Selasa, 24 Agustus 2010

pengendalian diri dalam emosi

PENJURU PENGENDALIAN DIRI DALAM EMOSI
Penjuru pengendalian diri, dimulai kemampuan manusia memandang hidup yang sementara ini dibentuk oleh pikiran anda sendiri sehingga dengan kekuatan pikiran, maka manusia akan berusaha memanfaat alat pikiran berupa kesadaran, kecerdasan dan akal sebagai kekuatan untuk membentuk kebiasaan pikiran dalam mendalami hal-hal yang terkait dengan apa yang disebut dengan penjuru pertama masalah ketaatan, kedua masalah kemaksiatan, ketiga masalah sifat yang merusakkan, keempat masalah sifat yang menyelamatkan. Secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut :
Penjuru pertama „Ketaatan“
artinya dengan keyakinan dan kepercayaan, maka manusia harus mampu mendalami makna OTAK (Orang, Tawakal, Amanah, Kerja) untuk mewujudkan makna „ketaatan“ dalam hidup ini. Dengan kekuatan pikiran melalui pendekatan 7M, ia mendalami makna seperti ORANG (Organ, Roh, Akal, Nafsu, Golongan).
Jadi dengan merenungkan, bagaimana dapat dipercepatnya mendalami makna seperti ORGAN dalam tubuh manusia yang utuh dan merenungkan makna amalan lahir dan bathin diharapkan menjadi penuntun dalam usaha untuk mewujudkan pengendalian diri dalam emosi.
Penjuru kedua „Kemaksiatan“
artinya peran organ tubuh mata, telinga, lisan, kemaluan, perut, tangan dan kaki, kemudian seluruh tubunya, maka sebagai manusia yang hidup mulai sejak terbitnya matahari sampai terbenamnya, dimana dalam menjalani hidup ini tidak mungkin tanpa dapat mendalami makna pemanfaatan organ tubuh tersebut sehingga perlu mendalaminya dengan menggerakkan kekuatan pikiran dalam melaksanakan pengendalian diri untuk menghindari dari kemaksiatan yang sejalan dengan keyakainan dan kepercayaan yang dianutnya.
Jadi dengan kebiasaan pikiran yang digerakkan dalam kekuatan berpikir yang positif diharapkan manusia menempuh jalan hidup yang penuh dengan tantangan yang harus dipahami dalam mnjalani hi
Penjuru ketiga „Sifat merusakan“
Artinya dengan kekuatan kebiasaan pikiran manusia dapat tertuntun kedalam sikap dan perilaku untuk tidak melakukan sifat-sifat yang dapat merusakkan sebagai akibat dorongan dari ketidak kemampuan atas pengendalian diri dari 1) nafsu yang bersifat materialistik ; 2) marah, kesombongan yang dibakar oleh setan ; 3) kesadran inderawi karena kesenangan dunia ; 4) tantangan menghadapi hawa nafsu ; 5) nafsu seksualitas ; 6) riya’, dengki, kikir dsb.
Jadi dengan kemampuan pengendalian diri dalam emosi, manusia harus mampu memanfaatkan kekuatan pikiran dapat melaksanakan 7M sebagai alat menggerakkan kekuatan pikiran untuk mendalami apa bentuk penyakit jiwa yang mempengaruhi kebersihan hati.
Penjuru keempat „Sifat menyelamatkan“
Artinya dengan kekuatan kebiasaan pikiran yang dilandasi kebiasaan berpikir positif dalam menempuh hidup, maka kekuatan yang dapat menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat itu memahmai makna „HIDUP“ sebagai suatu pendekatan artinya memiliki kemampuan untuk bersikap dan berperilaku dalam makna apa yang disebut dalam makna (H)ijrah, (I)nsyaf, (D)urhaka, (U)saha, (P)ahala.
Jadi dari ungkapa kata tersebut, maka sifat-sifat menyelamatkan akan sangat ditentukan oleh kekuatan kebiasaan pikiran dalam bertaubat, bersyukur, ikhlas dan sebagainya sebagai suatu kekuatan dari amalan batin.
PENJURU KECERDASAN DALAM EMOSI
Kecerdasan merupakan alat pikir dan merupakan salah satu unsur jiwa yang menggerakkan kekuatan pikiran dimana kesadran menyadarkan tentang apa-apa, namun kecerdasan melaporkan kepada kita keadaan perkara dan hubungan-hubungannya.
Oleh karena itu, kecerdasan dalam emosi merupakan daya dorong pikiran orang berpikir untuk menangkap fakta dan informasi untuk mengingatkan masalah yang kita hadapi atau dengan kata lain seberapa besar resiko yang dihadapinya, tapi laporan itu akan menjadi penting bila kita dapat mencari jawaban untuk menghindarkan atau menumpasnya.
Sejala dengan pemikiran diatas, maka keempat punjuru kecerdasan dalam emosi yang kita sebut dengan 1) sensitivitas kecerdasan dalam emosi ; 2) adaptif kecerdasan dalam emosi ; 3) keharmonisan kecerdasan dalam emosi ; 4) persfektif kecerdasan dalam emosi. Selanjutanya dapat kita uraian secara singkat sebagai berikut :
Penjuru pertama „Sensitivitas kecerdasan dalam emosi“
Artinya dengan kekuatan kebiasaan pikiran untuk mendorong wujud dari sensitivitas kecerdasan dalam emosi memberikan daya dorong yang kuat pada rasa tanggung jawab, kejujuran, energi, intuisi, umpan balik.
Penjuru kedua „Adaptif kecerdasan dalam emosi“
Artinya dengan kekuatan kebiasaan pikiran untuk mendorong wujud dari kemampuan untuk menyesuaikan yang tidak bertolak dari kekuatan pikiran yang bersifat reaktif melaikan bersifat proaktif, dengan demikian anda memliki untuk mendengarkan, mengelola konflik, mengatasi kekecewaan dengan cara yang mampu menyesuaikan dengan perubahan yang positif.
Penjuru ketiga “Keharmonisan kecerdasan dalam emosi”
Artinya dengan kekuatan kebiasaan pikiran untuk mendorong wujud dari kemampuan menyelaraskan pikiran, kerja dan belajar yang sesuai dengan potensi dan bakat yang dimiliki oleh anda dengan ketulusan dan kesetiaan
Penjuru keempat “Persfektif kecerdasan dalam emosi”
Artinya dengan kekuatan kebiasaan pikiran untuk mendorong wujud dari kemampuan mengaktualsasikan wawasan intuisi dan imajinasi menjadi suatu kekuatan kreatifitas menjadi inovasi sehinga mampu mencari solusi dalam pemecahan masalah dan merebut peluang-peluang di masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar