakan kepada Anda bahwa; buku-buku saya itu tidak memiliki nilai apa-apa. Kebenaran yang ada didalamnya sangat nisbi alias lemah dan relatif. Jika Anda ingin membaca buku terbaik yang berisi sebenar-benarnya inspirasi; maka bukan buku saya pilihannya. Melainkan buku berisi firman yang Tuhan wahyukan kepada Nabi-Nabi sucinya. Itulah buku suci milik Tuhan. Buku yang bukan manusia pengarangnya. Anda, pasti memiliki buku suci seperti itu. Maka bacalah. Dan bagi saya pribadi, buku suci itu adalah Al-Qur’an.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Leadership & People Development Training
www.bukudadang.com dan www.dadangkadarusman.com
by Dadang Kadarusman | 2 comments
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Buku apa yang paling sering Anda baca? Jika Anda penggemar novel, tentu Anda sangat senang membaca novel. Sedangkan bagi orang-orang yang gemar mencari penyemangat diri, buku-buku motivatif dan inspiratif tentu menjadi pilihan mereka. Ketika membaca buku, kita mendapatkan kepuasan dengan cara kita masing-masing. Tetapi, tahukah Anda bahwa ada jenis buku tertentu yang hanya dengan membacanya saja kita mendapatkan hadiah berupa pahala? Yang pasti, buku yang dimaksud bukanlah dari jenis buku-buku seperti yang saya karang selama ini. Lantas apakah gerangan jenis buku itu?
Saya yakin Anda sudah mengetahui jawabannya. Dan Anda benar. Buku yang pahala membacanya sangat tinggi adalah buku yang diturunkan oleh Tuhan. Alias buku yang berisi petunjuk Tuhan bagi manusia agar bisa menjalani hidupnya sesuai dengan tujuan penciptaan dirinya. Itulah buku berisi wahyu yang Tuhan firmankan melalui para Nabi yang dipilih oleh Tuhan sendiri. Kita percaya bahwa Tuhan itu suci. Dia menghendaki setiap manusia untuk juga menjaga kesucian dirinya dengan perilaku dan tindak tanduk yang juga suci. Oleh karena itu pula, kita percaya bahwa buku yang berisi tuntunan Tuhan itu adalah buku suci.
Saya sering merasa aneh kepada diri sendiri. Sebagai seorang pribadi yang meyakini keberadaan Tuhan, saya sering malas untuk membaca buku suci yang berisi wahyu Tuhan. Keasyikan saya membaca buku-buku lain seperti novel, managemen, self-help dan sebangsanya itu jauh melampaui kegandrungan saya membaca buku suci. Setiap hari, saya hanya sanggup membaca rata-rata 2 ’ain saja. Jarang sekali lebih dari itu. Bahkan masih banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa membaca buku suci.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda telah secara konsisten membaca buku suci yang Anda yakini? Saya tidak memiliki kepentingan untuk mempermasalahkan apa buku suci Anda. Jika Anda adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu satu dan hanya satu, maka itu berarti bahwa Tuhan Anda dan Tuhan saya sama. Dan faktanya, kita tidak bisa melarikan diri kepada Tuhan manapun selain kepada Tuhan yang satu itu. Kalaupun untuk satu atau lain alasan kita tidak menuhankan Dzat yang sama, maka itupun bukan urusan saya. Sama sekali tidak ada alasan bagi kita untuk saling berselisih. Biarlah itu menjadi urusan Tuhan. Jika memang Tuhan kita berbeda, maka biarlah Tuhan kita menyelesaikan masalahnya sendiri. Apalagi jika ternyata Tuhan kita sama, maka semua urusan akan selesai antara saya dengan Dia. Dan antara Anda dengan Dia. Peace.
Saya meyakini bahwa buku suci yang saya imani berisi wahyu yang benar-benar berasal dari Tuhan. Bukan rekaan manusia. Bukan pula buatan para ahli sastra. Apalagi sekedar pelintiran pemikiran para politisi agama. Tentu Anda juga memiliki keyakinan yang sama bahwa buku suci Anda benar-benar berisi wahyu dari Tuhan. Maka tidak ada yang berhak untuk mengganggu keyakinan kita atas buku suci itu. Baik keyakinan Anda kepada buku suci Anda. Maupun keyakinan saya kepada buku suci saya. Tetapi, tahukah Anda; mengapa Tuhan memberi pahala kepada orang yang berkenan membaca buku suci yang berisi wahyu-Nya?
Beberapa hari yang lalu, saya berbincang dengan seorang famili yang menyampaikan pesan dari salah seorang sesepuh di keluarga kami. Beliau ini membaca buku-buku yang saya tulis. Rupanya beliau sudah selesai membaca semua buku karangan saya. Meski merasa risih, saya bahagia sekali. Apalagi dengan embel-embel pujian terhadap isinya yang katanya berbobot tinggi, menyentuh, dan bisa menginspirasi pembacanya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Boleh jadi, apa yang beliau katakan itu lebih dimaksudkan untuk menyemangati saya daripada menilai isi buku yang sesungguhnya. Tapi, saya senaaaaaaang sekali mendengarnya. Sekarang, saya menjadi tahu; mengapa Tuhan begitu senang kepada seorang hamba yang membaca buku suci-Nya. Maka tidak heran jika Tuhan memberinya pahala. Jika orang itu memuliakannya, maka Tuhan pun memuliakan orang itu.
Oleh sebab itu, tidak ada buku lain yang dengan membacanya saja kita mendapatkan pahala yang begitu banyak selain membaca buku suci. Sebab, ketika kita membaca buku suci yang berisi wahyu Tuhan, maka kita tahu apa yang Tuhan inginkan. Lalu kita menjalani hidup kita persis seperti yang Tuhan ingin kita menjalaninya. Maka dengan cara itu, kita bisa menjadi pribadi yang patuh kepada Tuhan. Inilah tantangan berat berikutnya bagi saya. Kelemahan saya sebagai manusia sering mengurangi kemampuan saya untuk menjalankan firman Tuhan yang tertera didalam buku suci itu. Jadi, Anda tidak perlu terkejut jika suatu ketika nanti memergoki perilaku dan tindak tanduk saya tidak mencerminkan isi dan tuntunan Tuhan dalam buku suci itu. Jika Anda ingin menilai, hendaknya Anda melihat itu sebagai kesalahan saya. Bukan kesalahan tuntunan Tuhan dalam buku suci itu. Sebab buruknya perilaku saya bukanlah cerminan buruknya petunjuk Tuhan dalam buku suci yang saya baca.
Sekarang saya mulai faham, mengapa saat menjelang wafat Rasulullah salallaahu ’alaihi wasallaam mewasiatkan tentang warisan yang hendak ditinggalkannya. Warisan itu bukan emas atau harta maupun permata. Melainkan buku suci yang berisi firman Tuhan. Sampai hari ini, buku suci itu tetap terjaga sehingga tidak pernah ada yang berani mengubah isinya. Sungguh, buku suci itu mengajak manusia untuk hanya menyembah Tuhan. Sesuatu yang sama sekali tidak berlebihan, karena kenyataannya; tidak ada yang berkuasa atas hidup dan mati kita selain Tuhan. Tidak ada raja yang lebih berkuasa selain Tuhan. Maka ketika buku suci itu mengajak kita untuk hanya menyembah Tuhan, baik jasad kasar maupun ruh halus kita sesungguhnya sangat mengerti dan menerima serta tunduk kepada ajakannya. Tetapi, mengapa kadang kita enggan melakukannya sehingga kita masih sibuk mencari tuhan-tuhan yang lain? Mungkin karena kita lebih suka mengikuti nafsu kesombongan dan ego serta dengki yang bersembunyi didalam hati kita daripada mengikuti fitrah Tuhan.
Dalam buku suci yang diwariskan Rasulullah itu juga secara gamblang dijelaskan bahwa; wahyu Tuhan yang dirangkum didalamnya membenarkan wahyu-wahyu Tuhan yang telah difirmankan-Nya kepada Nabi-Nabi suci lain yang diutus sebelumnya. Buku suci itu membenarkan ajaran Nabi Ibrahim. Menjadi saksi kesalihan Nabi Ismail, dan mengisahkan kepatuhan Nabi Ya’kub. Buku suci itu juga menjadi penegas atas wahyu yang disampaikan oleh Nabi Musa, serta mencatatkan kemurnian tauhid yang diajarkan oleh Nabi Isa kepada para pengikutnya yang setia. Betapa dalam buku suci itu dikatakan bahwa semua Nabi yang telah diutus Tuhan itu berada dalam naungan-Nya. Mereka bersaudara disisi Tuhan. Mereka saling merelakan disisi Tuhan. Dan mereka mengajak umat manusia untuk tunduk patuh dan berserah diri hanya kepada-Nya. Hanya kepada-Nya saja.
Sekarang, saya juga mulai faham; mengapa orang-orang yang membaca dan mengerti isi buku sucinya bersedia tunduk kepada keputusan Tuhan. Karena buku suci menjelaskan segala hal yang mencakup kehidupan umat manusia. Didalamnya, ada peraturan Tuhan tentang tata cara berbisnis. Tentang cara berbicara. Tentang cara memperlakukan tetangga. Bayangkan, Tuhan mengatur tentang tetangga dalam buku sucinya. Tentang tanggungjawab pribadi bahwa; amalmu adalah untukmu, sedangkan amalku untukku. Tidak mungkin tertukar. Dalam buku suci itu ditegaskan bahwa setiap orang bertanggungjawab atas pilihan hidup yang diambilnya. Sehingga tidak relevan jika saya mencampuri keputusan orang lain lebih dari sekedar saling mengingatkan.
Jika Anda pernah membaca buku-buku saya, maka ijinkan saya untuk mengucapkan terimakasih. Namun, ijinkan pula saya untuk secara terbuka mengatakan kepada Anda bahwa; buku-buku saya itu tidak memiliki nilai apa-apa. Kebenaran yang ada didalamnya sangat nisbi alias lemah dan relatif. Jika Anda ingin membaca buku terbaik yang berisi sebenar-benarnya inspirasi; maka bukan buku saya pilihannya. Melainkan buku berisi firman yang Tuhan wahyukan kepada Nabi-Nabi sucinya. Itulah buku suci milik Tuhan. Buku yang bukan manusia pengarangnya. Anda, pasti memiliki buku suci seperti itu. Maka bacalah. Dan bagi saya pribadi, buku suci itu adalah Al-Qur’an.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Leadership & People Development Training
www.bukudadang.com dan www.dadangkadarusman.com
Jumat, 24 September 2010
berbagi cinta
Berbagi Cinta
Last Updated on Wednesday, 18 August 2010 04:05 Written by Administrator Wednesday, 18 August 2010 03:54
Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran Anda? Mungkin berbagi dana, berbagi pakaian layak pakai, sembako, susu, atau berbagi makanan ya. Semua jawaban mengandung materi.
Itu mungkin karena di kepala kita telah tertancap ide-ide materialistik yang sudah mengglobal. Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk materi.
Setiap tahun, ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survei untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.
Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu dengan seorang bocah bernama Nina.
“Nina, apa yang kamu mau sayang” begitu ayah saya membuka percakapan. “Nina mau baju baru..sepatu baru...tas baru atau apa Nak?” tambah ayah saya.
“Nggak ah… ntar Om marah” jawab Nina.
“Nggak sayang, Om nggak akan marah,” ayah saya menimpali.
”Nggak ah... ntar Om marah” Nina mengulang jawabannya. Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan ayah saya semakin menjadi. Maka dia dekati lagi Nina.
”Ayo Nak katakan apa yang kamu minta sayang”.
”Tapi janji ya Om tidak marah?” jawab Nina manja.
”Om janji tidak akan marah sayang,” tegas ayah saya.
”Bener Om nggak akan marah?” sahut Nina agak ragu. Ayah saya menganggukkan kepala
Nina menatap tajam wajah ayah saya. Sementara ayah saya berpikir. ‘Seberapa mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah’ pikir ayah saya. Sambil tersenyum Ayah mengatakan “ayo Nak, katakan, jangan takut, Om tidak akan marah Nak.”
”Bener ya Om nggak marah?,” ujar Nina sambil terus menatap wajah. Sekali lagi ayah saya menganggukkan kepala. Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya ”Mmmm, boleh tidak saya memanggil Om..dengan paggilan Ayah?”
Mendengar jawaban itu, Ayah tak kuasa membendung air matanya. Segera dia peluk Nina, ”tentu Anakku.. tentu Anakku...mulai hari ini Nina boleh memanggil Ayah, bukan Om”. Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata ”terima kasih ayah... terima kasih ayah..”.
Hari itu, adalah hari yang takkan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang Ayah bertanya lagi pada Nina, ”anakku, sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu, apa yang kamu minta nak?”
”Kan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil Ayah,” jawab Nina.
”Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau yang lain, pasti akan Ayah kasih.”
”Nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, aku minta Ayah bawa foto bareng yang ada Ayah, Ibu dan kakak-kakak Nina, boleh kan Ayah?” Nina memohon sambil memegang tangan Ayah.
Tiba-tiba kaki Ayah lunglai. Dia berlutut di depan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil bertanya, ”buat apa foto itu Nak?”
“Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak Nina.” Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah tak mau berpisah dengan gadis kecil yang menjadi guru kehidupannya di hari itu.
Terima kasih Nina. Meski usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi cinta. Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta, maka kehidupan kita akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan kita di dunia.
Disadur dari buku : Menyemai Impian, Menggapai Sukses Mulia, Jamil Azzaini. Gramedia.
Last Updated on Wednesday, 18 August 2010 04:05 Written by Administrator Wednesday, 18 August 2010 03:54
Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran Anda? Mungkin berbagi dana, berbagi pakaian layak pakai, sembako, susu, atau berbagi makanan ya. Semua jawaban mengandung materi.
Itu mungkin karena di kepala kita telah tertancap ide-ide materialistik yang sudah mengglobal. Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk materi.
Setiap tahun, ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survei untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.
Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu dengan seorang bocah bernama Nina.
“Nina, apa yang kamu mau sayang” begitu ayah saya membuka percakapan. “Nina mau baju baru..sepatu baru...tas baru atau apa Nak?” tambah ayah saya.
“Nggak ah… ntar Om marah” jawab Nina.
“Nggak sayang, Om nggak akan marah,” ayah saya menimpali.
”Nggak ah... ntar Om marah” Nina mengulang jawabannya. Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan ayah saya semakin menjadi. Maka dia dekati lagi Nina.
”Ayo Nak katakan apa yang kamu minta sayang”.
”Tapi janji ya Om tidak marah?” jawab Nina manja.
”Om janji tidak akan marah sayang,” tegas ayah saya.
”Bener Om nggak akan marah?” sahut Nina agak ragu. Ayah saya menganggukkan kepala
Nina menatap tajam wajah ayah saya. Sementara ayah saya berpikir. ‘Seberapa mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah’ pikir ayah saya. Sambil tersenyum Ayah mengatakan “ayo Nak, katakan, jangan takut, Om tidak akan marah Nak.”
”Bener ya Om nggak marah?,” ujar Nina sambil terus menatap wajah. Sekali lagi ayah saya menganggukkan kepala. Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya ”Mmmm, boleh tidak saya memanggil Om..dengan paggilan Ayah?”
Mendengar jawaban itu, Ayah tak kuasa membendung air matanya. Segera dia peluk Nina, ”tentu Anakku.. tentu Anakku...mulai hari ini Nina boleh memanggil Ayah, bukan Om”. Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata ”terima kasih ayah... terima kasih ayah..”.
Hari itu, adalah hari yang takkan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang Ayah bertanya lagi pada Nina, ”anakku, sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu, apa yang kamu minta nak?”
”Kan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil Ayah,” jawab Nina.
”Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau yang lain, pasti akan Ayah kasih.”
”Nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, aku minta Ayah bawa foto bareng yang ada Ayah, Ibu dan kakak-kakak Nina, boleh kan Ayah?” Nina memohon sambil memegang tangan Ayah.
Tiba-tiba kaki Ayah lunglai. Dia berlutut di depan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil bertanya, ”buat apa foto itu Nak?”
“Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak Nina.” Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah tak mau berpisah dengan gadis kecil yang menjadi guru kehidupannya di hari itu.
Terima kasih Nina. Meski usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi cinta. Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta, maka kehidupan kita akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan kita di dunia.
Disadur dari buku : Menyemai Impian, Menggapai Sukses Mulia, Jamil Azzaini. Gramedia.
fatimah wanita teladan
Fatimah Az Zahra’
Nama lengkapnya adalah Fatimah binti Muhammad bin Abdullah bin abu Muthalib. la lahir lima tahun sebelum masa diutusnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. la merupakan putri termuda di antara putri-putri Nabi lainnya. la menikah dengan Ali Ra pada usianya yang ke 18 tahun. la merupakan ibu dari Hasan, Husain, Ummul Kultsum, dan Zaenab.
Ketika turun kepada Nabi sebuah ayat (dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya) di rumah Ummu Kultsum, maka Nabi memanggil Fatimah, Hasan dan Husain, dan menjadikan mereka sebagai pengikut, begitu pula Ali yang berada di belakang Nabi juga dijadikan sebagai pengikutnya pula. Maka berkatalah Nabi “Ya Allah! Mereka semua ini adalah keluargaku. Hilangkanlah dari mereka segala kotoran, dan bersihkanlah (sucikanlah) sebersih-bersihnya”. (Diriwayatkan oleh Turmudzi)
Miswar bin Makhramah berkata: aku mendengar Rasulullah Saw berkata di atas mimbar “bahwasanya Hisyam bin al Mughoyyaroh meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak menyetujuinya, dan selanjutnya pun juga tetap tidak menyetujuinya. Kecuali jika Ali bin Abi Thalib bersedia menceraikan anak perempuanku dan menikah dengan anak-anak mereka. Sesungguhnya anak perempuanku itu (Fatimah Az-Zahra’) adalah bagian dariku.. ….”(HR Bukhari)
Berkatalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa wanita paling mulia di surga nanti adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, istri Firaun yang bernama Asyiah binti Muzakhim, dan Maryam binti Imran. (HR Ahmad)
Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata “Aku bertemu dengan Fatimah. la berjalan sebagaimana layaknya Nabi berjalan. Dan di saat ia bertemu dengan Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam, berkatalah Nabi “selamat datang wahai putriku”, lalu nabi memintanya duduk di sebelah kanan atau kirinya. Kemudian di saat nabi mengatakan sesuatu kepadanya, menangislah ia. Maka aku langsung berkata kepadanya “kenapa kamu menangis?” Namun, di saat nabi mengatakan sesuatu lagi kepada Fatimah, maka ia pun tertawa riang. Sekali lagi, aku pun berkata kepada Fatimah “aku tidak pernah menjumpai kebahagiaan yang berdekatan dengan kesedihan sebagai mana hari ini” Maka aku bertanya kepadanya tentang apa yang telah dikatakan Nabi kepadanya. Berkatalah Fatimah “kamu jangan menyebarluaskan rahasia ini hingga Nabi wafat nanti.” Lalu aku menanyakan rahasia itu, maka berkatalah Fatimah” Nabi telah memberi isyarat kepadaku, dan berkata bahwa Jibril biasanya meminta kepadaku (Nabi) untuk membaca al-Qur’an secara langsung di hadapannya sekali dalam setahun. Namun pada tahun ini, Jibril memintaku (Nabi) sebanyak dua kali”, maka menangislah aku mendengar perkataan itu. Sebab, itu tandanya Nabi akan meninggalkan kita semua. Namun aku merasa sangat bahagia di saat Nabi berkata kepadaku “relakanlah dirimu menjadi ratu wanita-wanita penghuni surga, atau menjadi ratu wanita-wanita muslim.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
Anas Ra berkata “di saat sakit Nabi mulai parah dan berselimut, berkatalah Fatimah “sakitkah wahai ayah?” Maka berkatalah Nabi kepadanya” ayahmu tidak akan mengalami kesusahan setelah hari ini.” Dan ketika Nabi wafat, berkatalah Fatimah “wahai ayah, Tuhan telah mengabulkan permohonanmu. Wahai ayah, surga firdaus adalah tempat kembalimu. Wahai ayah, Jibril lah yang akan memperhatikanmu.
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha Ummul Mukminin (ibunya kaum beriman), berkata “aku tidak pernah melihat seorang pun yang mampu menyamai Fatimah dalam hal keserupaannya dengan Nabi. Ketenangan dan keistiqamahannya dalam duduk maupun berdiri sebagaimana ketenangan dan keistiqamahan Nabi. la di saat masuk ke rumah Nabi, Nabi langsung berdiri menyambut kedatangannya. Begitu pula di saat Nabi mengunjungi rumah Fatimah, ia pun beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut Nabi, dan memberikan tempat duduknya kepada Nabi.” (Diriwayatkan oleh Turmudzi).
Ibnul Jauzi berkata “bahwa Rasulullah mempunyai anak perempuan yang dimuliakan oleh Fatimah, dan mempunyai istri-istri yang lebih dahulu dari Aisyah.”
Fatimah meninggal dunia 6 bulan setelah kematian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. la meninggal dunia dalam usianya yang ke 29 tahun.
Nama lengkapnya adalah Fatimah binti Muhammad bin Abdullah bin abu Muthalib. la lahir lima tahun sebelum masa diutusnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. la merupakan putri termuda di antara putri-putri Nabi lainnya. la menikah dengan Ali Ra pada usianya yang ke 18 tahun. la merupakan ibu dari Hasan, Husain, Ummul Kultsum, dan Zaenab.
Ketika turun kepada Nabi sebuah ayat (dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya) di rumah Ummu Kultsum, maka Nabi memanggil Fatimah, Hasan dan Husain, dan menjadikan mereka sebagai pengikut, begitu pula Ali yang berada di belakang Nabi juga dijadikan sebagai pengikutnya pula. Maka berkatalah Nabi “Ya Allah! Mereka semua ini adalah keluargaku. Hilangkanlah dari mereka segala kotoran, dan bersihkanlah (sucikanlah) sebersih-bersihnya”. (Diriwayatkan oleh Turmudzi)
Miswar bin Makhramah berkata: aku mendengar Rasulullah Saw berkata di atas mimbar “bahwasanya Hisyam bin al Mughoyyaroh meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak menyetujuinya, dan selanjutnya pun juga tetap tidak menyetujuinya. Kecuali jika Ali bin Abi Thalib bersedia menceraikan anak perempuanku dan menikah dengan anak-anak mereka. Sesungguhnya anak perempuanku itu (Fatimah Az-Zahra’) adalah bagian dariku.. ….”(HR Bukhari)
Berkatalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa wanita paling mulia di surga nanti adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, istri Firaun yang bernama Asyiah binti Muzakhim, dan Maryam binti Imran. (HR Ahmad)
Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata “Aku bertemu dengan Fatimah. la berjalan sebagaimana layaknya Nabi berjalan. Dan di saat ia bertemu dengan Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam, berkatalah Nabi “selamat datang wahai putriku”, lalu nabi memintanya duduk di sebelah kanan atau kirinya. Kemudian di saat nabi mengatakan sesuatu kepadanya, menangislah ia. Maka aku langsung berkata kepadanya “kenapa kamu menangis?” Namun, di saat nabi mengatakan sesuatu lagi kepada Fatimah, maka ia pun tertawa riang. Sekali lagi, aku pun berkata kepada Fatimah “aku tidak pernah menjumpai kebahagiaan yang berdekatan dengan kesedihan sebagai mana hari ini” Maka aku bertanya kepadanya tentang apa yang telah dikatakan Nabi kepadanya. Berkatalah Fatimah “kamu jangan menyebarluaskan rahasia ini hingga Nabi wafat nanti.” Lalu aku menanyakan rahasia itu, maka berkatalah Fatimah” Nabi telah memberi isyarat kepadaku, dan berkata bahwa Jibril biasanya meminta kepadaku (Nabi) untuk membaca al-Qur’an secara langsung di hadapannya sekali dalam setahun. Namun pada tahun ini, Jibril memintaku (Nabi) sebanyak dua kali”, maka menangislah aku mendengar perkataan itu. Sebab, itu tandanya Nabi akan meninggalkan kita semua. Namun aku merasa sangat bahagia di saat Nabi berkata kepadaku “relakanlah dirimu menjadi ratu wanita-wanita penghuni surga, atau menjadi ratu wanita-wanita muslim.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
Anas Ra berkata “di saat sakit Nabi mulai parah dan berselimut, berkatalah Fatimah “sakitkah wahai ayah?” Maka berkatalah Nabi kepadanya” ayahmu tidak akan mengalami kesusahan setelah hari ini.” Dan ketika Nabi wafat, berkatalah Fatimah “wahai ayah, Tuhan telah mengabulkan permohonanmu. Wahai ayah, surga firdaus adalah tempat kembalimu. Wahai ayah, Jibril lah yang akan memperhatikanmu.
Dari Aisyah Radhiyallahu Anha Ummul Mukminin (ibunya kaum beriman), berkata “aku tidak pernah melihat seorang pun yang mampu menyamai Fatimah dalam hal keserupaannya dengan Nabi. Ketenangan dan keistiqamahannya dalam duduk maupun berdiri sebagaimana ketenangan dan keistiqamahan Nabi. la di saat masuk ke rumah Nabi, Nabi langsung berdiri menyambut kedatangannya. Begitu pula di saat Nabi mengunjungi rumah Fatimah, ia pun beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut Nabi, dan memberikan tempat duduknya kepada Nabi.” (Diriwayatkan oleh Turmudzi).
Ibnul Jauzi berkata “bahwa Rasulullah mempunyai anak perempuan yang dimuliakan oleh Fatimah, dan mempunyai istri-istri yang lebih dahulu dari Aisyah.”
Fatimah meninggal dunia 6 bulan setelah kematian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. la meninggal dunia dalam usianya yang ke 29 tahun.
Kamis, 23 September 2010
wanita pencerah
Al Khansa’
Ia adalah binti Umar bin Kharis bin Syarit. la masuk Islam di saat mendatangi Nabi bersama dengan Bani Syulaim. Semua pakar keilmuan telah sepakat bahwa tak ada seorang wanita pun, baik sebelum Khansa’ maupun sesudahnya, yang dapat menandingi kepiawaiannya dan bersyair. Ia dinobatkan sebagai penyair paling mahir di Arab secara mutlak.
Dan setelah ia masuk Islam, ia pun berujar “dulu aku menangisi kehidupanku, namun sekarang, aku menangis karena takut akan siksa neraka.” Keempat anaknya pernah diberi hadiah oleh Umar bin Khathab, masing-masing dari mereka sebanyak 400 dirham.
Al Khansa’ terlibat pula dalam sebuah perang suci bersama ke empat anak laki-lakinya. la berkata kepada mereka “wahai anak-anakku! Kalian semua masuk Islam secara taat, tanpa ada tekanan dari siapapun. Kalian sendiri yang telah memilih hijrah. Demi Allah yang tak ada lagi Tuhan selain-Nya, kalian semua adalah laki-laki yang berasal dari satu wanita. Jangan kamu permalukan ayah, bibi, saudara, dan garis keturunanmu. Kalian semua telah mengetahui betapa besar pahala yang akan diberikan Allah kepada orang-orang yang memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah kalian semua! Bahwa kehidupan akhirat lebih utama daripada kehidupan dunia.
Allah Subhanahu wa Taala Berfirman “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (AH Imran: 200), dan insya Allah kalian semua akan menyambut pagi dengan , selamat. Dan pada saat menjelang siang, berangkatlah kalian memerangi orang-orang kafir dengan penuh kecermatan. Allah akan selalu menjadikan musuh-musuhnya itu sebagai kaum yang kalah. Dan apabila kalian semua melihat peperangan telah berkecamuk, hadapilah dengan penuh semangat dan kelapangan hati.”
Berangkatlah anak-anak Al Khansa’ menuju medan perang dengan memegang teguh nasihat-nasihat dari ibunya. Mereka semua akhirnya mati terbunuh dalam peperangan itu. Namun, itu tak menjadikan Al Khansa’ merasa sedih. Mendengar kabar ten tang kematian anak-anaknya di medan perang, ia malah bersyukur kepada Allah. la berkata “segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan cara mematikan anak-anakku dalam keadaan syahid. Aku memohon kepada Allah agar bersedia menyatukanku kembali dengan anak-anakku di surga nanti.
Al Khansa’ meninggal dunia pada tahun 24 Hijriyah.(dakwatuna)
Ia adalah binti Umar bin Kharis bin Syarit. la masuk Islam di saat mendatangi Nabi bersama dengan Bani Syulaim. Semua pakar keilmuan telah sepakat bahwa tak ada seorang wanita pun, baik sebelum Khansa’ maupun sesudahnya, yang dapat menandingi kepiawaiannya dan bersyair. Ia dinobatkan sebagai penyair paling mahir di Arab secara mutlak.
Dan setelah ia masuk Islam, ia pun berujar “dulu aku menangisi kehidupanku, namun sekarang, aku menangis karena takut akan siksa neraka.” Keempat anaknya pernah diberi hadiah oleh Umar bin Khathab, masing-masing dari mereka sebanyak 400 dirham.
Al Khansa’ terlibat pula dalam sebuah perang suci bersama ke empat anak laki-lakinya. la berkata kepada mereka “wahai anak-anakku! Kalian semua masuk Islam secara taat, tanpa ada tekanan dari siapapun. Kalian sendiri yang telah memilih hijrah. Demi Allah yang tak ada lagi Tuhan selain-Nya, kalian semua adalah laki-laki yang berasal dari satu wanita. Jangan kamu permalukan ayah, bibi, saudara, dan garis keturunanmu. Kalian semua telah mengetahui betapa besar pahala yang akan diberikan Allah kepada orang-orang yang memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah kalian semua! Bahwa kehidupan akhirat lebih utama daripada kehidupan dunia.
Allah Subhanahu wa Taala Berfirman “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (AH Imran: 200), dan insya Allah kalian semua akan menyambut pagi dengan , selamat. Dan pada saat menjelang siang, berangkatlah kalian memerangi orang-orang kafir dengan penuh kecermatan. Allah akan selalu menjadikan musuh-musuhnya itu sebagai kaum yang kalah. Dan apabila kalian semua melihat peperangan telah berkecamuk, hadapilah dengan penuh semangat dan kelapangan hati.”
Berangkatlah anak-anak Al Khansa’ menuju medan perang dengan memegang teguh nasihat-nasihat dari ibunya. Mereka semua akhirnya mati terbunuh dalam peperangan itu. Namun, itu tak menjadikan Al Khansa’ merasa sedih. Mendengar kabar ten tang kematian anak-anaknya di medan perang, ia malah bersyukur kepada Allah. la berkata “segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan cara mematikan anak-anakku dalam keadaan syahid. Aku memohon kepada Allah agar bersedia menyatukanku kembali dengan anak-anakku di surga nanti.
Al Khansa’ meninggal dunia pada tahun 24 Hijriyah.(dakwatuna)
Langganan:
Postingan (Atom)